Sounds Silence..

Just close your eyes

The sun is going down

You’ll be alright

No one can hurt you now

Come morning light

You and i’ll be safe and sound

 

“Safe and Sound” –Taylor Swift-

 

Kau tahu apa itu kesunyian?

Jika telingamu tidak berhenti mendengar suara-suara itu. Kau tahu bagaimana merasakan sebuah kesunyian?

Datanglah kesini. Aku merentangkan kedua tanganku.

Aku akan memelukmu. Melindungimu, dan menjagamu.

Karena di sini, kau bisa merasakannya.

Kesunyian yang menenangkan.

Yang menyenandungkan lagu-lagu tidur untuk membuatmu melupakan segalanya.

Tertidur dalam buaianku.

Kita lihat mentari itu akan bersinar hanya untukmu.

Esok pagi.

OoooooooO

Yuri POV

“Hey, dengar itu.” Dia berbisik, memekik kecil. “Aku dapat mendengarnya…”

Aku tersenyum menatap mata jenakanya, menyisirkan jemariku diantara helai rambutnya yang terasa begitu lembut. Seluruh ruangan ini, hariku, hidupku, telah terisi aromanya. Kehadirannya. “Apa yang kau dengar?”

“Detak jantungmu. Dan kau tahu apa yang menyenangkan?” Suaranya mendesah lembut, “Jantungmu berdegup sangat kencang.”

Aku tertawa lembut menatap ekspresi wajah itu. “Dan apa yang membuat itu menyenangkan?”

“Karena aku tahu…” Kini dia menumpukan seluruh berat tubuhnya di atasku. Seperti malam lainnya, aku dapat menatap mata itu menembus kedalaman hatiku. “…Jantungmu yang berdegup cepat hanya untukku.”

“Kau yakin?” Aku mengerling nakal. Berusaha menggodanya.

Raut wajah itu berubah. Kini merenggut kesal. “Jangan peluk aku.” Ujarnya.

Dia berpindah, dan kini berbaring di sisiku, membalikan tubuhnya hingga membelakangiku. Senyum yang sama tidak akan pernah hilang dari wajahku. Karena aku tahu, dia akan selalu kembali kedalam pelukanku. Sungguh, jantungku hanya akan berdegup kencang untuknya.

Dia yang mungkin akan tetap tenggelam dalam masa lalu.

Aku beringsut mendekat, mendekapnya dari belakang. Membiarkan dia merasakan kehangatan tubuhku, mungkin. Mungkin jika dia mengerti, rasa sayangku.

Menggenggam tangannya, dia bergeming dalam pelukanku.

“Marah padaku?” aku berbisik lembut di telinganya, membiarkan dia merasakan hangat nafasku berhembus.

Kini dia mengendurkan seluruh otot tubuhnya. Gestur yang sangat familiar bagiku. Ketika dia telah tenggelam dalam kenyamanan itu. Yang hanya aku berikan untuknya. Menyunggingan senyum kecilnya yang selalu kusukai.

“Banyak sekali yang kita lalui. Kau tahu itu, kan?” Ujarku lagi. Bersuara di tengah heningnya kamar. Ketika malam sepi seperti ini, hanya ada aku dan dia. Aku mengeratkan genggaman tanganku, mengusap lembut jemarinya dengan ibu jariku. “Terlalu banyak untuk membuatku pergi darimu.”

“Kenapa kau selalu melakukannya?” tanyanya lirih.

“Melakukan apa?”

“Segalanya. Untukku.”

“Aku tidak tahu apa aku bisa menjawabnya,” aku meringis, berpura-pura memikirkan sesuatu. “Entahlah. Mungkin karena aku sayang padamu?”

Dia tertawa renyah. Menarik kedua lenganku untuk mengeratkan pelukan kami. Harum rambutnya tercium begitu menggodaku untuk mengecup puncak kepalanya. “Pernahkah kau mencintai orang lain selainku, Yul?” Dia berdeham. “Mencintai wanita-wanita yang hadir dalam hidupmu dulu, kala kematangan umur mereka, kedewasaan itu bukanlah sesuatu yang dapat kutandingi.”

Aku terlalu sibuk menghirup aroma rambutnya, memanjakan seluruh tubuhku kala memeluknya, hingga tidak dapat menangkap emosi yang memancar dari pertanyaannya.

“Dan membelikanku satu unit mobil? Ugh.”

“Aku serius.”

Dia sedikit menoleh, tidak ada sedikitpun raut canda di sana. Menyinggung sesuatu yang selalu dia hindari. Aku hindari.

“Apa kau ragu?” Aku melepas pelukanku, membiarkannya berbaring, agar aku dapat menatap seluruh ekspresi wajahnya. Mencari keraguan itu disana. “Padaku?”

“Aku hanya bertanya. Kita selalu menghindari hal ini, aku hanya bertanya. Pernahkah kau mencintai orang lain selain aku?”

“Pernahkah kau?”

Dia menolak untuk menatapku. Mengalihkan pandangannya. Luka yang lama. Yang selalu ada disana, membuatku tertawa sinis.

“Karena aku tidak pernah mencintai orang lain selainmu. Tapi pernahkah kau?” tanyaku lagi. Menangkup wajahnya lembut, memaksanya untuk menatapku. “Tatap aku. Pernahkah kau?”

“Kenapa kau bertanya?”

“Aku ingin tahu.” Membelai lembut wajahnya, “Bisakah kau menjawabnya?”

“Itu masa lalu. Kau tahu semuanya, apa lagi yang ingin kau ketahui?”

“Apa kau mencintainya? Sebesar kau mencintaiku?”

Keheningan menelusup. Dia bergeming, terdiam. Kediaman yang lebih dari cukup untuk sebuah jawaban. Aku hanya ingin mendengar itu darinya. Hanya darinya.

“Aku mencintainya. Cinta yang berbeda, dari apa yang kurasakan padamu.”

Aku menghela nafas.

Kebodohanku. Memberikan pisau itu ke tangannya, memaksanya untuk menusuk hatiku dengan pertanyaan itu. Jawaban yang selalu kutahu pasti akan menyakitkan.

“Hey..” Dia berbisik lembut. “Itu masa lalu. Biarkan itu tetap menjadi masa lalu. Bisakah kau melakukannya?”

Aku mengecup keningnya. “Tentu saja.” Aku tersenyum, kembali luluh, tenggelam di kedalaman matanya.

Dia kembali membalikan tubuhnya, menarik lenganku untuk memeluknya. Sesuatu yang kutahu sangat disukainya ketika aku memeluknya dari sini. Ketika aku menghirup aroma rambutnya, atau ketika dia merasakan hangat nafasku di tengkuknya, saat aku akan berbisik lembut. Membisikan segalanya di telinganya dengan begitu dekat. Aku tahu dia menyukainya.

“Dan dia tidak pernah memelukku seperti saat kau memelukku. Kuharap kau tahu, Yul. Kini semua terasa tepat. Tidak seperti saat aku bersamanya.”

“Tidurlah, Jessica. Biarkan percakapan ini berlalu.”

“Hmmn…” Dia beringsut mundur, mendekatkan tubuhnya padaku. Nafas yang berangsur teratur, yang selalu kutahu adalah masa transisi kesadarannya yang akan hilang sebentar lagi. “Bolehkah aku bertanya satu hal lagi?”

“Hmn.”

“Jika aku meninggalkanmu, jika kau tidak dapat lagi memelukku seperti malam ini, atau jika kau yang melakukannya…”

“Aku tidak akan pernah melakukannya.” Ujarku cepat memotong kalimat itu.

“Jika kau melakukannya. Apa yang menurutmu akan terjadi?”

Apa yang akan terjadi. Padaku?

“Itu tidak akan terjadi.”

“Yul…”

“Itu tidak akan terjadi, Jessica.” Bisikku. “…karena bahkan jika aku memiliki seribu alasan untuk meninggalkanmu, aku tidak akan pernah melakukannya.”

“Benarkah?”

“Aku akan selalu menjagamu di sini. Karena aku memiliki dua tangan yang tercipta untuk melindungimu, memelukmu. Kembalilah kapanpun, inilah tempatmu merasakan kehangatan. Apapun yang terjadi.”

OooooooO

Jessica POV

Mungkin aku terlalu banyak berjanji. Atau mungkin dia membuatku berjanji. Jika komitmen ini bukan sesuatu yang kuyakini, apalagi yang mungkin membuatnya tetap bertahan?

Masa lalu itu. Bisakah lorong-lorong gelap itu tertutup, berhenti menghembuskan pusaran yang terus membuatku kembali kesana? Tidak dapatkah aku berjalan tegar meninggalkan tempat itu, tempat yang selalu menghisap seluruh perasaanku. Yang hanya terus melukaiku, mengoyak seluruh hatiku. Tidak bisakah?

Waktu tidak pernah berhenti. Terus pergi berjalan. Jika aku tidak bisa mengejarnya, tidak akan ada apapun yang tertinggal untukku.

Dia tengah menghabiskan waktuku, dan aku tidak akan pernah bisa lari.

“Aku selalu mengamatimu.” Ujarnya. Setengah jam yang lalu, dan tatapan itu tetap sama. Menatapku intens. “Tidak pernahkah kau menyadarinya?”

Aku mengalihkan pandanganku dari gadget yang telah menjadi pengalihan sempurna situasi canggung ini. Menatap mata itu, mungkin jika terlalu lama aku menatapnya. Mungkin, mungkin aku akan kembali tenggelam di dalamnya. “Aku mungkin menyadarinya. Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Mungkin melepasmu hanyalah sebuah kebodohan.”

“Mungkin.”

Mungkin terlalu semu untuk menjadi sebuah harapan. Tapi bisakah? Mungkinkah dia memintaku kembali?

Dia tertawa sinis, menyesap secangkir kopinya. Malam yang dingin, hanya tersisa kami berdua di dalam kafe kecil ini. Sudah satu jam yang lalu, dia hanya duduk terdiam di sana. Menatap salju yang berguguran di luar jendela. Sesekali menggosokan kedua tangannya, dua tangan yang dulu selalu kugenggam. Yang begitu menggodaku untuk kembali memeluknya, memberinya kehangatan. Seperti dulu.

“Maafkan aku.”

“Untuk apa?” tanyaku lirih.  Kedua tanganku yang saling menggenggam erat, ketika rasa hangat itu telah membayangi pelupuk mataku. Aku tahu sudah terlalu banyak air mata untuknya. Terlalu banyak untuk kembali menangis malam ini.

“Segalanya, Jessica.” Bisiknya.

“Tidak ada yang perlu kumaafkan, Taeng. Semua yang terjadi mungkin hanyalah sebuah kesalahan.”

“Tidak ada kesalahan. Masa lalu bukanlah sebuah kesalahan,” Taeyeon, dia berucap parau. Menaruh harapan semu itu, hanya dengan satu kalimat yang kutahu akan terlalu menyakitkan jika aku memercayainya. “Meninggalkanmu, adalah kesalahanku.”

“Apa yang membuatmu melakukan itu?”

Apa yang membuatmu meninggalkanku?

Jika kau tahu seberapa banyak air mata untukmu.

Mungkin, jika kau bersedia melihatku sedikit saja, kau akan mendapati tangisan itu.

Mungkin, jika kau memeluku malam itu, saat kau memutuskan untuk berpisah denganku.

Mungkin, akan dengan mudah aku memohon padamu untuk kembali.

Karena sebesar itu rasa cintaku padamu.

“Aku tidak tahu, Jess.” Taeyeon meraih tanganku, menggenggamnya erat. “Yang kutahu aku menyesal telah melakukannya.”

Isakanku mulai menggema. “Tidak tahukah kau seberapa banyak tangisan yang kuhabiskan untukmu?”

Aku menarik tanganku. Kini kedua tanganku kembali menggenggam erat di atas pangkuan. Dia mengalihkan pandangannya, sungkan menatapku. Aku tahu. Aku hanya tahu segala hal tentangnya, terlalu banyak hal yang kutahu tentangnya.

“Dan kau pikir aku tidak menangis?”

“Apa kau menangis?” aku mengangkat wajahku. Menatap kemuraman itu. “Sedikitpun untukku? Kau hanya menangis untuknya, Taeng.”

“Aku memiliki tangisan itu untukmu,”

Aku tertawa sinis mendengar pernyataan itu. “Jadi, apa yang kau inginkan sekarang?”

“Aku hanya ingin menghabiskan malam ini bersamamu,” Taeyeon kembali menyesap kopinya. “Kita tidak pernah berbincang bersama seperti malam ini, sejak kau bersama dengan Yuri. Tidak bisakah?”

“Tentu saja.”

Aku melirik jam dinding di sudut ruangan itu.

Terlalu larut.

Yuri masih belum datang menjemputku dari tempat ini. Aku akan menunggunya, hingga kapanpun. Aku akan terus menunggunya datang.

OoooooooO

“Ini sudah sangat larut, Jess. Kita bisa pulang bersama ke dorm. Kau tidak perlu menunggunya, aku bisa menelponnya.”

Aku menggeleng lemah. “Aku akan menunggunya, Taeng. Dia akan datang. Dan aku akan berada di sini.”

“Apakah kalian ingin memesan lagi, Nona?” Seorang pelayan datang menghampiri kami, membawa buku menu yang sama, yang telah kulihat tiga kali dengan tiga pesanan berbeda.

“Susu hangat.” Taeyeon menjawabnya untukku.

“Lagi?” aku menyipitkan mataku, bertanya padanya.

“Itu untukmu, Jess,” dia tersenyum manis. “Aku tahu kau senang meminum cairan menggelikan itu di malam hari.”

“Jauh lebih baik dibandingkan butiran obat tidurmu, Taeng.”

Dia tertawa renyah, menatapku. “Kau bahkan tahu aku meminum itu sebelum tidur.”

“Orang yang memiliki pemikiran serumit dirimu, pasti membutuhkan obat-obatan sejenisnya sebelum tidur.”

Tawanya terlihat ceria, tawa lebar yang sudah lama sekali tidak pernah kulihat. Kala waktu melingkupi hanya untuk kami. Aku dan dia. Kala dunia hanya tentangnya, dan siapa aku di hatinya. Kini semua telah berbeda, karena aku dan dia, bukanlah kami dulu.

“Kau tahu banyak hal tentangku, Jess.”

“Aku selalu menyukai lelucon-leluconmu.”

“Entahlah, kurasa aku suka ketika kau tertidur begitu saja di dalam pelukanku.”

“Eh? Pernahkah?”

“Kau tidak akan pernah tahu seberapa sering kau melakukannya.”

“Ouch. Itu memalukan.”

“Itu yang membuatmu terlihat manis. Hanya ketika kau tertidur di pelukanku.” Taeyeon kembali tersenyum.

Getaran yang sama. Senyuman yang sama. Detik ini, ketika hatiku menunggu sosok lain. Aku tetap merasakan getaran itu kala menatap matanya cukup lama. Dan aku kembali terperangkap. Aku tidak bisa berlari, mungkin aku tidak akan pernah bisa. Matanya lautan yang dalam dan membeku, membuat tubuhku menggigil dan tidak dapat lagi bernafas di permukaan. Seperti lautan itu yang membuatku tetap hidup.

“Yuri memelukku ketika aku tertidur.”

Taeyeon mengalihkan pandangannya. Menghela nafas, hal yang baru kudengar pertama kalinya malam ini. Mungkinkah dia muak ketika aku selalu bercerita tentang kekasihku?

“Apa kau menyukainya?”

“Sangat.”

“Jessica,” Dia menyebut namaku. Seperti dulu. Kelembutan itu. “Mungkinkah kau meninggalkannya suatu hari nanti?”

“Untuk apa?”

“Untuk kembali bersamaku?”

Aku mencermati wajah itu. Ketulusankah yang ada di sana? “Aku pernah menghancurkan harga diriku dan memohon padamu untuk kembali.”

“Aku terlalu bodoh pada saat itu.”

“Mungkin karena ada dia dan hanya dia di hatimu.”

“Maafkan aku melakukan itu.”

Kini aku, tersenyum. “Ini yang kelima kalinya kau mengucapkan itu, Taeng.”

“Sungguh, maafkan aku. Jika aku bisa mengulang waktu…”

“Maka aku tidak akan pernah jatuh padamu. Maka aku akan belajar mencintai Yuri sejak pertama aku bertemu dengannya. Maka aku tidak akan pernah merasakan sakit ini.”

Dia bergeming.

Hanya sejenak kutahu dia membeku mendengar pernyataanku. Tentu saja, dia akan kembali tersenyum. Dia selalu kembali tersenyum. “Atau mungkin, maka aku tidak akan pernah melepaskanmu. Membiarkanmu berada di sisiku hingga saat ini.”

“Apa kau percaya pada takdir?”

“Aku percaya pada pilihan yang salah, ketika itu menyangkut kita.”

“Aku percaya ini takdir, yang membawaku kepadanya. Kepada Yuri.”

Taeyeon memejamkan matanya, mendengus sinis. Aku tidak tahu apa yang tengah di rasakannya, apa yang tengah berputar di dalam otaknya. Hanyalah sesuatu yang selalu membuatku menduga-duga.

“Maafkan aku.”

OoooooooO

Tengah malam.

Tanpa sedikitpun tanda-tanda kehadiran Yuri.

“Sungguh. Hanya kau yang bisa membuatku tertawa seperti ini..” ujar Taeyeon di sela tawanya yang menghapus sepi kafe kecil ini. Tidak ada lagi pengunjung lain di sini, hanya ada aku dan dia. Sesekali menatap keluar jendela melihat kegelapan malam, jika kediaman menjadi begitu canggung.

Salahkah, jika aku begitu suka suasana malam ini.

“Dan sudah lama sekali aku tidak melihat tawa itu di wajahmu.”

“Karena kau tidak pernah lagi membuatku tertawa seperti ini!” ujarnya terengah, masih di sela tawanya. “Hingga malam ini tentu saja.”

“Hey,” ucapku, meminta perhatiannya padaku. “Ceritakan padaku tentang hubunganmu dengannya.”

Aku kembali melihat senyuman itu. “Apa yang ingin kau tahu?”

“Kebahagiaan semacam apa yang kau miliki bersamanya?” tanyaku dengan suara parau.

“Kebahagiaan yang dulu kupikir telah melengkapi hidupku.”

“Dulu?”

“Karena keadaan tidak pernah sama. Seperti kau dan aku.”

“Mungkin aku akan sangat merindukan malam ini, Taeng. Ketika kita kembali pada skenario lama, yang sama. Kembali pada kehidupan yang seharusnya.”

“Kau tidak harus merindukannya jika kita terus memiliki malam-malam ini.” Kini dia mengerling jenaka padaku. Kembali memberikan tatapan itu.

Aku menghela nafas, untuk kesekian kalinya kala dia mengucapkan kata kembali itu. Kenangan indah bersamanya memang selalu ada, menghantuiku, mungkin membuatku tetap tenggelam dalam masa lalu. Tapi jika dia mau mengingatnya, kenangan itu, penolakannya ketika aku memohon untuk kembali, ketika aku menangis dan memintanya untuk memelukku seperti dulu. Tatapan dinginnya, menolaku. Kenangan yang membuatku tetap bertahan di tempatku berdiri. Kesadaran bahwa dia tidak akan pernah bisa mencintaiku, seperti mencintainya.

“Jangan pikirkan itu,” ujarnya pada akhirnya, setelah kediaman yang menjengahkan. “Kau yakin tidak ingin aku mengantarmu pulang? Kita sudah berada lima jam di sini, dan Yuri tidak juga datang.”

Aku menyunggingkan senyum itu. “Aku akan menunggunya, Taeng, dia selalu punya alasan tepat ketika terlambat menemuiku. Aku berjanji padanya untuk menunggu di sini, dan aku akan menunggu.”

“Oke, aku akan menemanimu.”

“Tentu saja kau harus menemaniku!” ujarku, melayangkan tinju kecil di lengannya, membuat tawa di wajah itu kembali berderai.

“Ngomong-ngomong, kau ingat kau pernah tertidur tiba-tiba ketika kita semua tengah mendengarkan arahan dari manager oppa, dengan bibir yang terbuka lebar.”

“Eh? Aku pernah melakukan itu?!”

Taeyeon hanya mengangguk, masih dengan senyum menyebalkan itu di wajahnya. “Aku bahkan memiliki fotonya, di sebuah tempat tersembunyi di dalam kamarku, yang tidak akan pernah kau ketahui selamanya.”

“Oh? Benarkah? Karena aku akan membongkar seisi kamarmu ketika kau berada di studio besok! Lihat saja!”

Kami kembali tertawa. Hingga kudengar denting pintu restoran yang terbuka.

Sosok yang kutunggu berdiri di sana, dengan jaket hitamnya. Dia terlihat cantik, sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Berjalan perlahan menghampiri kami, dan tawa yang masih belum terhapus sempurna dari wajahku menatap sosoknya.

Aku selalu menunggunya, dan aku tahu dia akan datang. Akan selalu datang kepadaku.

“Hey, apa yang membuatmu begitu lama?” aku meraih tangannya, kembali merasakan lekuk-lekuk dan kelembutan yang telah begitu familiar. Yang selalu terasa tepat ketika bersanding denganku.

“Mobilku, sedikit bermasalah. Kau menunggu lama sekali?” ucapnya lembut, menyisirkan jemarinya di antara rambutku. Memijat kepalaku, sesuatu yang dia tahu sangat kusukai. Bukti dia begitu mengerti tentangku. Sesuatu yang berbeda dengan Taeyeon, Taeyeon yang kini bergeming di hadapan kami.

“Cukup lama. Cukup lama untuk memesan tiga gelas besar susu hangat.” Aku tersenyum pada Yuri. “Aku senang kau datang.”

“Tentu saja aku datang, Jessica. Aku akan selalu datang.” Yuri menatap Taeyeon yang masih bergeming. Sebelum kulihat Taeyeon menyunggingkan senyum kecil.

“Kurasa kalian sebaiknya pulang. Jadwal kita sangat padat besok. Pulang dan beristirahatlah.”

“Baiklah, leader.” Ujarku jenaka padanya. Mungkin suasana riang masih belum hilang sempurna, masih memenuhiku dengan euforia yang berlebihan. Bisa kembali berbicara dan bergurau dengannya.

“Kau juga harus pulang, Taeng.” Ucap Yuri, kini menggenggam tanganku erat.

Dia menggeleng perlahan. “Tenanglah, Yul. Aku hanya membutuhkan sedikit waktu di sini. Menunggu…” Kini pandangannya beralih padaku. “Aku memiliki ini untukmu, Jess. Anggap saja hadiah dariku.”

Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Kotak kecoklatan sebesar kepalan tanganku, aroma yang familiar. Sesuatu yang lekat dalam ingatanku, hanya tidak memiliki tempat sempurna di dalam pikiranku. Hingga mungkin terlewat dan aku melupakannya.

“Apa ini?”

“Bukalah nanti. Aku tidak pernah sempat memberikan hadiah perpisahan untukmu.” Dia tersenyum dan meraih tanganku untuk memberikan kotak itu. Aku hanya dapat menatap benda kecil itu dengan seksama. “Berhati-hatilah mengendarai mobilmu, Yul.”

“Tentu saja.”

Yuri meraih tanganku. Dengan caranya, yang begitu lembut, membimbingku berjalan keluar dari dalam kafe ini. Aku menoleh untuk terakhir kalinya, Taeyeon. Kembali duduk di tempatnya. Tidak menoleh sedikitpun ke arah kami. Hanya terdiam di sana. Menunggu sesuatu yang tidak akan pernah dapat kumengerti.

Kekosongan itu kembali datang. Bahwa besok, keadaan akan kembali sama. Taeyeon bersama dengannya, dan akan melupakanku.

Salahkah jika kedalaman mata itu kembali membayangiku?

Salahkah jika aku ingin berlari detik ini, masuk kedalam kafe itu, memeluknya. Merasa begitu dekat dengannya, bahkan jika hanya untuk terakhir kalinya?

Karena ada Yuri disini, disisiku, yang terus menggenggam tanganku erat. Yang tidak akan pernah meninggalkanku.

OoooooooO

Roda-roda berputar perlahan, menembus pekatnya malam dengan lampu-lampu jalanan yang menyala terang. Keramaian yang tidak akan pernah hilang di kota besar ini. Yuri mengendarai mobilnya dengan sangat perlahan. Seperti mengingat hal yang tertinggal di sana, di ujung jalan, di tempat Taeyeon tengah duduk menunggu sesuatu.

Aku terus menatap kotak cokelat yang kuletakan begitu saja di dashboard mobil. Yuri terpaku, menatap ke jalan, tanpa sedikitpun melihat ke arahku. Malam ini terasa begitu janggal. Tidak ada sedikitpun percakapan yang terjadi di antara kami.

“Kau bisa membukanya, Jessica.”

“Aku tidak akan pernah membukanya.”

Bohong.

Godaan yang terlalu besar untuk terus menyentuh kotak itu. Mungkin, membayangkan tangan Taeyeon tengah menggenggamnya, membuatku kembali merasakan kelembutan tangan itu. Mungkin, hanya dengan kotak kecil ini.

“Kau ingin membukanya. Bukalah.”

Yuri semakin memelankan laju mobilnya, membiarkan kami bergerak perlahan di dalam heningnya malam. Tanpa musik, tanpa suara. Hanya deru mobil dan nafas kami yang saling beradu.

“Kau tahu seperti apa masa lalu? Pusaran kegelapan yang akan terus membuatmu kembali kesana.” Yuri menghela nafas, sebelum kembali melanjutkannya. “Aku ingin kau menutup itu. Selesaikan segalanya malam ini. Bukalah kotak itu. Hingga semuanya dapat berlalu. Perlukah aku memohon padamu?”

Aku bergeming menatap benda kecil itu.

Jika ada seribu kemungkinan yang kini tengah berputar di dalam pikiranku, tidak ada sedikitpun alasan yang tepat untukku menolaknya. Hanya ketakutan yang begitu besar, kekhawatiran jika aku tidak dapat membendung segalanya malam ini. Saat keinginan untuk berlari, memeluknya menjadi begitu besar. Mungkinkah Yuri meninggalkanku?

“Kumohon, bukalah.” Ucapnya lirih. Wajahnya terpaku, menatap ke arah jalan. Jutaan emosi tergambar di sana, mungkin permohonan itu bukan keinginan yang sesungguhnya. Mungkin, dia memiliki ketakutan yang sama besar denganku.

Aku menggenggam kotak itu, cukup lama untuk kembali meyakinkan perasaanku. Bahwa aku tidak akan kembali menangis malam ini. Tidak dihadapannya, tidak saat aku akan kembali melukainya ketika aku lagi-lagi menangis untuk Taeyeon.

Aku harus menutupnya, menutup masa lalu untuk selamanya.

Menutup masa lalu itu dan membuka kotak ini.

Foto-foto itu. Aku tahu seperti apa itu kenangan, ketika untaian cerita disampaikan dalam sebuah gambar-gambar abadi. Ketika gambar itu tidak pernah berubah, ketika gambar-gambar itu selalu terlihat bahagia, seperti kami tidak pernah saling menyakiti satu sama lain. Seperti Taeyeon tidak pernah mencampakanku, bahkan ketika aku menangis, memohon padanya.

Gambar-gambar itu tetap tersenyum.

Aku dan dia.

Dalam masa-masa yang indah, bersama.

Air mata hanyalah sebuah ukuran mutlak, sebagai bukti bahwa aku pernah, pernah begitu mencintainya. Karena kenangan ini sungguh menyakitkan, dan sungguh, aku tidak sanggup menghadapinya sendirian. Yuri ada di sini, bergeming. Menggenggam setir dengan begitu erat.

Saat akhirnya aku menangis terisak. Kesekian kalinya, untuk Taeyeon.

Sehelai kertas yang terselip di antara kebahagiaan semu kotak kecil itu.

Ingatkah.

Tentu saja kau mengingatnya.

Kenangan itu selalu ada.

Tidak hanya dihatimu, tapi juga dihatiku.

Foto-foto ini, kuharap kau mengingat bahwa kita juga pernah memiliki kebahagiaan itu.

Kebahagiaan yang mungkin kini kau pikir, kau rasakan dengannya.

Tapi tidak.

Kebahagiaan itu tidak akan pernah sama.

Aku membuatmu bahagia.

Aku menyakitimu, itu kesalahanku. Kesalahan terbodoh dalam hidupku.

 

Jika kau menangis untukku. Menghabiskan air matamu untukku.

Tahukah kau, bagaimana hatiku juga menangis karenanya?

Kau tidak akan pernah tahu.

Karena aku melakukan kesalahan itu dengan menyakitimu.

Bumi berputar dan membiarkanku terus menderita karenanya.

Terkurung dalam rasa bersalah dan ketakutan bahwa aku mungkin kehilanganmu selamanya.

Aku egois.

Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku.

Salahkah jika aku mengatakannya, bahwa aku tidak pernah ingin menghadapi masa depan yang berbeda tanpamu.

Bahwa aku ingin kembali pada masa lalu.

Saat kau tersenyum hanya untukku.

Saat keadaan tidak seperti ini, bahkan kau tidak akan pernah lagi menatapku seperti dulu.

 

Bolehkah aku mengatakannya?

Kumohon berbaliklah.

Kita rajut masa lalu yang telah terkoyak bersama.

Berputarlah, karena aku terus menunggumu di sini.

Melepaskanmu hanyalah kesalahan bodoh yang terus membunuhku setiap detiknya.

Aku berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama.

Jika kau memelukku kembali, aku akan memelukmu,

Dan tidak akan pernah melepaskanmu.

Berbaliklah, karena waktu terus berputar.

Dan aku masih menunggu, terus menunggumu di sini.

 

Kesakitan yang berbeda, yang membuatku menangis, histeris. Tidak ada Yuri yang memelukku kini, dia berdiri, ruang yang dekat, namun hati yang begitu jauh. Dia tidak melakukan apapun, masih mencengkram setir itu dengan erat.

Taeyeon yang memintaku kembali.

Mungkin yang kupikir hanyalah sebuah impian kala dia meminta itu. Merajut kembali masa lalu yang sempat hancur. Menjadikannya masa depan kami berdua yang selalu kuharapkan.

“Aku…” suaranya parau. Membuatku terdiam mendengarnya. Isakanku hilang, tenggelam dalam kemuramannya. “…akan berbalik, Taeyeon masih menunggumu di sana.”

Tangannya memerah, buku-buku jarinya memutih. Aku tidak tahu apa yang dirasakannya. Mungkin sakit seperti yang kurasakan. Aku menyentuh tangan itu, dengan lembut, dengan cara yang selalu kulakukan padanya. Hanya padanya.

“Lepaskan, Yul. Tanganmu bisa terluka.” Suaraku bergetar. “Genggam aku, genggam tanganku. Seperti yang selalu kau lakukan.”

Perlahan, tangan itu menggenggam tanganku. Kelembutan yang selalu kurasakan darinya. Dia menatapku, menatap wajahku yang memerah, sorot mata itu. Yang selalu berhasil mencengkram hatiku, menghilangkan kesadaranku. Yang akan membuatku hanyut dalam pesonanya, dalam rasa sayangnya yang tidak pernah di ucapkan padaku, yang kutahu selalu ada.

“Apa kau mencintaiku?”

“Aku sangat mencintaimu, Jessica.”

Aku meraih tangan itu. Menggenggamnya erat, merasakan kehangatannya, yang tidak akan pernah terbayar oleh apapun. Membiarkan tangan itu kembali menghapus air mataku, air mata yang berbeda malam ini. “Jangan pernah melepaskanku.”

“Aku tidak…”

“Kumohon, jangan berbalik. Jangan pernah berbalik.” ucapku lirih. Penuh oleh rasa yang sungguh menyesakan. “Taeyeon telah melakukannya, Yul. Melepaskanku. Jangan pernah melakukan kesalahan yang sama.”

Kusentuh wajah itu, air matanya, kini dia menangis untukku. Kuhapus air mata itu dari wajahnya, membiarkan isakannya membuyar seiring dengan isakanku. Tangisan yang berbeda, yang memberikan arti lain malam ini. Sebuah pelajaran baru bagi perjalanan kami.

“Karena aku juga sangat mencintaimu. Taeyeon hanyalah masa lalu yang akan berakhir malam ini. Aku tidak akan pernah lagi menangis karenanya, karena kini, aku hanya akan menangis untukmu.”

Aku pernah mencintaimu

Cinta yang sangat besar

Tapi jika kau tahu arti yang sesungguhnya

Aku juga pernah memohon padamu.

 

Ini bukan egoisme semata

Hanya kesadaran baru,

Bahwa kita tidak akan bersatu

Aku mengucapkannya.

 

Tidak ada pilihan yang salah.

Aku tidak memercayainya.

Aku percaya takdir yang telah membawaku kesini.

Bersama dengannya.

Hanya dengannya.

 

Kubiarkan helai kertas itu berhembus, pergi bersama angin. Mungkin akan membawanya ke ujung jalan, kembali padanya yang tengah menungguku di sana. Dia yang hanya masa lalu.

OoooooO

Dia berhak memiliki pilihannya

Dia berhak mencari kembali apa yang telah dilepaskannya.

Dan dia berhak mendapatkan cinta sejatinya.

Bukanlah sebuah kesalahan, pilihan, keputusan, hanyalah bagian kecil dari sebuah perjalanan.

THE END

Advertisements

71 thoughts on “Sounds Silence..

  1. annyeong…

    new reader in here,salam kenal..
    maaf langsung komen d sini..

    D sini tumben ya taeng yg minta balik ma jessica,biasanya kan sebaliknya,hmm…
    Keren ceritanya!!alurnya ringan,tapi menyentuh sekali..

  2. akhirnya roti balikkkkk……………………
    .
    Terharu,
    hiks nangis bombe bacanya, taeng otaknya kebentur ya mpe minta balikan hehehe untung nya sica teguh pendiriannya hahahaha

  3. Annyeong^^ I’m new reader??? .. Ngerasa aneh jika Taeng yang minta balikan duluan ke Sica terutama ckck .. Good buat Sica udah menetapkan hatinya hany buat Yul seorang heheh .. Nih ff bisa menyentuh banget yah? Hehe

  4. Annyeong saya new reader, maaf yah langsung komen disini hehe..*bow
    Aigooo.. di oneshoot ini taeyeonnya plin plan dah, ngelepas terus minta balikan lagi hehe.. Salam kenal author, hwaitaeng~

  5. aaaaahhhh rotiiiiiii… misss u bertubi2 okeee sipp lu back tnpa ngasi tw dan lu dteng dgan karya yg bkun engap2an arggghhh…
    hmpir aja gw protes krna gw pikir sica bkal balik ke taeng ternyata eh ternyata sica mse setia ma seobangnya n gk milih masa lalunya…
    mmm bingung jga komen apa di tubggu aja dah kelnjutan ff yg lalu.. semangat ^^

  6. Jiaaaah roti bangkit dari mati surinya 😀 😀 #horeeeee XD

    jadi ni ff ttng cinta segitiga gitu..yulsictaeng..?? Taeng masa lalunya sica.. Skrng yulsic udh bareng trus trus taeng minta balikan gitu..?? OMG kecil2 udh pinter bikin orng patah hati lu taeng..kkk lu sama ppani aja taeng.. Sica punya yuri..!!! Always n polepel.. XDDD

    ehh step sisternya lanjuut napa..sm its mean to be-nya juga..wkwkwk

  7. Sorry baru komen disini,,,
    mau bilang met comeback roti,,

    ini ff yulsic paling nyentuh,,, mewek banget bacanya,, 😥
    kayak ff sebelumnya ceritanya nggak mudah ktebak, dan selalu bisa nyantuh hati,,,
    daebak,, ditunggu karya berikutnya,,
    semangat 😀

  8. akh author ssi akgirnya kau cameback juga, ff yg menyentuh banget, membuatku menangis dengan tulisanmu. yeah daebak 🙂

  9. arrrgggh prustasi saia nii thor,,,Knpa cba taeng ngsh hrpan lagi bwt sica di saat sica sdh damai2’a brsa yuri.
    Ahhh taengsic q,,kisah kalian selalu memporak-porandakan hati dan perasaan ku#lebaymodeon
    Yuri titip sicababy yaa jga dia baik2 jgn sakiti dia,,hhehe
    Oke deh di tunggu updetan selanjutnya & SEMANGAT.

  10. Aaaaaaah! Aaaaaaaah! Aaaaaaaah!
    Aaaaaaaaah! *jejeritan *loncat”
    aaaaaaaaaaaah aaaaaaaaaaaah!
    Oke stop!
    aaah antara nyesek sama seneng bacanya!
    Pas tau ada tae nya langsung DEG!
    Keinget ………. *tuuuutt #sensor
    ahahahaha

  11. knapa aku nangis ya baca’y..hiks hiks trharu bnget pas prckpan yulsic d mobil…
    bgus bnget thor crita’y..
    fighting, untk ff yg lain’y dtnggu..

  12. Memang g biasa taeng yg minta kembali ma jessie tapi jessie tetap pada yul..
    Sayang ni memang untuk yulsic gda taeny’y..
    Taeng laghe berantem kyknya ma pany disini jdi aja taeng kebentur hahah

  13. Author dirimu kmn aja. Lm gk nongol eh skli nongol bw ff yg seru abis. Bagus bgt thor. Suka sm yuri yg bhkn relain jessica blkn ma taeng. Di tnggu yg be mine nya thor. Salam roti..

  14. uhhfft..menghela nafas hbis bacanya..
    lega ~nih critnya bkin bener” mikir hehe..
    thx for comeback unnie 😀

  15. Thanks for ur comback 🙂
    Tengkyu krna lo postingnya hari ini..
    Gue gatau apa jadnya kalo lo posting ini bbrp hari sblomnua.. mgkn gue bner2 bakal ngilang dr dunia per-FF-an..haha

    Gue suka sama feelingnya.. eaaa ciyeeeee roti… :p
    Good job!
    Tengsik guweeeee haha #tetep yeeee
    Seenggaknya disini sika gak php..
    Like this 😀

  16. Weeeeeiiiii,roti kmbali.
    Kmne ja neng? Tb2 blik bwa galau2an gni?
    Fiuhh, untung sica mengmbl jlan yg bnar. Q pqir td dya bner2 bkal balik. Uda ktar_ir aja neh ati. Tp untungnya dy bz mmbuka mta dgn bnar jga. Bza ngliat mna yg hruznya dpilih.
    Eh td q ru bca 1 pzan,gni “jika dya meninggalkan tanpa alasan, jgn biarkan dy kembali dgn alasan”. Paz bgt tuh bwt sica. Hehe…
    Roti dæbak! Critanya ok! IMTB-nya dtunggu!

  17. Annyeong ^^
    yee akhirnya rotii comeback 🙂

    thanks udh posting FF baru..
    Sumpah gue nangis baca niH FF *nyeka air mata* ;(
    . Jessica udh terlanjur benci k Taeng, cz tae udh mutusin Sica gitu aja, n smpai Sica mohon2 k Tae pun Tae ga mau kembali ke Sica. (apa alasan Tae ninggalin sica?)
    Dan sekarang Tae kena imbas’a. Hoho
    . Saluuut buat Sica wlaupn msh sdkt ad rasa suka ke taeng, tapi dy ttp milih Yuri.
    Yulsic Daebak ❤

  18. Akhirny author roti comeback,,, *loncat2an d ats kasur*
    Abis loncat2 lngsng mewek gr2 bca nih story,,,
    kece, bohai, sexy badai bgt deh nihh story bkin hti cenat cenut bca ny,,
    Brasa d iris2 hati gw posisiin dri jd yuri d story ini,,
    Sumpeh gw tkut bngt sica mau balik lg ama tae,, *ini bkan comentb lebay y coz ini story bnr2 dlm bngt*

    Mksih y udh comeback dngn story yg mantapzzz^^
    D tunggu lnjutan it’s mean to be ny yulsic yaaaa,,,
    😀 😀

  19. weettsss thorr … bener” menyentuhh … feelnya bern” dapat … keereeenn …

    kirain tadinya jessi akan kembali k taeyeon dan meninggalkan yuri .. teenyata aku salah .. jessi memilih yull dan hanya yull .. ngga ada orang lain selain yull ..

    sekali lagi kereennn … ditunggu ff lainny .. fighting!!!

  20. eaaaa, kakak roti kombeeeek! cieeee XD
    ceritanya ngena bgt as always! semoga setelah ini no more taengsic yg ada hanya RF! biarkan yg sdh berlalu hanya ada di masa lalu! aseeek! hahaha
    Tae di sini ngeselin bgt yee, minta digampar wkwkwk, thumbs up buat kakak roti! 😀

  21. Annyeong ,,,,,,,,,,,,,,,,,,

    Yeyeeee,, Kmbali dngan update FF Yng kreeeenn ,,, Huuu,,
    Tersentuh , u,u ,,,,,
    Bguslah Sica tdak goyah,memantapkan Hati hnya Untuk Yul Seobang ,,,,kkee~
    Bner” kreen,,,,,,

    ‘d tunggu Next Update nyaaah,,,,,
    Semangaaaaaat

  22. Wahh ni ff bnar2 memporak-porandakn(?)hti gue…taengSic knpa sih hubungannya jdi hncur leburr begini..gue bnar2 jadi kacau thorr,taengsic cinta kalian memang masa lalu,,,terusknlah dg couple masing2 skarang..tpi kita tidax tau apa mereka bakalan come back..gue slalu barharap wkwkwk…

  23. ahh seneng banget akhirnya unnie comeback ,
    ff nya keren , menyentuh , unnie selalu daebak kalo bikin ff
    unnie kapan Its mean to be nya di lanjutin , aku selalu menunggu .

  24. wahhhh… akhirnya Author Roti Comeback !!!!
    senangnyaaa …

    uuu~ menyentuhhh.. banget …serius dehh
    aku hampir nangis lohhh…

    benar2 ff yg sarat akan makna.. daebakk ….
    kata2nya tuhh… buat feelnya benar2 dapet…

    (tapi pas dibagian pertengahan crita part tae n sica, gak tau knpa aku rasa feelnya kurang dapet.. mungkin ga konsen -_- ???)

    oh iya …. jangan lupa IMTBnya dilanjutin yaa Thor.. 🙂
    okay, fighting ditunggu updatenya!!!

  25. Hey marissa^^
    I miss U hehe
    Aku senang kamu udah kembali 🙂

    Scene disaat sica ngebuka kotak hadiah yg dikasih taeyeon aku suka mar.. Apalagi pas baca isi kertas yg meminta Jessica untuk kembali. Hihhiii
    dan cara yuri menunjukan emosinya Wow Banget marrr. Daebakkk…

    FF yang bagus marissa.. Always^^
    SEMANGAT^o^

  26. here comes rotiiiii!!!!
    panjang dan menyenangkan.
    asli, aku ngefans banget ama tulisanmu. catet ya.. ngefansnya pake banget, nggak pake yang laen. ehehehe

    dipertahanin ya mar 😀
    baca ni cerita kek baca prosa. mengalir ,indah, n.. keren dah pokonya.

  27. Annyeong…., salam kenal thor….
    Sblmnya ak mo blg trmksh, krna FF inilah hobi nulisku yg udh lama hilang balik lagi, gomawo bnr2 menginspirasi…., seneng dehh update lg.
    Mian br coment disini….
    Always menyentuh, kta2 menggmbrkan expresi tokohny detail bgt. Perbendahraan ktnya woww, apa rhasianya? Apa krna mkan roti 😀

    klo boleh ak mnta pwnya yg Accdntly Love, Itu crita FF SNSD prtma yg ak baca dn buat ak jtuh cinta.

  28. welcome back 🙂

    ya ampun makasih dah update di tengah kesibukan lo rot 🙂

    sebener’y gw suka ma hasil akhir,,,,ya ampun yuri gw baek banget, gw mo dong punya co kek mba yuri…!!!!! gw cinta lo KWON YURI!!!

    lol…

  29. annyeong thor , sya reader bru d’sni . nie ff bkin galau dah thor , couple yg bkin gx tenang ea taengsic ini,, jgn biarkan yul appa mnderita dlm ffmu yak thor >___<

    btw thor , bleh mnta pw it's mean to be part 8'a gx thor ?? bleh yakk ??

  30. Taeyeon nyebelin banget udah ninggalin sica sekarang saat sica udah bahagia sama yul dia minta balikan. Terharu banget pas percakapan yulsic di mobil yuri kesannya pasrah banget mau ditinggal sica T.T sampe nangis ane T.T entah kenapa kalo baca yulsic si taeng yg bias nomor satu gw jadi terlupakan gitu pesonanya,_,

  31. salah ga kalo gw mewek T.T
    ini sangat menyentuh , utg sica lbh mlih yul di banding taeng . huft . keren dah , feelnya dapet . pokok e T O P

  32. anneyong thor, maaf lngsung komen d sni. Ff nya ringan, kata2ny indah, dan yulsic gk bsa dipisahkan lg. Tumben taeng yg mnta balikan biasanya kan jessica.

  33. T.T
    aku brasa de javu bacanya… 😥

    critanya bkin air mata brdawai2 *pletak..

    roti is back bwa ff sediih *emmm -.-

    kapan yg itu dilanjutt rotii kapan kapan kapan??? #apadaah..

    ditunggu next next nextnya yaa…

    😉

  34. akhir2 ini kyanya author2 indo lg seneng-senengnya bahas Taengsic.. tp apapun itu mau Taengsic, Yulti, SooSic dan sejenisnya pda akhirnya tetap RF yg no 1.. hahaha *lebay*

    Good Job thor 🙂 Nice Story 🙂

  35. nyesek bgt baca ni ff., kasihan sama taeng! T.T
    Taengoo cepetan pulang nak., bahaya malem2 d luar sendirian. Klo diculik org gmn?? >,<

  36. new reader here xD
    keren thor critanya cm menurut aku feelnya dalem banget per karakternya
    jadi kesannya sica masih cinta ma tae
    feelnya terlalu daleeeeem kakak author
    tapi kereeeeeeeeeeeeen
    hehe
    sekian :))

  37. baru baca 😦
    yulsic,,emng gk akan pisah..taeny juga kan
    marisa,mianhae,,baru tau,jd baru baca 😦
    di tunggu banggeeettt,kelanjutan it’s mean to be ..nya ..hhe

  38. duh bru ngunjung ke blog nya roti eh ada update
    roti aku suka ceritanya muantap deh.
    Taeng mau blikan sama sica?
    Untung sica nya teguh tak mau berbalik lw berbalik berapa hati yg terluka.
    Like this 🙂

  39. Oh my god,,
    rasa’y sesak,, penggambaran tkoh’y sangat bagus, aku slalu suka ff’mu unn., campur aduk hatiku, hahaha jadi inget moment taengsic jaman dlu di mix moment2 yulsic yg fresh, m’bwt ku berfikir bhwa real’y mreka juga spti dlam stiap ff yg di tulis oleh para author, terutama ff mu unnie,,

    aah kpan unnie update lagi,, aku tunggu loh,, 😉 annyeong marissa unnie 🙂

  40. safe and sound dari taylor swift jadi backsound yang klop sama 1shoot ini 🙂
    ka”k roti.. it mean to be-nya dilanjutin donk..
    aku juga minta PW-nya yang chapter 8 donk…
    kirim ke fb: eka mayshurah
    atau e-mail: ekamayshurah@yahoo.co.id
    atau sms ke: 083856647233
    gomawo ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s