Melodi Mimpi

Aku mendekat padanya. Duduk tepat di sisinya, matanya menerawang. Menjauh, menembus kedalaman atmosfir bumi. Berkelana hingga ke tempat yang tidak pernah kukenal namanya. Dia merenung, tidak berucap sepatah katapun.

Hingga ketika aku menggenggam tangannya.

Dalam sentuhan yang nyata. Kelembutan yang sejuk, meski terlalu dingin dan rapuh. Getaran yang sama. Aku lupa…

Ada kehidupan dalam tangan mungilnya. Yang tidak pernah kurasakan dalam mimpiku.

Mimpi yang sederhana, namun menenggelamkanku.

OooooO

Yuri POV

Aku menahan nafasku selama beberapa menit. Ada rasa sesak yang menggumpal di dalam dadaku, seperti menghentak lelapku hanya dalam sekejapan. Keringat dingin membasahi tubuhku. Meresapi keheningan malam yang berdengung di telinga. Rasanya, menakutkan.

Aku takut.

Mimpi yang sama kembali terulang.

Wajah yang asing. Kejadian yang janggal.

Aroma rumah sakit yang terasa nyata terhirup olehku. Suara itu, seperti terdengar jelas dalam memori otakku. Lantunan lagu yang tidak pernah kumainkan. Entah mengapa, selalu terulang hampir setiap malam. Mimpi ini menakutkan. Menakutkan karena aku tidak pernah mengalaminya sebelumnya.

Tokoh-tokoh imajinasi yang melayang-layang dalam ruang tidurku. Mengapa mereka ada? Bisakah aku menciptakan mimpiku? Mengapa aku bertemu?

Wajah pucat itu akan menatapku, memelas untuk sebuah melodi yang tidak kuketahui. Matanya nanar, tirus, dan pucat. Rambutnya kelam, dan tatapannya selalu terlihat dalam. terlalu dalam hingga menghantui hariku.

Siapa dia..

OoooooO

Koridor sekolah terdengar begitu riuh. Aku melihat beberapa siswa-siswi tengah bercanda riang. Mengabaikanku yang tengah menyeret langkah mencari-cari dimana keberadaan lokerku. Hari masih begitu pagi, namun mereka terlihat sangat bersemangat. Aku tidak pernah tidur selama ini. dua jam, dan aku akan terbangun karena sebuah mimpi aneh yang sama. Setiap harinya. Menenggak segelas air putih dan terjaga sepanjang malam menatap langit-langit kamarku, dalam keremangan suasana. Berpikir keras, dan tidak pernah mendapat secuilpun jawabannya.

Seperti hari-hari biasanya, aku berjalan gontai, membuka lokerku dan mengambil beberapa buku yang kuperlukan untuk jam pelajaran berikutnya.

Ada yang sedikit aneh hari ini.

Kertas merah muda itu, tergeletak begitu saja, lusuh dalam himpitan buku-buku biologi dan matematika di dalam loker. Aku meraih kertas itu perlahan, merasakan ada sebuah benda yang tergeser, menimbulkan bunyi yang tertangkap telingaku dengan mudah.

Cincin.

Sebuah cincin.

Detik melesat dalam hidupku. Begitu cepat, hingga tanpa kusadari aku melewatkan waktu-waktu berharga bersamamu.

Aku mengernyitkan keningku. Menoleh ke sekelilingku dan tidak menemukan sedikitpun kejanggalan. Tidak ada seorangpun yang tengah menatapku. Semua terlihat menikmati hari-hari mereka, bercanda, melempar bola kesana kemari. Tidak seorangpun yang terlihat memperdulikanku. Aku meraih kertas itu dan mengendus aromanya.

Perutku serasa teraduk ketika menghirup aroma obat-obatan yang terasa begitu menyengat. Harum rumah sakit.  Sungguh terasa.

Aku meremas kertas merah muda itu dan melemparnya ke dalam tempat sampah yang berjarak tidak jauh dariku. Meletakan cincin itu begitu saja di dalam loker. Mengambil beberapa buku yang kuperlukan, dan segera mengunci lokerku.

Ada rasa yang aneh melihat benda itu.

Sesak,

Seperti ingatanku tengah menggembara ke suatu tempat. Ruang imajinasi yang tak pernah tersentuh olehku. Melecutku dengan berbagai perasaan baru. Haru, riang, dan takut. ketakutan yang muncul pada saat bersamaan. Tanpa sadar aku menyentuh dadaku, iramanya tetap sama. Hanya ada kesakitan luar biasa di dalam sana. Luar biasa.

Mengabaikan rasa-rasa yang bermunculan secara tiba-tiba itu. aku berusaha bersikap biasa, dan berjalan memasuki kelas, seiring dering bel masuk sekolah.

OoooooO

“Anda mencari ruang nomor berapa, Nona?”

“105”

“Ehm, ada di lantai 3, di koridor sebelah kiri. Silahkan.”

“Terima kasih.”

Aku memberikan senyuman terbaikku. Membawa sebuah gitar di punggungku, dan berjalan mengikuti arah yang telah diinstruksikan olehnya.

105, koridor sebelah kiri.

Mengetuk pintu itu perlahan, dan segera membukanya dalam satu hentakan kecil, begitu perlahan, hingga tidak menimbulkan suara yang cukup riuh untuk mengganggunya.

Gadis itu, berambut kelam. Menyambutku dengan senyuman. Suaranya halus, lembut, dan berkharisma pada saat yang bersamaan, memberikanku rasa tenang ketika mendengarnya. Suara yang selalu kurindukan entah mengapa.

“Kau datang lagi?”

“Tentu saja..”

Aku tersenyum. Dan menutup pintu itu. mengabaikan suara-suara mesin yang berdengung menyebalkan. Kembali tenggelam dalam detik kebersamaanku dengannya.

OoooooO

“Sial!”

Sial.

Mimpi itu lagi.

Aku menjambak rambutku frustasi, rasanya ada hal yang begitu ganjil dalam hidupku. Teka-teki yang tidak dapat kupecahkan.  Yang menggelitik rasa ingin tahuku. Melodi apa itu. aku tidak pernah mendengarnya. Bodoh. Kenapa aku selalu memimpikannya?

Menghela nafas, berusaha meredakan rasa amarah yang menggelitik dadaku dalam satu hentakan panjang. Beranjak bangkit dari tempat tidurku dan meracik segelas kopi untuk kembali menemaniku malam ini. Duduk termenung. Seluruh lampu telah dimatikan, kebiasaan keluargaku yang sedikit mengganggu. Aku takut akan kegelapan.

Menyesap kopi itu sedikit, dan merasakan hangat yang menyelimuti tenggorokanku.

Mataku menangkap sebuah gitar tua yang teronggok begitu saja di pojok ruangan. Pemberian dari pamanku yang tidak pernah kusentuh sebelumnya. Aku dapat memainkan alat musik ini, hanya saja tidak ada keinginan yang begitu besar untuk terus menyentuhnya. Memainkan alat musik sangat membosankan untukku.

Ada yang berbeda malam ini. keinginanku begitu besar untuk memainkan gitar tua itu. Dalam sekejap aku telah memeluk gitar itu. menekankan jariku di atas senar-senarnya, membenarkan nada-nada itu menjadi harmoni yang tepat. Aku tersenyum dan mulai memainkan beberapa lagu yang terlintas begitu saja di otakku.

Melodi asing itu.

Yang begitu lekat dalam ingatanku.

Dapatkah aku merealisasikannya?

Dalam heningnya malam, imajinasiku menggembara. Jauh kedalam alam bawah sadarku. Mengeruk memori-memori mimpi yang mengendap di sana. Mencari melodi itu dalam tumpukan ingatan, memejamkan mata dan berusaha berkonsentrasi. Mencari chord-chord tepat yang melayang-layang dalam otakku. Memadukan melodi-melodi yang sesuai.

Aku mencoba.

Menemukan bagian-bagian yang hilang. Jam demi jam berlalu, kini aku tenggelam dalam serakan kertas-kertas nada di atas kasur tidurku. Menulis sekecil apapun melodi yang kutemukan. Dan aku kembali kehilangan sesuatu. Ada bagian yang hilang di dalam sana. Seperti kekosongan dalam otakku. Tidak dapat menemukannya.

Pukul 4.50

Aku meletakan gitarku di ujung ruangan. Tertidur dengan kertas-kertas yang berserakan itu. memejamkan mata, dan kembali mengarungi alam mimpiku. Aku akan menemukan nada yang hilang itu. aku akan menangkap nada yang hilang itu di dalam memoriku.

OoooooO

“Bagaimana harimu?”

Matanya menyipit membentuk senyuman yang seringkali membuncahkan hatiku. Aku menggenggam tangannya yang kian ringkih. Mengecup punggung tangannya dengan lembut, membiarkannya merasakan kasih sayang itu.

“Semangkuk bubur ikan, ehng, dan kau tahu, gelas susu yang sangat besar. Selalu membuatku mual..”

Aku tertawa kecil mendengar pernyataan polosnya.

“Kenapa kau selalu datang kesini menemuiku?”

Wajahnya tirus, matanya hitam kelam, tubuhnya kian kurus di atas kasur sialan ini. aku membelai wajahnya lembut, menjumput beberapa helai rambutnya kemudian melepaskannya kembali. Menatap matanya. “Karena jika tidak, kau akan menggangguku melalui mimpi.”

Gadis itu memukul tanganku. “Kau pikir aku cenayang?”

“Kau terlihat seperti cenayang untukku, Nona.”

“Aku bahkan tidak tahu, pernah mengenal orang sepertimu.”

Aku tertawa kecil, “Aku sangat populer di sekolah. Kau tahu itu..”

Gadis itu merajuk kesal dan memalingkan wajahnya. Menatap keluar jendela. Daun-daun berguguran, langit yang jingga, dan isakannya yang bisu. Aku menghapus air mata itu dari wajahnya. Tidak perlu bertanya banyak untuk tangisan itu. hanya membuat hatiku semakin sesak. Kurasa diam adalah jawaban terbaik sore ini.

“Apa kau akan melanjutkan hidpumu, tanpaku?” tanyanya lirih.

Kembali menggenggam tangannya. Aku tidak pernah menjawab pertanyaan itu.

Tidak akan pernah..

OooooooO

Bergeming.

Terdiam di depan lokerku. Setelah tidak tertidur semalaman aku kembali dikejutkan oleh selembar kertas lusuh yang berbau sama. Tulisan tangan yang tak beraturan, seperti ada jari-jari lentik yang gemetar memegang sebatang pensil kurus dalam genggamannya.

Mimpiku selalu sama. Tentangmu, dan kehadiranmu. Apa kau pernah memimpikanku?

Aku mencengkram kertas itu kuat-kuat dan melemparkannya dengan sedikit kasar. Kembali menyentuh dadaku yang terasa sesak. Suasana ini terasa begitu familiar namun asing pada saat yang bersamaan. Hanya menyisakan kejanggalan yang utuh dalam hatiku. Membuatnya kian rapuh.

Brengsek.

Siapa sebenarnya yang mengirimkan surat-surat ini?

Ada apa dengan otakku?

Seperti ada sebuah pertanyaan ganjil yang harus kupecahkan. Dalam dua tahun hidupku, aku menarik diriku dari dunia. Tenggelam dalam mimpi-mimpi semu itu. aku hampir hilang dalam duniaku sendiri. Hilang..

Ada yang harus kulakukan, benar-benar kulakukan untuk ini.

OoooooO

Suasana yang sedikit berbeda, terlalu pagi. Ganjil, seolah aku sedan g berada di dalam dunia mimpi yang berbeda. Namun kakiku kembali melangkah, menuju tempat yang sama. Bertanya kepada seorang suster yang sama, seolah-olah aku telah melupakan nomor kamar yang selalu disebutkan dalam setiap mimpiku.

“Dapatkah aku tahu dimana ruang Nona Jessica?”

Gadis muda itu terlihat mencari sesuatu dalam komputer kecilnya, secuil data untukku.

Ganjil. Sudah seharusnya aku menghafal nomor itu. dan aku terus saja mempertanyakan hal yang sama. Di ruang mana dia tengah terbaring kini.

“Dia telah dipindahkan kemarin malam..”

“Dipindahkan? Apa dia pulang?”

Mimpi ini sungguh berbeda.

Asing dalam ingatanku. Suasana yang aneh, pasien-pasien dan kerabat yang seolah menatapku dan hendak menelanku bulat-bulat. Begitu intens, hatiku sesak. Sesak oleh ketakutan yang berlebihan.

“Lantai 5.”

Aku meninggalkan suster muda itu tanpa mengucapkan apapun. Berlari secepat yang kumampu, menekan tombol lift berkali-kali untuk mengantarkanku ke dalam ruangan itu. Lift yang hening, menyisakan kehampaan dalam hatiku.

Mencari ruangan yang dimaksud, terjebak dalam koridor-koridor yang memberikanku berbagai pilihan. Aku tidak tahu kalau aku tengah menangis saat ini. rasa takut yang menyelimutiku, aku tidak pernah merasakannya seumur hidupku. Ketakutan akan sesuatu. Kehilangan yang abadi.

Aku menarik kerah seorang dokter yang tanpa sengaja berlalu di hadapanku.

“Jessica? Kau tahu pasien itu? beritahu aku dimana dia..” ujarku panik.

Dia menunjuk sebuah ruangan.

Ruangan di ujung lorong.

Papan kecil yang telah kukenal betul.

Kakiku melangkah perlahan. Menguatkan lututku yang terasa lemas.

Detik berlalu, rasanya bagaikan ribuan jam yang menusuk seluruh tubuhku dalam setiap menitnya. Aku tidak ingin sampai ke tempat itu. aku tidak ingin melihatnya..

Membuka knop itu perlahan. Menahan nafasku.

Dia tetap cantik.

Tetap cantik seperti dia yang selalu ada di dalam mimpiku. Meski terlihat sedikit pucat. Aku mendekatinya. Menggenggam tangannya yang kini kaku dan mendingin.

Apa aku akan melanjutkan hidupku tanpanya..

Apa aku bisa menjawabnya?

OooooooO

Aku merasakan air mata yang merembes membasahi seluruh wajahku. Aku terbangun, dalam kehampaan yang luar biasa menyakitkan. Termenung dalam keremangan kamarku. Tidak berpikir apapun. Hanya berusaha merasakan. Merasakan hal yang aneh malam ini. rasa kehilangan yang begitu mendalam, pada seorang gadis di dalam mimpiku.

Alas tidurku telah basah oleh air mata. Aku tersenyum, lebih menyerupai seringaian kecil. Senyum miris, aku merasa sangat bodoh. Sangat bodoh. Apa yang membuatku menangis sebenarnya..

Pukul 2.50

Mimpi ini begitu singkat, jauh berbeda dari malam biasanya. Ketika tanpa kusadari, aku telah menikmati kebersamaan-kebersamaan kecil itu bersamanya. Di dalam mimpiku, meski aku akan terbangun dan mengumpat sebisaku. Aku selalu ingin tertidur dan kembali bertemu dengannya. Aku merindukannya. Suaranya, lembut rambutnya yang hitam, aroma yang berbaur dari tubuhnya. Obat, mint, dan sedikit strawberry. Karakternya telah menelanku bulat-bulat dalam dunia imajinasi yang telah kuciptakan. Hanya satu hal yang sedikit mengherankan.

Aku tidak pernah mengenalnya, tidak pernah melihatnya. Dalam dunia nyataku.

Dia seseorang yang.. asing. Asing bagiku.

Meski dekat pada saat yang bersamaan. Begitu dekat dengan hatiku. Seperti telah merampas kesadaranku begitu saja. Mabuk dan hanyut dalam kasih sayangnya yang semu. Aku terjebak. Dalam dunia mimpiku sendiri.

Aku membuka lemariku dengan tangan yang sedikit gemetar. Masih terasa lembab oleh keringat dan air mata, aku mengambil lembaran partitur-partitur nada yang telah kubuat beberapa malam lalu. Menyelesaikan melodi-melodi yang akan melengkapi seluruh teka-teki ini.

OoooooO

Seoul hospital, datanglah, karena jam terus melayang, perlahan meninggalkanku.

Aku berdiri, menatap gedung pencakar langit ini dengan seksama. Meresapi sinar matahari yang mulai membakar kulitku. Aku berlari, mengabaikan kendaraan-kendaraan yang bising berlalu lalang. Meninggalkan kelas yang tengah berlangsung, detik aku membuka lokerku dan mendapati kertas itu. rumah sakit raksasa, yang berada tidak jauh dari sekolahku.

Dengan sedikit keraguan. Aku melangkah memasuki gedung itu.

“Anda mencari ruang nomor berapa, Nona?” seorang suster muda, yang tidak sama seperti dalam mimpiku menyapaku dengan senyuman yang terlihat dibuat-buat. Tentu saja, menangkap sorot kelelahan yang sangat dari wajahnya.

“Atas nama, Jessica?”

Aku menggigit bibirku, merasa sedikit khawatir. Aku tidak pernah mengetahui nama itu sebelumnya, sial. bahkan aku tidak tahu jika gadis itu sungguh nyata atau tidak. aku benar-benar bodoh telah melakukan ini. sial.

“Jessica? Nama lengkap?”

“Engh, Jessica…” aku berpikir sejenak. “…dapatkah kau mencari seseorang bernama Jessica untukku di rumah sakit ini?”

Aku meringis, merasa bersalah telah merepotkannya. Suster muda itu memaksakan seulas senyum sebelum berkutat dengan file-file di komputernya.

“Kamar 105..”

105. mimpi itu..

“Kau dapat mencarinya di…”

“Lantai tiga, koridor sebelah kiri.” Aku memotong kalimatnya, berucap cepat. Begitu yakin akan apa yang ada di  dalam mimpiku.

“Lantai dua.” Suster muda itu tersenyum kecil, seolah tengah menertawakanku dan kebodohanku. “Kau dapat mencarinya di sana..”

Aku mengangguk kecil, dan mengucapkan terima kasih padanya.

Berjalan gontai mencari lift. Bodoh. Ada berapa banyak gadis korea yang bernama Jessica? Bagaimana mungkin aku percaya begitu saja dengan mimpi-mimpi anehku setiap malam. Benar-benar ada yang salah dengan otakku.

Aku menertawakan diriku ketika menekan angka dua yang tertera di lift, menunggu beberapa menit hingga kotak besi itu mengantarkanku ke lantai yang kutuju. Yang tidak tahu apa sebenarnya tujuanku datang ke tempat ini. mengikuti instruksi bodoh di dalam lokerku? Oh yeah.

Aku mencari-cari kamar itu, sebelum menemukannya. Kursi-kursi tunggu berderet di sepanjang koridor yang kulewati, rasanya hening dan begitu sepi. Menyisakan keganjilan yang begitu berbeda. Tidak seperti di dalam mimpiku.

Menatap angka-angka yang terpahat dari kayu di luar pintu berwarna putih kusam. Melihat sekelilingku yang kosong, tidak ada satupun manusia yang terlihat berjalan di tempat ini. aku mengetuknya perlahan.

“Masuklah..”

Suara yang ringan. Tidak asing.

Aku memutar knop pintu itu, dan semakin mengernyit ketika harum rumah sakit benar-benar santar dari dalam ruangan itu. terpaan pendingin ruangan segera menyambutku, seorang gadis muda, berbaring, menatap keluar jendela. Jendela yang sama, seperti di dalam mimpiku.

Jarum-jarum mengerikan itu tertancap di tangannya. Dia menoleh, dan menatapku.

Apakah dia mengenalku?

Gadis di dalam mimpiku.

Wajah itu…

Aku menahan nafas. Seluruh teka-teki ini. apakah ini ujungnya? Pada akhirnya aku bertemu dengan gadis ini?

“Siapa kau?” tanyanya,

muram, dingin, tidak bernyawa.

OoooooO

“Bagaimana jika kegelapan menyelimutiku? Masihkah kau melihatku?”

Dia tersenyum kecil. Memainkan anak rambutku dalam belaian tangannya yang lembut. Aku menelusupkan wajahku di lehernya. Entahlah, aroma ini kian familiar dalam memoriku. Membuatku begini nyaman.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku tidak perlu melihatmu untuk mencintaimu..”

“Rayuanmu, hebat sekali.”

Aku tertawa dan mengacak-acak rambutnya. Mengecup keningnya, dan kembali bersamanya menatap keheningan malam melalui jendela kecil ini.

“Jangan pernah melupakanku..” bisiknya lembut di telingaku.

Begitu sulit mendapatkan harapan hanya dari kotak kecil di kamar ini. jendela tidak mampu membuatnya menatap cakrawala yang luas. Jessica yang selalu tersenyum dalam keterbatasannya.

“Aku tidak pernah. tidak akan pernah.” aku menggenggam tangannya. “Apa kau akan terus mengenalku meski puluhan abad berlalu?”

Jessica mendekatkan wajahnya dan menatapku seksama. “Ekspresi bodoh itu. aku akan selalu mengenalnya..”

OoooooO

Ini adalah hari kedua aku mengunjunginya di dalam ruangan ini. Tidak ada seorangpun yang terlihat pernah menemaninya, hanya setangkai bunga lili yang telah layu di atas meja. Tidak adakah seorangpun yang membawakannya bunga? Atau menjenguknya? Dimana keluarganya?

Aku menghentikan seluruh pertanyaanku ketika dia menoleh dan menatapku, dingin. Mungkin seperti hari yang lalu. Aku hanya akan duduk di sofa yang di sediakan khusus dalam ruang kelas satu ini. meringkuk kedinginan dan menahan nafas untuk menghilangkan rasa mual di dalam perutku mencium aroma obat-obatan ini.

Aku melakukannya. Meletakan tas sekolahku begitu saja di lantai dan duduk di kursi itu, menatapnya yang terus menatap keluar. Berusaha menembus jendela itu dan menghirup aroma taman, meresapi kebebasan.

“Apa kau ingin keluar dari tempat ini?” tanyaku sedikit sungkan.

“Sakit, dan orang-orang perlahan meninggalkanmu. Yang mereka lakukan hanyalah mengirimkan dana yang cukup untuk pengobatanku.”

Aku menelan seluruh kata-kata yang hendak kuucapkan kedalam tenggorokanku. Mendengarkan kalimat pertamanya yang terasa jauh lebih panjang dari biasanya.

“Keluargamu?”

Dia terdiam, mengalihkan pandangannya. Menatap keluar jendela. Hanya pemandangan yang tidak berubah sejak bertahun-tahun yang lalu kuduga. Tetap langit pagi yang sama, entahlah. Pergantian musim tidak terlihat seperti perubahan yang menakjubkan bagiku. Semua terasa sama saja. Berbagai pertanyaan kini tengah menari-nari di dalam benakku. Hanya terlalu takut bagiku untuk mengungkapkannya.

Gadis itu menoleh, menatapku, dengan begitu tajam. “Siapa kau?”

Aku tertawa bodoh, menggaruk kepalaku yang tidak terasa gatal. Aku tahu ini bodoh, sangat bodoh. Tidak mendapatkan respon sedikitpun dari wajahnya yang terasa kaku. Aku menghentikan tawaku yang hanya menyisakan keheningan panjang. Aku berdeham, berusaha meredakan suasana canggung ini.

“Kau bertanya hal yang sama kemarin..” jawabku muram. Duduk di atas sofa yang nyaman tanpa dipersilahkan.

Dia merenung. Tidak menjawab perkataanku. Entah ada apa dengan gadis ini, dia terlihat begitu murung di setiap waktunya. Menatap jendela, ataupun menatap jari-jarinya yang lentik dan pucat. Menatap wajahku adalah kejadian yang sungguh jarang dan janggal ketika dia melakukannya. Selalu tatapan tajam intens, seolah membunuh pada saat bersamaan.

“Dan kau tidak pernah menjawabnya..”

“Yuri, Kwon Yuri.” Aku menggerak-gerakan kakiku, menghilangkan rasa gugup yang tengah menelusup dalam hatiku, menghadapi gadis murung ini.

Wajah yang sama. Ruangan yang sama. Aroma yang sama. Kini kepingan itu terasa menyatu dalam hatiku. Hanya satu yang tidak sama. Sama sekali berbeda, gadis ini. gadis yang selalu terasa hangat di dalam genggamanku, kini terlihat membangun barikade perang yang begitu kuat. Yang begitu sulit bagiku untuk menembusnya.

Rasanya hampir sama seperti hari kemarin. Tidak ada percakapan yang begitu berarti, sore ini hanya kuhabiskan dengan bernyanyi-nyanyi kecil dan menatap wajahnya yang terus murung. Bertanya dan hanya mendapatkan jawaban singkat darinya. Tidak menarik.

Pukul 16.23

Aku memutuskan untuk meninggalkan tempat ini. Seperti hari kemarin. Dia hanya akan menatapku, tatapan terakhir untuk hari ini. tatapan yang selalu terasa begitu dalam, seperti mencengkram hatiku dengan kekuatan yang begitu menyakitkan. Seperti…

Rasa takut untuk meninggalkannya, dan dia dapat meninggalkanku selamanya di hari berikutnya.

OooooooO

Ladang yang begitu luas. Rerumputan yang terlihat menari, angin yang berhembus perlahan, dan sinar mentari menyejukan, namun terik. Mencerahkan hatiku. Tanah yang lembab, aroma embun yang menguar. Seperti tetesan obat bagi hatiku yang mungkin pernah terluka. Tidak ada rasa sakit.

Hanya kebahagiaan. Meski semu. Meski terlihat jingga, meski aku tahu hanya mimpi. Aku dapat merasakan kehangatan yang mengalir melalui setiap inci pembuluh darahku. Aku menari, aku melompat, dan aku tidak perduli dengan dunia lainnya.

Dunia yang aneh. Meski janggal.

Gubuk kecil, beratapkan jerami, kayu-kayu tua yang tersusun membentuk rangkaian tempat tinggal sederhana ini. aku tersenyum menatapnya, tanpa kusadari.

Tangan yang lembut, menggenggam tanganku. Mengajakku ikut berlari, kesana-kemari, menikmati kebahagiaan semu ini.

Detik berikutnya, gadis itu menghentikan tariannya. Memelukku dengan begitu erat, membisikan suara lembut dan lirih di telingaku. Seluruh tubuhku bergetar menikmatinya. Menikmati kehangatan dan kelembutannya. “Ini impianku…”

Mempererat pelukanku, mengecup pipinya sekilas. “Terima kasih, telah membawaku ke dalam mimpimu, Sayang..”

Dia tertawa, terdengar begitu riang. Tawa yang rasanya begitu kurindukan. Kembali menyeretku dalam imajinasi sempurna. Kebahagiaan yang tidak akan pernah ada dalam kehidupan manapun.

Abadi.

OooooooO

Hari ketiga.

Wajahku tenggelam, menyembunyikan senyuman yang terkulum di bibirku, aku melangkah masuk, mendengar derit pintu yang sangat familiar, hingga suaranya yang menutup.  Di antara buket bunga lili yang kubawa, aku menyembunyikan raut wajah riangku siang ini. Harum bunga lili yang telah diberi sedikit parfum berbaur dengan bau obat-obatan ruang rumah sakit.

Menaruh buket bunga itu di meja, aku tersenyum melihatnya. Wajahnya terlihat begitu tenang, damai, entah apa yang tengah berkelebat dalam tidurnya siang ini. Tidak seperti siang biasanya, dimana dia akan kembali tertangkap menatap jendela kecil dengan wajah muram. Siang ini dia tertidur lebih lama.

Aku mendekatinya dengan ragu-ragu. Sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya, menembus batas kasat mata yang telah terbangun sejak hari pertama aku mengunjunginya.

Sedikit terkejut ketika dia membuka mata, menatapku nanar. Seolah tidak pernah mendapatkan tidur yang tenang sepanjang hidupnya. Kantung hitam jelas terlihat di bawah matanya. Aku tersenyum kecut, berusaha menghilangkan rasa gugupku. Dia mengalihkan pandangannya, kali ini menatap buket bunga yang kuberikan. Sama sekali tidak berniat untuk menatap mataku lebih lama dari lima detik yang selalu terasa seperti selamanya.

Menggeser kursi kecil, dengan perlahan, begitu perlahan, memecahkan tembok itu. sedikit, demi sedikit. Aku mendekat padanya. Duduk, terdiam, dalam keheningan yang dalam. menatap buket bunga yang kuberikan dalam waktu yang rasanya menjengahkan. Aku berdeham.

Gadis itu membalikan tubuhnya, membelakangiku. Pergerakan yang tidak pernah kulihat selama dua hari terakhir.

“Bunga lili yang cantik..” ujarku perlahan. Berusaha menghancurkan keraguannya.

“Aku tidak pernah mengenalmu. Apa yang membuatmu perduli padaku?” suaranya terdengar parau. Begitu lirih. Hampir membuatku menangis.

Aku mengambil tas sekolah yang tergeletak begitu saja di pojok ruangan. Merogoh selembar kertas merah muda yang beraroma persis seperti ruangan ini. tulisan tangan yang tak beraturan, seperti hari-hari sebelumnya. Yang selalu membawaku kembali lagi ke tempat ini.

Genggam tanganku, jangan beranjak hingga malam berakhir.

“Kau.. kenal tulisan ini?”

Gadis itu menoleh sejenak. Menatap kertas dalam genggaman tanganku dengan seksama. “Tidak.” ujarnya singkat. Aku menghela nafas. Pemikiran-pemikiran bodoh, rantaian logika yang hanya berusaha menyatu padukan seluruh kejadian aneh ini terpusat padanya. Mimpi-mimpi, surat misterius, melodi yang aneh, dan gadis murung yang tengah bersamaku hari ini. tidak ada satupun dari semua hal itu yang membentuk rangkaian kenyataan di benakku.

Kembali lagi, seperti hari-hari kemarin. Aku mengerjakan seluruh tugas sekolah di tempat ini. ditemani musik-musik klasik melalui i-phoneku, dan kediaman gadis ini sepanjang waktuku. Sesekali mengamati wajah muramnya yang rasanya tidak akan pernah berubah selamanya.

Pukul 16.36

Aku membereskan seluruh perlengkapan sekolahku. Untuk kesekian kalinya, bersiap meninggalkannya.

“Aku harus pergi. Semoga kau suka bunga itu.”

Aku tahu, buket bunga yang telah kubeli hanya akan berakhir tragis, melayu, bersama harapanku yang kian kosong dalam setiap detik kemuraman hidupnya.

“Jangan..” ujarnya lirih. Terdengar seperti bisikan yang ironis di telingaku. Aku menghentikan langkahku. Berjalan perlahan. Mendekat padanya.

Menit-menit yang kulewati. Hari-hari yang selalu terasa sama.

Aku mendekat padanya. Duduk tepat di sisinya, matanya menerawang. Menjauh, menembus kedalaman atmosfir bumi. Berkelana hingga ke tempat yang tidak pernah kukenal namanya. Dia merenung, tidak berucap sepatah katapun.

Hingga ketika aku menggenggam tangannya.

Dalam sentuhan yang nyata. Kelembutan yang sejuk, meski terlalu dingin dan rapuh. Getaran yang sama. Aku lupa…

Ada kehidupan dalam tangan mungilnya. Yang tidak pernah kurasakan dalam mimpiku.

Hari yang berbeda. Waktu yang berbeda.

Aku telah menghancurkan barikade itu. menghabiskan malam pertamaku bersamanya. Melenyapkan mimpi-mimpi yang semu. Menikmati kebersamannya. Bukan dalam imajinasi semata.

OooooooO

Pukul 20.13

Koridor rumah sakit terasa begitu lenggang. Sepi, hening. Tidak ada lagi sanak saudara maupun kerabat para pasien yang masih menghabiskan jam besuk. Langkah kakiku berderap, menggema di sepanjang lorong. Menatap pintu yang sama, putih kusam yang kukenal.  105. Aku tersenyum, menarik nafas dalam. memutar knop pintu perlahan.

Dia berbaring, terlihat begitu tenang. Meski matanya tengah menerawang, menatap langit-langit kamar, merenung. Aku berdeham. Seperti sebuah kebiasaan agar dia menyadari keberadaanku. Aku tahu, dia selalu menyadarinya. Gadis itu menoleh, menyunggingkan seringai kecil.

Hatiku bergetar..

Senyuman kecil. Senyuman pertama darinya. Untukku.

Aku membalas senyum kecil itu dengan tawa lebar di wajahku. Sudah berapa tahun dia tidak pernah tersenyum bagi orang lain? Hingga kupikir, dia telah lupa cara untuk melakukannya. Aku berjalan mendekat.

“Guru matematika. Mereka sangat menyebalkan ketika ujian akhir tiba, menahan siswi bernilai pas-pasan sepertiku.” ujarku dengan helaan nafas yang perlahan, samar. Namun memancarkan rasa lelah dari raut wajahku.

Hari keempat, aku datang sedikit terlambat hari ini. ada rasa menggebu yang begitu besar, kerinduan untuk kembali menggenggam tangannya seperti hari kemarin. Kembali menatap wajahnya dengan kedekatan yang entah mengapa selalu memecut diriku oleh rasa yang tidak pernah kumengerti sebelumnya. Terlalu nyata, terlalu memenuhi hatiku, hingga aku merasa tidak sanggup lagi menampung seluruhnya.

“Matematika. Pelajaran yang mudah..” Dia bergumam, hampir seperti bisikan. Namun tentu saja, keheningan di kamar ini dengan mudah menggemakan bisikannya. Dia menatapku. Tatapan yang nanar, tidak lagi memancarkan intensitas yang berlebihan. Hanya tatapan seorang gadis rapuh yang terlihat kesepian. Seperti ingin memeluk hatiku dengan kehangatan pancarannya. “…aku bisa membantumu.”

Aku menundukan wajahku, menatap ujung sepatuku yang kotor ternoda oleh debu. Menyembunyikan senyumanku dari balik setiap helai rambutku. Aku tersenyum. Ada kebahagiaan yang membuncah dalam dadaku. Suara itu. Kelembutan yang sudah hampir kulupakan, kini dapat kudengar. Hanya rangkaian kata-kata lirih tidak berarti. Namun kembali menyeretku dalam rasa sayang yang dulu sempat kurasakan. Meski hanya dalam mimpi.

Mengambil beberapa buku tebal yang sangat kubenci sejak dulu. Menunjukan lembar demi lembar yang menjadi kesulitan terbesarku. Matanya akan membulat, kemudian menyipit di detik berikutnya. Terkadang keningnya berkerut, terlihat berpikir keras atas soal-soal aljabar yang berserakan di setiap halaman buku ini.

Tantangan-tantangan soal, yang terpecahkan.

Seperti tantangan hatiku yang kini hancur, melebur dalam kehangatan kebersamaan. Yang tidak dapat lagi kudefinisikan dengan keindahan metafora manapun.

OoooooO

Suara-suara samar dari televisi terdengar memenuhi ruangan, malam telah begitu larut. Seluruh lampu di dalam rumah telah dimatikan, aku menyalakan lampu meja yang hanya memberikan penerangan temaram dari sudut kecil ini. Detik demi detik telah berlalu pergi meninggalkanku. Berjam-jam mataku terpaku pada benda kecil di tanganku.

Sebuah cincin.

Cincin yang terasa begitu jauh dari benakku. Janggal, sama sekali asing, tidak familiar. Aku mendengus. Bukankah semua kejanggalan itu datang dalam kehidupanku hanya dalam waktu yang begitu singkat? Satu tambahan kecil bukanlah sebuah kejutan yang menakjubkan.

Mengamati pahatan-pahatan yang terasa begitu detail, seperti sebuah benda dari masa lalu. Sebuah kunci. Mungkinkah ini petunjuk?

Petunjuk..

Aku menghela nafas, tidak ada satupun kejadian dalam hidupku yang berantai menjadi sebuah petunjuk, yang ada hanyalah satu persatu kejutan baru menghampiriku di setiap harinya. Setiap harinya.

Membuatku hampir lupa, bagaimanakah kehidupanku sebelumnya. Bahagiakah? Seperti aku telah melupakan, telah berapa lamanya aku lupa mendengarkan suara hatiku. Melakukan hal-hal yang membosankan. Dan mencari satu kepingan hilang, ironis. Yang tergores dalam hatiku sepanjang hidupku, tanpa aku mengetahuinya. Apa kepingan yang hilang itu.

Lima hari yang terasa begitu panjang.

Aku menyesap kopi di dalam cangkir itu sedikit. Kembali menyadarkan kantuku dengan setetes kafein. Bukanlah hal yang buruk untuk malam ini. aku menatap layar televisi yang kini telah berganti menjadi biru sempurna. Stasiun televisi manapun tidak lagi menayangkan acara. Yang ada hanyalah suara dengungan perlahan, dan kegamangan hatiku. Terdengar begitu jelas.

Pukul 3.55 dini hari.

Kesadaran di pagi hari, seperti sebuah kebiasaan tak tertulis dalam hidupku. Aku memutuskan untuk membuang cairan kopi itu di dalam wastafel, membasuh wajahku dengan sedikit air, sebelum beranjak masuk ke dalam kamar. Tenggelam dalam tidur, yang selalu menggambarkan warna lain kehidupanku. dunia semu imajiner. Mencari tahu, sedikit petunjuk mengenai kemunculan ganjil cincin itu di dalam lokerku. Mencari seluruh hal yang telah hilang, begitu lamanya.

OooooooO

Pernahkah dunia ini menyadari keberadaanku? Karena aku tidak pernah melihat mereka.

Satu persatu kata yang ditulis dengan begitu apik. Sungguh jauh berbeda dari terakhir kali aku menatap tulisan yang tertoreh di atas kertas merah muda ini. warna yang sama, tinta hitam yang menggores. Kata-kata yang tidak pernah kumengerti maksud-maksud di dalamnya. Namun selalu terngiang dalam pikiranku, dalam keseharianku. Aku mendengus kesal. Aneh.

Langkahku terasa begitu cepat, karena tanpa kusadari, aku telah sampai di muka pintu kamar misterius ini. aku datang jauh lebih pagi dari biasanya, hari kelima aku menemuinya. Jadwal sekolah yang memudahkan. Aku berlari, dan segera sampai di tempat ini. menyimpan kertas lusuh itu di dalam saku seragamku, menyiapkan senyuman terbaikku untuk menyambut harinya. Memantapkan hati, dan memutar knop pintu perlahan.

Ruangan terdengar sedikit riuh, sungguh jauh berbeda dari hari kemarin aku mengunjunginya. Saat dia terlihat muram dengan kesendiriannya, dengan kesunyian ruang kecil ini. Menyalakan televisi yang tengah menayangkan acara komedi pasaran, dan sejujurnya jarang sekali mengenai selera humorku. Aku tidak melihatnya tertawa, bahkan tersenyum sedikitpun menatap kotak bergambar itu. hanya merenung, menatap sendu. Tidak ada yang menarik.

“Selamat pagi..”

Dia menoleh perlahan, seolah hendak bertanya. Dengan tatapan, apa yang membuatku datang secepat ini. empat hari bersamanya. Aku seperti mendengar seluruh kata-kata yang hanya terucapkan dalam benaknya. Aku menjawab dengan sungkan. “Aku dipulangkan sedikit cepat hari ini. Bagaimana harimu?”

Dia mengalihkan pandangannya, menatap layar televisi. Tidak menjawab pertanyaanku. aku menghela nafas, sudah terlalu terbiasa dengan reaksi semacam ini. seperti ada banyak cerita untuk diceritakan, seperti ada banyak kisah untuk dituangkan, seperti ada ribuan jarum di bibirnya, yang menahannya untuk berbicara sepatahpun. Kepadaku.

Kursi itu, masih berada di tempat yang sama. Di sisinya. Seperti tengah menantiku untuk kembali mendudukinya, dan menggenggam tangannya. Sebatas sentuhan kecil yang dapat kulakukan padanya. Aku melakukannya. Menaruh tas sekolahku begitu saja, mengambil tempat di kursi itu. sejenak menatap kea rah layar televisi. Kembali terpaku pada wajahnya, yang selalu tahu ketika aku menatapnya, namun terlalu sungkan untuk balas menatapku. Aku telah berhasil mempelajarinya.

“Kau tahu..” aku berbisik perlahan. Menggenggam tangannya yang terlihat lemah di atas ranjang rumah sakit. Dingin, kurus. “… Jessica di dalam mimpiku, akan menjawab, dia sangat membenci bubur ikan dan segelas susu mengerikan, ketika aku bertanya mengenai harinya..” aku tersenyum kecil.

Kembali melanjutkan kisah ini. “Dia menyukai musim semi, ketika langit sore berwarna jingga, dia bermimpi untuk dapat berlari, memutari ladang yang luas dengan kaki yang telanjang. Merasakan lembabnya tanah rerumputan..” aku menghentikan ceritaku. Tertawa kecil, menertawai kebodohanku.

Jessica di dalam mimpiku.

Merasakan berbagai emosi yang aneh meletup di dalam tubuhku. Jessica bergeming. Tatapan yang sulit untuk berpindah. “…aku tidak tahu kalau dia begitu pintar matematika.” Ujarku lagi. tersenyum kecil.

“Apa dia meninggalkanmu?” suaranya terdengar lebih lantang dari hari biasanya. Seperti ada emosi meluap yang memacu setiap adrenalin tubuhnya. Matanya membulat, dan dia menatapku. Bukan dengan rasa ingin tahu, namun kesakitan yang tidak dapat lagi kurasakan dengan hati rapuhku.

Aku terdiam. Menolak untuk menjawabnya.

“Apa dia meninggalkanmu?” Jessica bertanya sekali lagi.

“Ya..” ujarku parau. “…Dia meninggalkanku.”

Aku dapat merasakannya.

Genggaman yang terasa semakin erat. Dia menggenggam tanganku. Dengan seluruh kekuatan yang dipunyainya. Dia mengeratkan genggaman tangannya. Ada rasa gentar dalam kekuatan tiba-tibanya.

Aku menahan nafas. Melontarkan pertanyaan yang rasanya mencambuk hatiku. Menggoresnya dengan cara yang begitu menyakitkan. “Apa kau juga akan melakukannya?”

Dia bergeming.

“Aku takut..”

Dan aku menangis dalam sunyi.

OoooooO

“Aku ingin melihat pagi hari..”

Aku menghentikan langkahku, berlutut di hadapan gadis ini, dia duduk di atas kursi rodanya, yang bergerak perlahan seiring langkah kakiku. Dia merenung, menatap hamparan taman rumah sakit yang rindang oleh pepohonan. “…Aku ingin menyaksikan terbitnya matahari.”

Tersenyum kecil. Menatap matanya yang membulat. “Bersamaku?”

Gadis itu mengalihkan tatapannya, menikmati langit malam yang kelam, begitu gelap. Hanya terdengar hembusan angin yang bergerak perlahan, sesekali memainkan anak-anak rambutnya. Aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Menatapnya dalam, mencari lekuk kejujuran dalam hatinya. Yang mungkin sungguh sulit bagiku untuk menelusup masuk. “Jawab aku.  Apa kau ingin menyaksikan pagi hari bersamaku?”

Matanya nanar, menoleh, memandang udara. Menolak untuk menatapku. Namun suaranya yang lirih, bisikan perlahan, telah berhasil menembus kedalaman hatiku. “Ya. Bersamamu.”

“Tentu saja..” aku bergumam pada diriku sendiri. “Kau akan selalu menikmatinya bersamaku..” aku menggenggam kedua tangannya. Terasa begitu dingin, ketika bersatu, menyalurkan kehangatan tubuhku, kehangatan hatiku, hingga mungkin berhasil meraup ketakutan itu dalam satu pelukan besar, kuharap, dapat memberinya secercah harapan.

Desah nafas yang beraturan, menembus kedinginan malam. Aku dapat merasakan air mata mengalir di pipiku. Menggetarkan hatiku oleh tangisan yang begitu mendadak. Aku menyentuh, tepat di dadaku. Merasakan rasa sakit, ketakutan, ketakutan akan sebuah kehilangan yang begitu besar di dalam sana. Menggores, sedikit demi sedikit.

Aku terisak…

Dalam heningnya malam. Menyembunyikan wajahku di pangkuannya. Tidak harus berucap untuk bercerita padanya. Menyalurkan rasa sakit yang sama kami rasakan. Tangisan yang menjadi, isakan yang mengeras. Aku sesenggukan. Gadis itu memelukku, tidak dalam pelukan yang erat, tidak menyakitkan, meski membuatku sesak. Membasahi selimut yang tersampir di tubuhnya.

Aku tidak perduli.

Aku tahu,

Gadis itu tahu,

Waktu kami tidak lama.

“Angkatlah wajahmu, Kwon Yuri..” suaranya bergetar, menahan kesakitan yang sama, seperti yang kurasakan dalam hatiku. “…Pagi tidak akan sudi melihat wajah itu. kita akan menikmatinya bersama, bukan?”

Aku mengetatkan rahangku. Menghapus air mata di wajahku, yang entah mengapa, selalu mengalir kembali di setiap detik berikutnya.

Bodoh. Aku menangis.

Saat aku seharusnya menjadi pilar yang menopangnya. Aku menangis.

Mimpi sialan itu, telah menenggelamkanku terlalu jauh. Terlalu jauh….

“Wujudkan satu permintaanku..” ujarku dalam isakan yang sunyi. “…Angkat kakimu, berjalan bersamaku. Kita sambut mentari pagi bersama-sama.”

OoooooO

“Berikan aku setangkai mawar putih.”

Senyuman yang tersembunyi di balik derap langkah kakiku menelusuri sepanjang koridor rumah sakit. Menggenggam setangkai mawar putih, beraroma segar, menenangkan. Warna yang terlihat bersih, mencerahkan hatiku untuk permintaan kecil itu.

Dia tersenyum, ketika langit berwarna jingga, matahari menyempil malu dari balik gumpalan awan pagi hari. Melayangkan permintaan itu padaku. kebahagiaan tiba-tiba membuncah di dalam hatiku.

Rasa yang sama, oase ketakutan yang sama, setiap kali tanganku menggenggam knop pintu yang terasa begitu dingin. Seperti, aku tidak akan pernah tahu. Apa yang mungkin kudapati di dalam sana. Aku memejamkan mata. Berharap dalam hati. semua akan baik-baik saja.

Merasakan suasana yang sedikit berbeda siang ini. matahari bersinar begitu cerah, menelusup dari balik jendela kecil. Jessica, tidak dengan piyama yang dikenakannya, kaus yang begitu tepat membalut tubuh ringkihnya. Dia tersenyum kepadaku. Detik yang membawa kebahagiaan itu ke hadapan mataku. menatap senyumannya. Senyuman tulus, ketika matanya menyipit, aku meluruh melihat senyuman itu. senyuman ceria yang kulihat darinya. Dia terlihat sungguh. Sehat.

“Kau membawakannya..” ujarnya riang.

Aku bergeming menatapnya. Tidak mampu berucap. Kemudian tersenyum.

Aku terlihat sangat idiot.

“Kau sangat…” aku terdiam sejenak, berusaha keras mencari sebuah kata yang tepat untuk menggambarkannya. “..berbeda siang ini.”

“Aku tahu. Seperti belasan tahun lalu, sebelum tubuhku terjerat penyakit mengerikan ini.” kalimat panjang, penuh optimism, kebahagiaan. Berhasil membalut hatiku dengan kehangatan, yang tidak dapat kubayar dengan apapun. Aku menyentuh dadaku, merasakan hatiku, emosi tengah meluap di dalamnya. Emosi kebahagiaan.

“Kau tahu, dokter mengijinkanku keluar dari rumah sakit hari ini. aku ingin melihat dunia..” dia menatap nanar, ke arah jendela kecil itu. seperti tengah berkelana mengelilingi seisi dunia. Keinginan yang begitu besar untuk menapaki aspal yang mungkin terasa panas, matahari yang mungkin akan terlalu terik baginya. “Temani aku?”

“Tentu saja.”

Aku tersenyum. Meresapi kebahagiaan itu, meluruh, bersama kehangatan pancaran matanya. Suasana yang sungguh berbeda, sejak pertama kali aku mengenal wajah murung itu. dia tersenyum. Menyambut uluran tanganku.

OooooooO

Rasa manis melon mencair di lidah, menyisakan butiran-butiran pasir yang memanjakan lidahku dengan rasa khas gulali ini. aku tersenyum, menatap matahari senja yang akan tenggelam sejenak lagi. Jessica menggenggam tanganku, begitu erat. Menatap boneka beruang besar di tangannya. Kehangatan tatapan itu. yang akan membuatku selalu merindukannya.

Gadis itu menjumput sedikit gulaliku dan memasukannya ke dalam mulutnya, tertawa riang ketika berhasil melakukannya.

Taman ria sangat sepi hari ini. hanya beberapa pengunjung yang berlalu lalang, yang mungkin tidak dapat selalu kutemukan dalam satu jam penuh. Beberapa penjaga wahana tengah berdiri lemas, menantikan pengunjung yang mungkin menaiki satu-satu wahana itu.

“Kau senang?”

“Tentu saja…” Dia mendesah lirih, memaksakan seulas senyum dan menatapku. “…kenangan yang akan selalu kuingat selamanya.”

“Apa kau akan menyimpan boneka itu?”

“Selamanya.”

Aku tersenyum, menggenggam tangannya, terasa begitu hangat. Meski terlalu kurus dalam tanganku. Duduk di sebuah bangku kayu yang terlihat rapuh.memandangi langit senja yang akan segera menghitam. Menyandarkan kepalanya di bahuku. dia memejamkan mata, terlihat begitu tenang. Jessica, Jessica yang hampir sama seperti di dalam mimpiku, kedekatan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

“Ceritakan aku..” Bisiknya lembut. “…ceritakan aku, tentang Jessica di dalam mimpimu.”

“Jessica..” aku menghela nafas, menggali ingatan-ingatan yang sempat mendasar di dalam alam bawah sadarku. “…dia senang mengecup pipiku. Menceritakan hari-hari membosankan yang dilewatinya, meski cerita yang hampir sama.” Aku tertawa kecil. “Dia sangat mirip denganmu. Sangat mirip. Hanya, aku dapat melihat senyumannya sepanjang waktu, sedangkan kau.. jantungku selalu berhenti berdetak ketika kau melakukannya.”

“Benarkah?”

“Karena kau jarang sekali melakukannya..”

Angin berhembus perlahan, beberapa pengunjung wahana satu persatu melewati kami yang masih menikmati detik-detik ini. detik-detik keindahan yang berjalan begitu lamban.

“Kau tahu, aku telah mewujudkan seluruh mimpiku.”

“Seluruh mimpimu?” aku mengerutkan kening, menatap wajahnya yang masih terpejam dengan heran.

Dia menggeleng lemah. “aku tidak akan memberitahukannya padamu.” dan tersenyum kemudian.

Sejenak, kami menyatu dalam heningnya malam yang muda. Secercah bulan yang menggantung indah di atas langit. Membayang di mataku.

“Kita harus pulang.”

“Ke tempat itu? beri aku sedikit lagi waktu. Aku masih ingin berada di tempat ini..”

Memeluk boneka besar itu dengan sebelah tangannya, dia tertidur di pelukanku. Merasakan kulitnya yang mendingin, hatiku bergetar. Rasa sayang, perlahan. Sedikit namun menelusup dengan pasti ke dalam hatiku. Kuharap aku bisa memilih, untuk tetap melihat wajahnya ketika pagi hari menyinari kamar kecil itu. Agar hancur semua akhir mimpi aneh itu. menjadikannya sebuah keindahan abadi yang akan kunikmati bersamanya. Dengan atau tanpa arti kebersamaan itu.

Bisakah..

Bisakah aku menghentikan waktu?

OoooooO

Pukul 23.47

Jam digital itu terus bergerak, membunuh waktu yang tak henti melangkah. Hari keenam aku bersamanya. Benar-benar bersamanya. Tersenyum kecil menatap matanya yang meredup. Membelai rambutnya yang hitam, terasa begitu lembut di tanganku. Mencermati setiap helai keindahan itu terjatuh di atas alas tidurnya.

“Bisakah kita pergi bersama lagi besok?” tanyaku padanya, menyertakan setitik harapan dalam setiap katanya.

Dia hanya tersenyum. “Satu hari mewakili segalanya untukku. Kenanglah hari ini dalam hatimu.”

Menggenggam tangannya. Mengais arti dalam setiap kata yang diucapkannya. Aku terdiam. Menatap wajahnya. Menikmati itu sepuas yang kumampu.

Dia memejamkan kedua matanya.

Aku mengguncang tubuhnya perlahan. Tidak ingin kebahagiaanku berakhir secepat ini.

“Jessica..” membisikan namanya. “…Jangan tertidur, kumohon.”

Gadis itu membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali. Sebelum kembali tersenyum. “Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?”

“Coklat?” aku tertawa renyah. “…kau terlihat seperti gadis-gadis yang menyukai hal-hal semacam itu, bunga, boneka, dan coklat.”

Jessica mengalihkan pandangannya. Menekuni kebiasaan itu, menatap jendela, hanya menyajikan pemandangan hitamnya malam. “Mainkan aku sebuah lagu..”

“Lagu?”

Aku terdiam, berpikir keras. Beberapa judul lagu-lagu romantis yang berkelebatan dalam otakku. Menyisakan tampilan partitur-partitur nada yang terbengkalai begitu saja di dalam lemariku. Melodi itu.. yang bahkan aku tidak pernah tahu namanya.

Mungkinkah..

“Hanya sebuah lagu?” tanyaku sekali lagi, memastikan.

“Lagu. Tangga-tangga nada yang akan mengantarkanku.”

Aku mendesah kecil, mengabaikan kalimat-kalimat itu. meraih tangannya yang terasa begitu dingin, mengecupnya lembut. Merasakan setiap partikel tubuhnya yang menyatu denganku dalam satu sentuhan intim ini. tangannya yang ringkih menepuk puncak kepalaku, dengan perlahan. Aku menatap kedalaman matanya. Menembus seluruh rahasia yang tersembunyi.

“Tidurlah.” Ujarku akhirnya. “Aku akan kembali besok. Seperti hari-hari kemarin..”

Gadis itu mengangguk lemah, sebelum kembali memejamkan mata. Menyelimuti tubuhnya, aku beranjak bangkit. Dalam kesunyian, aku mengecup keningnya. Merasakan dingin wajahnya, rasa ini, meluruh, meluap, bersamaan menjerat kesadaranku. Aku ingin terus memeluknya, seperti waktu yang menipis nyaris membunuhku.

Menepuk puncak kepalanya, berjalan menjauh. Meninggalkannya, kembali tenggelam dalam kesendirian hidupnya di kamar temaram yang begitu dingin ini.

Kuharap akan selalu ada hari esok untuk kami…

Hari esok..

OoooooO

Kejutan yang sedikit berbeda malam ini.

Jiwaku yang melayang, merasuk di kedalaman mimpi, aku dapat merasakannya. Seluruhnya. Tubuhku yang terasa sedikit kaku. Berbaring di atas tanah yang lembab. Dengan sehelai kain yang menjadi alas tidurku. Menatap langit hitam, terlihat begitu indah.

Jessica tengah berbaring di sebelahku. Sama. Kami sama, menatap langit. Seperti ada sejuta cerita yang terbagi di atas sana. Aku mengecup pipinya, kemudian tersenyum, berusaha menggodanya.

Menghirup aroma tubuhnya yang berbaur dengan keindahan malam, pepohonan, gemericik air, lantunan lagu yang begitu manis di telingaku. Aku bersenandung kecil. Memancing tawanya yang renyah.

“Aku tidak akan lagi mempertanyakannya..” bisiknya lembut.

“Mempertanyakan?”

“Akankah kau melanjutkan hidupmu, tanpaku.” Gadis itu menoleh, menatapku seksama. “…kau tahu sebentar lagi pagi akan tiba?”

“Aku tahu.” Menangkup wajahnya dengan tanganku, merasakan kelembutan yang begitu nyata. Mengecup keningnya. “..apakah aku akan melanjutkan hidupku, tanpamu?”

Jessica menggeleng lemah. “…aku tidak pernah bisa menjawabnya. Banyak hal-hal yang tidak dapat kita ketahui, ketakutan itu yang membuatku terus bertanya padamu. Ketakutan kau akan melupakanku.”

“Ketidak tahuan selalu membuat kita semua khawatir.” Aku bergumam pada diriku sendiri.

“Kita ditakdirkan untuk bersama, dengan atau tanpa kehidupan.”

Aku mendengus. Ada luka dalam setiap kata yang kuucapkan. Seolah begitu nyata. Menggores hatiku. “..Mengapa dipisahkan, mengapa tanpa kehidupan?”

“Aku tidak tahu..” Jessica mengecup pipiku. “…aku tidak tahu segalanya..”

Dia menggenggam tanganku, “Namun ada satu hal yang kutahu.” Dia tersenyum, meneduhkan hatiku. “…Kau adalah  hadiah terindah dalam detik-detik terakhir kehidupanku.”

OooooooO

Hadiah terindah dalam detik-detik terakhir kehidupanku

Aku membuka mata. Tidak sanggup berpikir banyak, hanya menatap nanar langit-langit kamar dalam keremangan malam. Mimpi itu. terasa begitu nyata, seperti satu dimensi lainnya yang terasa berbeda. Keindahan yang menyentuh relung hatiku. Percakapan kecil, melekat kuat di dalam sudut memoriku. Hingga bahkan logikaku tidak berhasil menyentuhnya.

Kusen jendela berderak, menimbulkan keriuhan yang kontras dengan kesunyian. Angin berhembus begitu kencang hingga membuka jendela kamarku. Aku berjalan, menatap perumahan yang saling berhimpitan di dalam keriuhan kota. Seperti tidak ada celah bagiku untuk menelusuri kehidupan lain dalam duniaku.

Menghela nafas, embun mengepul dari bibirku, aku memeluk tubuhku, menahan helaan rasa dingin, angin yang menusuk. Firasat aneh berhembus, menyentuh tepat di dadaku. Keinginan menyakitkan untuk kembali kepada gadis itu. sekarang juga. Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padanya. Tidak di dalam kamar menyedihkan itu.

Mengambil jaket tebal yang tersampir begitu saja di kursi, aku berjalan perlahan, menatap gitar yang tergeletak di pojok ruangan, aku termenung. Berpikir keras, sebelum akhirnya membawa benda itu di punggungku. Hadiah kecil untuknya. Aku tersenyum membayangkan wajahnya yang akan meneduh kala aku memainkan beberapa melodi untuknya.

Berusaha keras untuk tidak membangunkan seorangpun di rumah ini. aku mengendap sunyi. Sedikit menggigil merasakan udara yang begitu dingin di luar sini. Kedinginan yang tidak pernah kuduga sebelumnya, kurapatkan jaketku. Berjalan cepat menuju tempat itu.

Aku tidak tahu apa yang membuatku begini impulsif. Namun kerinduan itu, menjerat seluruh akal sehatku. Hingga gerak langkah kaki ini, seperti di komando oleh rasa ngilu yang terus mendera di dadaku. Selalu, setiap kali aku terbangun oleh mimpi pertemuanku dengannya. Hatiku bergolak ketika lagi-lagi aku melangkah di dalam koridor yang sama. Para dokter dan suster tidak lagi menggubris keberadaanku. Seorang teman yang selalu mengunjungi salah seorang pasien kelas satunya.

Membuka jaketku, merasakan kehangatan di dalam ruangan ini. sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Kulihat gadis itu tengah memejam, tidak menyadari kehadiranku. Atau memang dengan sengaja berpura-pura melakukannya. Merapatkan tubuhnya di dalam selimut. Membuatku begitu ingin memeluknya. Kembali menyentuhnya.

Aku berjalan dengan begitu perlahan, mendekatinya. Menikmati wajah tenang itu dengan seksama. Seperti ada jutaan rasa senang bergejolak di dalam hatiku, dapat kembali menatap wajahnya. Tanganku bergerak perlahan, berirama. Menyentuh setiap inchi wajahnya. Begitu cantik. Kecantikan yang tidak pernah kulihat sebelumnya, pada gadis manapun. Keanggunan, meski harus berpadu dengan kemuraman wajahnya, aku dapat merasakan cahaya itu ada dalam dirinya. Tidak pernah kusadari. Hingga malam ini.

Kembali menduduki kursi yang sama, yang tidak pernah bergerak sedikitpun dari tempat ini. aku kembali menggenggam tangannya.

“Jessica..” bisikku perlahan, menghembuskan nafas yang hangat, hingga menyentuh permukaan kulitnya yang terasa begitu dingin. Dia menggeliat perlahan, sebelum membuka mata. Mengerjap beberapa kali, menatapku dan gitar besar di punggungku. Dia tersenyum.

Aku menggerakan jariku lembut, menyentuh bibirnya yang masih tersenyum. Senyum yang sangat kurindukan. Ada kerinduan yang besar, kerinduan yang menyakitkan. Entahlah.. aku bahkan tidak dapat lagi mendeskripsikannya. Jessica menyentuh wajahku. Mengerutkan keningnya..

“Kau menangis..”

Aku menangis.

Cuaca yang terlalu dingin bahkan telah membuatku begini mati rasa. Kenapa aku menangis? Aku memaksakan seulas senyum. Menyentuh tangannya, mengecup jemarinya yang basah oleh air mata. “Aku tidak menangis..” berusaha tertawa, meski hanya menjadi tawa canggung yang tidak bermakna. “…hanya terlalu merindukanmu.”

Gadis itu menatap jam dinding. Kemudian beralih menatapku. “Apa yang membuatmu…”

“Kita pergi dari sini..” tukasku. “…Kita akan keluar dari tempat ini. aku akan membawamu ke sebuah tempat yang indah. Kita saksikan mentari yang terbit bersama-sama. Maukah?” tanyaku, ada harapan yang jelas terpancar melalui sorot mataku malam ini. harapan dia tidak akan menolaknya. “Kumohon.” Ujarku lagi.

Gadis itu menatap jarum-jarum yang masih menancap di pergelangan tangannya. Mencabutnya, hingga kulihat wajahnya meringis, menahan sakit di tangannya. Mengalihkan pandanganku. Maafkan aku begitu egois kali ini. aku menggenggam sebelah tangannya erat. Dia masih berusaha tersenyum kepadaku. “Bersama..”

“Bersama.” Menangkup wajahnya dengan sebelah tanganku. Aku menatap mata itu, yang selalu tegar meski sendu. Keterbatasan sialan yang mengekangnya, tidak pernah menyurutkan kasih di dalam hatinya.

“Bagaimana jika kita tertangkap?”

“Kita tidak akan tertangkap. Aku akan bertaruh untukmu. Ikuti langkahku. Berjanjilah, genggam tanganku, apapun yang terjadi.”

OoooooO

Hamparan kota Seoul yang terbentang luas. Pegunungan di pinggir kota, aku menelusuri tekstur bebatuan di bawah kakiku, yang begitu landai, lembut. Merebahkan tubuhku. Sedikit bergidik ketika menyadari lereng yang curam di bawah kakiku. Sedikit saja kakiku berpijak di tempat yang tidak seharusnya, tubuhku akan melayang. Masuk ke dalam danau curam itu.

“Apa kau lelah menaiki tangga-tangga itu?” ujarku pada Jessica, gadis yang masih termenung, menatap keindahan kotanya. Yang mungkin tidak pernah dilihat seumur hidupnya. Aku tersenyum, meyakinkannya. Ada sebuah keindahan jauh di dalam lubuk hatinya, yang juga tak pernah di lihatnya.

Dia menggeleng lemah. “Terbayar oleh keindahan ini.” Merapatkan jaket tebalnya, menyedekapkan tubuhnya. Menunjukan kerapuhannya. Aku memeluk tubuhnya, dengan begitu erat, berusaha keras memberikan kehangatan, agar meluruh bersama dalam detak jantung kami yang berirama.

“Kenakan jaket ini..” aku membuka jaketku, mengenakan itu di bahunya. Dia menepis tanganku, dan mencoba tersenyum, menolak jaketku.

“Tempat ini sungguh dingin, kau bisa pingsan karena membeku.”

“Tidak akan..” bisikku. “…kau menghangatkanku, dan aku tidak ingin melihatmu kedinginan.”

Aku menarik tangannya, mengajak dirinya duduk bersamaku di pinggir lereng. Menatap wajahnya sejenak, berusaha meneduhkan hatinya melalui tatapan kecil itu. “Kau terlihat pucat..”

“Aku selalu pucat..” ujarnya parau. Menyentuh wajahku, membuatku sedikit menggigil merasakan sentuhan tangannya yang terasa sedingin es. Menyembunyikan tangan rapuh itu dalam genggamanku. Aku meniupnya, udara yang hangat mengembun dari bibirku, menyelimuti permukaan kulitnya.

Setelah dini hari ini, aku menyadarinya, ya, dia memang selalu terlihat pucat. Terlalu ringkih. Terlalu sakit. Namun aku menyayangi wajah pucat itu. sangat menyayanginya.

Aku menekuk lutut, menyembunyikan tubuhku dalam ringkukan menggigil. Aku memang kedinginan, sial. cuaca di tempat ini benar-benar dingin. Jessica tertawa melihat gestur tubuhku. Sekejap kemudian, tubuhnya telah memeluku erat, begitu hangat. Takkan menandingi selimut bulu senyaman apapun. Pelukan hangatnya. Sekaligus mencairkan rasa dingin hatiku.

“Ini… memalukan..” ujarku dengan gemetar. Menahan rasa dingin yang menusuk.

Gadis itu tertawa renyah, menyandarkan kepalanya di bahuku. memejamkan matanya. Ekspresi yang begitu kugemari akhir-akhir ini. ketenangan yang terpancar, memberikan cahaya tersendiri bagi kemuraman hatiku. Mencairkan rasa gamang di dalamnya.

“Aku menyayangimu..” kalimat yang begitu janggal. Terasa begitu aneh ketika aku mengucapkannya, namun tepat di saat yang bersamaan. Seperti seluruh kesesakan itu meluruh bersama setiap kata yang terlontar. Aku menyayanginya.

Gadis itu mempererat pelukannya, membenamkan seluruh wajahnya di bahuku. aku mengecup puncak kepalanya, memberikan harum yang sangat lekat dalam ingatanku. Harum yang begitu sama di dalam mimpiku. Kini semua telah menyatu dengan sempurna. Mimpi-mimpi itu. Jessica yang sama. Mengisi relung yang tepat di hatiku. Relung yang sama.

“Apa kau juga merasakan hal yang sama?” tanyaku. Dia menengadahkan wajahnya, menatapku.

“Saranghaeyo, Kwon Yuri.”

Ada kesedihan yang membayang di pelupuk matanya. Terlalu dalam untuk kupahami.

Aku mengalihkan pandanganku. Tidak sanggup untuk lebih lama menatap kesenduan itu. menenggelamkan diriku dalam gelapnya pagi. Entah sudah berapa lama aku meresapi kedinginan tempat ini. aku akan menunggu. Menunggu hingga mewujudkan harapan itu. sekali lagi, menyambut mentari pagi bersama dengannya.

Kami terjerat dalam kesunyian, jemarinya bergerak perlahan, menelusuri setiap lekuk tanganku. Mencari kehangatan yang lebih lagi di dalamnya. Hingga ketika kurasakan dia memutar jarinya, lembut. Menyentuh cincin misterius itu. aku mengangkat tanganku. Mengamati dengan seksama benda yang melingkar di jariku.

“Aku juga memilikinya..” suaranya terdengar begitu lirih. Kemudian gadis itu menyentuh dadanya, mengambil sebuah benda yang tidak pernah kusadari selalu ada di sana. Cincin yang mengalungi lehernya,  Yang tidak pernah terlihat oleh mataku. bodoh. Sebuah teka-teki mistis yang sebenarnya begitu mudah. Mimpi-mimpi itu. hanya tertuju padanya.

“Bagaimana kau mendapatkannya?”

“Aku selalu memilikinya, aku hanya tidak tahu ada orang lain yang memiliki pasangan lainnya.”

“Mungkin kita memang ditakdirkan bersama.” Aku menundukan wajahku, menatap bebatuan yang kini menjadi tumpuan kisahku.

Jessica tersenyum. “Kita memang selalu di takdirkan bersama. Meski sudah terlalu lama aku menunggumu. Malaikat menghadirkanmu dalam waktu yang tepat.”

Awan-awan jingga mulai berarakan, menyingkirkan kekelaman. Saat-saat yang telah kami tunggu.

“Apa kau ingin aku memainkan sebuah lagu?”

Jessica mengangguk. Matanya masih memejam. Aku mengambil gitarku yang terlupa begitu saja oleh keindahan detik bersamanya. Kembali duduk di sisinya. Memejamkan mata. Mengeruk ingatan-ingatanku yang berbaur akan melodi indah itu. Yang kurasa akan menyempurnakan seluruh mimpi yang telah menyatu dengan gadis nyata di sisiku.

“Bersandarlah di bahuku..”

Jessica melakukannya, memejamkan mata. Menikmati dirinya sendiri, merapatkan tubuhnya kepadaku.

Sunyi.

Suara gitarku, melantun perlahan. Mengisi pagi yang masih begitu muda.

“Kau tidak mempercayai adanya malaikat?” matanya membulat, bertanya padaku

Aku menggeleng mantap. “Tidak.”

“Aku mempercayainya..”

“Omong kosong bocah-bocah lugu semata.” Ujarku berargumentasi dengannya.

“Kau percaya jika aku bercerita, malaikat pernah datang ke dalam kamarku suatu malam?” dia tersenyum jahil, menggodaku.

“Tidak.”

“Jika malaikat itu tidak pernah datang, mungkin aku tidak akan pernah menemuimu.”

Seperti sebuah layar hidup yang begitu nyata. Adegan-adegan semu yang sempat menghampiri mimpi-mimpi malamku, berkelebatan. Dalam melodi yang menenangkan. Dalam pelukan hangat Jessica. Dalam langit jingga yang mulai memunculkan cahayanya.

“Kau mempercayai adanya malaikat? Jessica di dalam mimpiku mempercayainya..”

“Aku mempercayainya.” Dia menghela nafas. Suaranya terdengar kian merdu, ketika mengisi lantunan melodi yang rapuh kumainkan. “…aku tahu, waktuku hanya tersisa sedikit.”

“Jangan lagi ucapkan itu.” aku mengetatkan rahangku. Sialan. Aku tidak boleh menangis lagi. berusaha keras menahan air mata yang mungkin akan mengalir menghangatkan wajahku. “..apa yang akan kulakukan tanpamu?”

“Aku meminta sebuah hadiah padanya..” Gadis itu memainkan anak rambutnya. Tersenyum jenaka. “…saat detik-detik terakhir kehidupanku, aku ingin dia mempertemukanku dengan takdirku.”

Aku terdiam, menatap matanya, yang terlihat tengah melayang dalam ruang ingatan di dalam kepalanya. Terlihat begitu serius, dan lucu pada saat yang bersamaan.

“Berapa banyak waktu yang kau minta?”

“Tujuh hari.” Matanya begitu sendu kini. “Hanya tujuh hari. Aku tahu, waktuku tidak banyak..” kini dia tersenyum. Optimisme semu yang sudah lama tak kulihat.

“Tujuh hari…” aku tertawa lirih. Menangis di saat yang bersamaan.

Tujuh hari…

“Jessica.. bicaralah padaku..”

“Hmmn..” dia bergumam perlahan.

“Jangan berhenti bicara denganku. Aku ingin terus mendengar suaramu. Bolehkah? Kumohon..”

Dia tertawa kecil. “Aku bisa merasakannya. Matahari akan bersinar sempurna sejenak lagi..”

“Malaikat itu berjanji akan mempertemukanku denganmu..”

“Bagaimana?”

“Entahlah. Hanya malaikat itu yang tahu..”

“Khayalan bodoh.”

“Kau tidak akan pernah mengetahuinya, Kwon Yuri.”

Surat-surat misterius itu..

Mungkinkah…

Aku menghentikan permainan gitarku. Hingga kudengar suaranya berbisik lirih.

“Jangan hentikan. Melodi ini, sungguh familiar dalam ingatanku.”

“Berjanjilah. Jangan tertidur. Sedetikpun. Berjanji padaku.”

Jessica menggeleng lemah, masih memejamkan mata, senyumannya memancar hangat. Seakan dia telah mengetahui segalanya.

“Jessica..”

“Hmmn?”

Aku tersenyum mendengar suara itu bergumam. Dia masih berada di sisiku.

“Lihatlah.. matahari itu.”

Pagi telah tiba.

Begitu cerah, sangat sempurna.

Pertama kalinya dalam hidupku, aku menyambut pagi yang seindah ini. seperti ada ribuan kapas yang menerbangkanku, ke dalam dunia yang tidak pernah kukenal namanya. Membuncahkan hatiku, riang, tenang, hangat pada saat yang bersamaan. Aku menengadahkan wajahku. Menghentikan permainan gitarku. Menikmati pancaran sinar matahari yang hangat. Meresap kedalam pembuluh darahku, meluruh.

Jessica membuka matanya. Tersenyum, menatapku. “Seluruh impianku telah terwujud..”

Tubuhnya bersandar di dalam pelukanku. Mengecup puncak kepalanya.

“Bisakah aku menjawab pertanyaan itu? hidupku tanpamu..” ujarku perlahan.

“Kau akan mengetahuinya..” suara yang terdengar begitu lemah.

“Jangan tertidur..”

Keheningan yang begitu panjang.

Aku tidak menangis. Aku tidak mampu lagi menangis.

Dunia terdengar begitu sunyi. Aku tidak mendengar detak jantungnya yang menenangkan, yang selalu berirama denganku, desah nafasnya yang hangat di leherku, ketika aku tengah memeluknya. Aku tidak merasakannya.

“Jessica…”

Aku mengecup wajahnya, berkali-kali. Berusaha merubah segalanya. “Bangunlah, kumohon..”

Aku tidak mendengar gumaman apapun. Bibirnya terkatup, matanya terpejam. Terlihat begitu tenang di kedalaman tidurnya. Tidur sempurnanya.

Tujuh hari yang begitu panjang dalam hidupku.

“Bangunlah. Bangunlah!”

Matanya tidak lagi mengerjap, aku tidak melihat wajahnya mengernyit. Sekuat apapun aku mengguncang tubuhnya. Tidak ada reaksi darinya.

Aku menatap wajah itu, pancaran matahari yang terefleksi sempurna. Mengecup keningnya yang terasa mendingin..

Dia telah mengetahuinya. Mengetahui segalanya. Detik yang berhenti sempurna. Ketika nafas itu berhembus untuk terakhir kalinya. Dia telah mengetahuinya…

Gadis rapuh yang secara mendadak menelusup di dalam kehidupanku, mimpi-mimpi gila yang menghantui malamku. Mungkinkah, hanya sekedar hadiah kecil bagimu?

Jeritanku. Tenggelam, di dalam hatiku yang pilu. Terus memanggil namanya. Hingga hatiku dengan begitu perlahan telah terampas, bersama dirinya.

Aku akan merindukanmu, Jessica.

“Nado, Saranghaeyo..” dengarlah. Dengarlah suara hatiku untuk yang terakhir kalinya.

Kami berbaring, bersama. Di atas rerumputan yang sejuk. Rambut yang selalu kusuka. Meliuk, begitu lembut. Mengikuti alur tanah yang basah.

“Aku akan menjawabnya untukmu..”

“Apa itu?”

Dia menggerakan tubuhnya, menindih tubuhku. Menatap mataku teduh, kemudian tersenyum, mengecup pipiku.

“Kau akan melanjutkan hidupmu, tanpaku.”

Aku menyentuh wajahnya dengan punggung tanganku, meresapi setiap tekstur yang kurasakan di sana. Cantik. Bercahaya. Gadis ini..

“Kau yakin aku bisa melakukannya?”

“Sadarlah dari mimpi-mimpimu.” Dia menjentikan jarinya, dan menertawaiku. “..jalan hidupmu akan menjadi cerita yang sangat panjang.”

“Tanpamu?”

“Tanpaku. Kau akan mengukir cerita yang begitu indah. Ketulusan hatimu…” Jessica meletakan tangannya di dadaku. “.. akan membawa kebahagiaan itu padamu.”

“Kita akan tetap bertemu di sini? Di dalam mimpiku?”

“Tidak. aku akan pergi sekarang..” dia meniup keningku. Menyalurkan getaran yang begitu mendadak. “..Selamat tinggal, Kwon Yuri.”

Ladang yang lenggang. Menyisakan kehampaan yang besar di dalam hatiku. Yang tidak akan pernah bisa terisi oleh apapun.

Dia pergi. Selamanya. Tidak untuk meninggalkanku.

Aku akan melangkah. Meski tanpanya.

Melanjutkan hidupku.

OoooooO

Angin berhembus, menghempaskan sehelai kertas merah muda yang terkirim dari atas langit. Sebuah pesan kecil.

Tujuh hari ini, kuhadiahkan untukmu, Nona manis.

THE END

Advertisements

62 thoughts on “Melodi Mimpi

    • Awalny q masih bener2 g ngertimaksud dari ni cerita..ternyata keajaiban yg mempertemukan jodoh yg di percepat..kyk dejavu laghe mungkin ya..
      Bener2 jjang deh di story..
      Wah yulsic minggu depan..wah penasaran n kapan jg nih step sisternya..

  1. whoaaaaaa!!!
    subuh-subuh dah dibikin mewek…:'(
    daebak!
    ditunggu cerita-cerita selanjutnya ya thor…
    tapi aku dari kemarin minta password Accidentally Love Part 16 belum dikasih-kasih…:'(
    jadi ngegantung ceitanya…
    bagi passwordnya donk thor…
    kirim ke tynachatryna@ymail.com ya…
    gomawo ^^

  2. sad ending nih 😦
    kenapa mereka dipertemukan kalau akhirnya di pisahkan juga hanya dalam 7 hari?huhu beneran menyayat hati ceritanya
    jadi yang ngirimin surat tiap pagi itu beneran malaikat?

  3. Eaaaahh,, author roti is back!!! 😀
    Lama bener apdet nya thor,, kirain mau apdet yang Step Sister..

    FF ini sesuatu bgt dah thor,, dunia mimpi dan dunia nyata yang terhubung karena suatu keajaiban,, ide nya keren thor tapi kasian tuh si jessica di sini cuma numpang mati doang #plakk

    Betewe kok tiba-tiba bikin Yulsic thor?? Sad ending pula -,- pagipagi udah galau deh T.T

    Ditunggu apdet an step sister nya,, hwaitaeng!! ^o^

  4. wuih… ni author …
    annyeong… 😀

    setelah lama ngilang..pagi buta bawa sad story….

    Cma mo bilang, FIGHTING to author nuuna….
    lanjut terruuusss…… 😀

  5. huahhhh bener2 panjang ya rot.. Haha
    endingna.. Sedihhh..
    Gue gak nyangka itu perpanjangan wkt 7 harina prmintaan sica ke malaikatna..
    sica-nya sakit apa deh? *itu yg prtama kali gue pikirn
    7 harinya unyu tapinyaaa..hahaha

  6. wah kak, dateng2 bawa one shoot yulsic, wah semedinya lancar dong?

    kirain ini sinopsis buat pemanasan yulsic, eh ternyata one shoot toh.

    panjang euy 😀 suka pokoknya.

    jessica ringkih banget disitu, seolah kalau disentuh sedikit saja bakalan pecah .-. (emangnya barang pecah belah? kekeke)

    nih ff full yulsic doang ya, gak ada embel2 member soshi yang lain hehehe. coba bacanya sambil meresapi, uwooh mungkin bisa nangis aku, endingnya mirip endless love ya hehehe. mati bareng orang yang dicintai .-. bener2 kematian yang menyayat hati.

  7. Hummft Sad Love Story TT.TT !!! speechless dehh sungguuhhhhhh…..
    jntungkuh msih debar2 ga karuan rot hahaha

    kek dejavu lgi yaah, awal bcanya sungguh deh ga ngrti tpi skrng jdi ktgihan bca dri awal2 lgi hahaha,,

    surat2 itu yg kirimnya spa malaikatkah??? knp yulsicnya dibikn pisah sih rot huhuhuhuhu TT.TT
    ahh ga tau msti ngmng apa lgi yg jlas dirimu Hebat rotii…:D

  8. yaaaaahhhh rotiii………….
    ceritaaaamu ngeGalau banget nih rotii…… T.T
    walaupun sad ending tp tetap kereeeeeen (o,o)b
    rotii Jjang xD
    oiya,,, TITIP DOA untuk sica yang berada disana ya
    #semogaMasukSurga

    roti FAIGHTING !

  9. SEDIHHHHH MALEM MALEM JD PENGEN NANGISSSS
    Jalan ceritanya agak mirip ” if there is no tomorrow ” yah.. aaaa tetep sedihhh :'((((

  10. daebak thor cm itu aja yg ada d otak
    ampun dah saur2 dibikin nangis ma author roti satu ini
    7 hari yg membuat hidup yulsic berarti berawal dari mimpi dan menjadi kenyataan bagi mereka berdua
    seminggu yg tidak akan prnh mreka lupakan dan untungnya permintaan sica smuanya bs diwujudkan ma yuri jd inget2 FF taeny d AFF yg judulnya from me to you u.u
    fighting thor buat FF yg lainnya ^^b

  11. Annyeong,,,,,

    Wahh,daebakk FF nya thor,, !!!
    Gak bsa coment apa” lagi,,,
    Bngung saya coment nya,,,,

    Ttep Semangat author,,,,, !!!!

  12. Wuahhh…chinggu dirimu pagi pagi udh bikin diriku galau…hueee…ceritanya sedih amat….:-(

    Tapi ga apa2 deh yg penting kamu comeback chinggu…hehehehe
    FIGHTAENG!!!!:-D

  13. wiiihhh… ceritanya galau euy…..
    tapi keren! >,<
    7 hari yang istimewa sekaligus menyedihkan di akhir cerita.
    hiks..,
    jempol 5 dah buat roti strawberry… 😀

  14. Walau akhir cerita nya menyedihkan tapi manis.. 7 hari yg manajubkan untk Yuri..

    Awal ceritanya aku juga gak ngerti, tapi pas udah ditengah2 berasa bnget perjuangan Yuri buat nemuin dan deketin Jessica nyata.. Eaaahhhh..

    Keren cerita nya, kata2 juga nyetuh.. Suka deh sama karakter Yuri, berjuang menemukan dan menyayangi apa ada nya seorang Jessica nyata..dengn rasa yang sama dan sosok yang sama..Tsaaaaah *miring otak*

    dtnggu update nya.. YAA ROTIIIIIII..

  15. woaaa ~ #speechless

    sad story yang sangat manis.. sangat menyentuh..

    ini pemanasan buat lanjutan yulsic di accidentally love kan? keren banget rotii ~ 😀

  16. aigggooo… roti d’tunggu2 yg yulsic mlah cerita yg bkin mwek huhuuu… tpi smpah keren mreka k’temu krna d’arahin ma mimpi huhuyyy… d’tunggu yulsic yg sweet story yaks #pa’an sich lu reader bawel# ^^!… d’tunngu dech bwt next story’na yg TaeNy jgan yg sad2 yaks tpi’na hehehe… gtu z dech mdahan cdomment yg ini k’post dach yaks… sperti biasa thx bwat karya yg kren n ngehibur kya gni hwaitinkk bwat krya laenn’na roti… 🙂

  17. Wuuih, mzqi awalny dahiqu truz brkerut2 krn ga mudenk tp untung di ahrny q bz mngerti.
    Cerita yg menyedihkan. Hikz!!

  18. wahh akhirnya ComeBack juga…
    ff YulSicnya keren banget, ya ampuunn aku ampe nyesekk bacanya..
    kasian banget sihh yuri.. sica pergi..
    dan semuanya berjalan atas permintaan trakhirnya sica..
    7 hari.. ya 7 hari !!

    ahh.. aku ga bisa komen apapun lagi..
    author daebak.. ok hwaiting yaa chingu, ditunggu ff barunya lagi..
    dan itu.. step sisternya lanjutin yahh.. gomawo 🙂

  19. waahhhh seneng bget wktu tau maincastnya YulSic tpi kok sad ending sich author roti??? -_-#
    tapi2 ngak apa2lah yg penting permintaan sica ke malaikat dikabulkan n bisa bareng yuri selama seminggu…
    tpi kasihan yuri di tggl sica…
    sabar yaaa yuri,,,jessica pergi ntar di ganti ma sooyeon *naloh…
    #plaaakkkkk…
    btw author roti,,,aku sms konk ngak di bls sich???(~_~メ)
    jdi kegantung accidentaly lovenya…
    Lanjut buat step sisternya n di tggu ff barunya…

    Fighting \(゜ロ\)(/ロ゜)/

  20. oh knp cerita nya sad ending nangis ini hiks.hiks
    sica kau mimpi terindah nyul
    lw cm sekejap 7hri yg sangat berarti aigooo km tega thor bwt yul ktm sica dn di pisahkan lagi..huhuhuhu

    ff yg bgs thor di tunggu kryamu yg laen.

  21. BAGOS!!!!! GOOD JOB eventho with sad ending….the story was sooooooo mysterious with magic i guess…how can ring come itself….lols…but its soooooooo legit…. somebody who didnt smart cant read your fic i guess…so many majas di dalam’y dan alur yg bolak balik.

    and i’m a proud with myself bcos i know what your point on this ff…..aq suka dmn yuri bawa sica ke tmpat “i dunno that setting” tp pokoe indah lah xD tinggi…bukit kah xDD ?? wlopun berpura-pura dia ga kedinginan tp lololols….how asshamed yuri ah xD.

    sumpah ini ff romantis abis…wlopun ga di bumbuin ma kalimat gombal….tp keren tingkat kabupaten dah 🙂 sad ending in the end but romantic. i can feel it so clear how yuri’s heart on this fic…kiss on the forehead always make us warm…okokokok…forgeting my imagination.

    thanks for the pw on the last i request to u 🙂 ..nice to know you…i’ll be a good reader for you 😉

  22. aq bner2 nangis bc fc ini.
    hiks hiks….
    ahhhh
    sdihhhh..
    wlau dsni d pke bnya mjas n ungkapan2 yg tingkat tinggi tp ttp artiannya buat gw nangis….
    ksian yul….
    sica knp d buat sakit ky gitu siiiih…
    sedih bgt….
    d tgu karya slanjutnya…
    hiks… hiks….

  23. Demi Kesexyan jessica aku pertaruhkan untuk ff ini…!! Aku bertaruh aku suka sama ff ini..!!!!
    Ya ya ya ya sangat suka.. ff mu yang akan aku puja XD
    sumpah merinding pas baca penjelasan jessica meminta 7 hari itu..
    entah kenapa membaca kemesraan mereka membuat akuuuuuuuuuu hangat..
    alurnya ada dua point, kenyataan yuri dan mimpi yuri.. ini penuh misteri seperti aku di dunia maya XD
    GOOD JOB ROTI…!!
    INI FF TERBAIK, TERPANJANG DAN TERPUAS XD DAPET NOBEL BERTANDA TANGAN EL XDD
    Nice..!!
    keep writting, betewe komenmu di WP ku agak lebay.. aku gak mesum XD dan itu benar.. hahahahahahahahahhaa………….

  24. YulSic…
    Kalo q jdi yuri udah nangis guling dach, gak rela ditinggalin .

    Mantappp panjang bgt nh ff, ampe smpat galau..
    Udh 2 x baca ff YulSic yg sica ny skt n die d endingnya.
    Pasti bwt q ikutn sedih

    Dilanjut Thor ff berikutnya, apalagi yg Step Sister…
    Semangkokkkk

    Tks

  25. Dan aku dibuat nangis olehmu roti
    tenang yul jodoh ga kemana pati.ketemu.di.kehidupan selanjutnya
    keren lanjutkan ya

  26. huwwwaaa….sedih bgt thor ceritanya… 😦
    awalnya agak bingung jg knp yuri bisa mimpiin sica terus ternyata biar bisa nemuin sica & ngabulin permintaan sica yg 7 hari itu..T_T

  27. Haaaah aku mencintai karyamu unnie,sedih banget ceritanya. one shot yg sangat menyayat hati,sad ending dgn kado yg terindah,7 hari yg sangat singkat menguak kembali ilusi2 mimpi,haaah aku mencintai karyamu lah pokonya mah..hehehe

  28. Feel nya dapet banget thorr,hueeee sad ending bikin mewek T_T tp aku suka banget sama ceritanya,romantis banget meskipun jessica nya meninggal 😥 huweeeee *nangisbombay*

  29. Sungguh mengharukan.. Saya beneran nangis bacanya dan saya sangat memuja ff ini.. Meskipun sad ending tapi, terbayarkan dengan keseluruhan dari inti cerita yg sangat sangat mengagumkan. Di hubungkan melalui mimpi dan di pertemukan hanya dlm waktu 7 hari untuk membangun sebuah kenangan akhir. sungguh ada banyak hal yg saya pelajari dari setiap kata dan penulisannya.. ffnya jg sangat romantis dan menyentuh. penulisan katanya benar2 daebak entah seperti apa harus mengungkapkannya tpi yg pasti ini adalah sebuah karya yg indah. author hebat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s