Boxes of Memories

Dunia memiliki caranya dalam menyimpan sekotak kenangan yang membawa Taeyeon menjelajahi masa lalu. Kembali menapaki kenangan-kenangan akan Tiffany orang yang selalu disayanginya. Ada rahasia yang tidak mampu terkuak bahkan oleh kematian, ketika dua manusia tidak mengambil kesempatan yang mereka miliki untuk saling mencintai.

“Aku menatap koran kusam yang menempel di dinding kamar Tiffany, dengan tanggal yang tertulis di sana. Tanpa sadar air mataku mengalir karena rasa sakit yang tidak terbendung.”

Title : Boxes of Memories

Genree : Romance, Drama, Angst

Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Author : Marisa Jaya

Jika benar kita saling merindukan, lantas mengapa aku masih menduga. Benarkah rindunya tetap sama, atau telah menjadi imajinasi semu semata?

****

1 Maret 2015

Kemarahan telah menjadi emosi jamak yang memberontak di hatiku dalam setahun terakhir. Dia sanggup membakar seluruh organ hingga berhenti berfungsi sepenuhnya, mungkin aku akan mati jika harus membiarkan sepercik kenangan tentangnya terus membekas.

Seperti malam lainnya, aku terpekur memandangi layar laptop yang masih menyala di tengah kegelapan. Tanganku bergerak perlahan menelusuri halaman media sosial, sebuah kegiatan adiktif yang membuatku tampak seperti orang bodoh, karena keledai tidak pernah jatuh ke lubang menyakitkan untuk kedua kalinya.

Aku tidak menjatuhkan diriku, aku menenggelamkan seluruh tubuhku di dalam lubang kesakitan itu. Membiarkan semak belukar di dalam lubang menusuk setiap pori-pori tubuhku dan tidak pernah membiarkanku mati. Kesakitan itu yang menjelma menjadi kemarahan padanya. Mengerikan, aku tahu, tapi bukankah itu yang kau sebut jatuh cinta?

Sementara mataku tak bergerak. Aku terus terpaku pada status yang dituliskannya beberapa saat sebelum aku duduk di tempat ini.

I hope you’re doing what i’m doing. Missing you from another dimension.

Dulu kata rindu adalah ungkapan kasual yang akan diucapkannya setiap kali dia merasakan. Tidak sekarang, ketika kata “Teman” pun tidak pantas lagi disematkan bagi hubungan kami berdua. Aku tertawa lirih di tengah keheningan yang menjerat, karena detik itu juga, senyumannya yang ringan menghampiri begitu saja tanpa peringatan.

Aku ingat sore itu di sebuah kedai kopi tempat pertama kali kami bertemu.

“Aku tidak percaya bisa melihatmu seperti ini.” Ujarnya padaku. Aku tidak dapat menahan diriku untuk tersenyum ketika melihat lesung yang khas di kedua sisi pipinya. Senyuman itu selalu berhasil membuatku membayangkan kapas lembut yang menyentuh setiap inci hatiku dan tidak pernah berubah hingga detik ini.

Aku mengerutkan kening saat itu. “Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu?”

Dia tertawa mendengar pernyataan itu terlontar. Aku tidak tahu jika seseorang yang selalu berbicara tajam dengan sindiran khas yang mengerikan di dunia virtual bisa begini memesona. Seharusnya dia lebih sering tersenyum.

“Jadi, ceritakan padaku tentang Nickhun.” Ucapku dengan seulas senyum yang tulus, aku sungguh ingin mendengar cerita yang selalu dikisahkan ketika malam-malam muram tanpa tidurnya.

“Aku masih memimpikannya.”

Saat itu, dia masih menyayangi mantan kekasihnya, dan kalimat itu yang membuat senyumku pudar hanya dalam sekejapan.

****

Aku menguatkan diriku untuk terus membuka halaman demi halaman twitternya, menelusuri setiap berita dari teman-teman sepergaulan yang selalu berkomunikasi dengannya secara virtual. Hanya penuh dengan rasa belasungkawa yang berlebihan, membuatku tidak berhenti tertawa sinis membacanya.

Moving on, girl!

Taeyeon might be happy in her own heaven. Stop crying and be strong.

Aku tau apa yang kamu rasakan, tapi kurasa dia sudah bahagia tanpamu.

Persetan dengan mereka!

Mereka tidak tahu apapun tentangku. Aku menarik napas dalam-dalam meski kutahu gestur itu hanyalah kebiasaan yang telah terlatih dan tidak akan berguna, namun sungguh, itu selalu efektif untuk mengendalikan diriku.

Berbagai umpatan dan makian terbentuk dalam hati, jika saja aku bisa mengintervensi setiap percakapan itu dan membuyarkan perasaan yang telah menggumpal dalam hati seperti tumor ganas. Namun tidak, aku tidak bisa melakukannya.

Perasaan yang berjejalan, membuatku kembali terlempar pada masa itu, di kedai kopi yang sama, dengan dua jenis minuman yang berbeda.

“Aku menyayangimu bukan untuk menjadi kekasihmu.”

Aku hanya termenung, memaksakan seulas senyum dengan bibir yang gemetar. “Kau tidak mengerti perasaanmu, Tiffany.”

“Aku mengerti perasaanku, dan bukan itu yang kurasakan padamu.” Aku merasakan letupan kecil amarah yang muncul, namun tidak pernah bertahan lama jika tentangnya, “Meski aku selalu merindukanmu.” Ucapnya lagi.

“Jangan ucapkan itu.” Ujarku getir. Kepahitan telah melumuri setiap kata yang kuucapkan. “Aku tidak mengijinkanmu untuk mengatakannya lagi, jika kau tidak siap memberikan apapun.”

Kali ini bukan senyuman seringan kapas yang kurasakan, hanya kedua mata yang menatapku dalam seolah tengah mengasihaniku karena rasa yang tidak terbendung. Sialan! Bagaimana mungkin aku mencintai orang yang salah?

Fuck you! Sungguh ingin aku mengucapkan kata itu tepat di hadapan wajahnya, membiarkan seluruh amarahku tumpah ruah dan biar hatinya merasakan sakit yang sama. Namun tidak, aku tidak sampai hati melakukan hal itu. Karena sial, ada satu hal yang lebih kuat daripada rasa cinta yang selalu diagungkan oleh seluruh makhluk dunia ini. Aku sayang padanya. Tidak hanya sebagai orang yang kucintai, namun juga sebagai teman.

Pengorbanan apapun yang telah kulakukan, tidak akan berarti lagi jika aku bisa mendengar tawa renyah dari saluran di ujung telepon, ataupun euforia melalui setiap kata-katanya karena hal kecil yang kulakukan.

Hari itu dia bilang tidak mencintaiku, namun persetan, karena aku tetap menyayanginya

****

26 Febuari 2013

Dear Taeyeon,

Aku tidak tahu sebesar apa ego yang kumiliki, sekejam apa karena telah terkesan mempermainkanmu seperti ini, tapi ada satu hal yang tidak kau ketahui. Aku selalu menyayangimu, aku menyukaimu, juga.

Ini bodoh, karena rindu itu mulai mengganggu. Aku tidak pernah menyukai orang-orang yang selalu kuceritakan padamu, aku juga tidak mengerti kenapa harus membiarkanmu memercayai seluruh kencan fiktif itu. Mungkin aku terlalu takut akan menyakitimu lagi, karena kau teman yang tidak pernah meninggalkanku. Aku harus membohongimu karenanya.

Tapi sungguh, semoga kau mempercayainya. Aku menyayangimu, hanya tidak memiliki cukup nyali untuk mengatakannya.

Love,

Tiffany

 

Bodoh, tanpa kusadari aku menyunggingkan senyum membaca setiap kata yang tertulis di dalam buku bersampul biru ini. Dia selalu menyukai warna biru, aku juga, karena warna itu mampu menenangkan, dan tidak ada yang kami butuhkan selain ketenangan. Kenapa dia harus menuangkan seluruh perasaannya dalam benda tak bernyawa ini dan bukan padaku. Hari itu, dia membuatku percaya bahwa dia memang tidak pernah memerdulikanku seperti aku perduli padanya.

Kepalaku terasa lelah, meski itu tidak mungkin terjadi. Tapi sungguh, mengenang seluruh kisah ini menguras seluruh energi yang tersisa. Emosi yang bergejolak terlalu memenuhi hingga aku harus mengurangi gerak tubuhku sebelum eksistensiku menyusut seperti es yang mencair. Aku kembali terduduk di atas kursi yang didudukinya setiap malam.

Adakah sedikit ruang untuk kembali mengingat romantisme yang selalu mampu membuat jantungku berdegup cepat dan hatiku meletup oleh asmara?

Ketika malam aku mendengar suaranya di ujung telepon, dan untuk terakhir kalinya aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku padanya, dan meyakinkannya bahwa kita memang seharusnya bersama. “Aku milikmu.” Katanya malam itu.

Aku tertawa oleh gembira yang membuncah. Dia mengatakan itu dengan caranya yang selalu membuatku terkesan, elegan dan tidak berlebihan.

Itu adalah malam sebelum dia mencampakanku lagi seminggu kemudian. Mengatakan bahwa itu semua hanyalah keputusan emosional semata, dan bahwa dia tidak menginginkanku dengan cara itu. Dia telah melakukan segalanya. Segala cara untuk membuatku tahu bahwa dia tidak pernah menyayangiku seperti caraku menyayanginya dengan mengencani orang lain, yang selalu diceritakan sebagai temannya.

Saat itu, pengorbananku tidak lagi terasa berarti, dan amarahku mulai menyala seperti bara yang telah terdiam cukup lama.

Siapa yang menduga bahwa dia menulis diary itu seminggu setelah mencampakanku dengan kencan bualannya dan resah karena rindu? Siapa yang menyangka bahwa dia menyayangiku seperti aku menyayanginya? Siapa yang menyangka dia tidak mengungkapkan semua itu karena dia tahu, dia tidak akan pernah cukup baik untukku?

****

Aku menatap koran kusam yang menempel di dinding kamar Tiffany, dengan tanggal yang tertulis di sana. Tanpa sadar air mataku mengalir karena rasa sakit yang tidak terbendung. Dua tahun berlalu semenjak aku berhenti berbicara lagi dengannya, alam semesta tidak lagi memberiku sedikit kesempatan untuk bisa bersama dengannya, atau bahkan mengungkapkan perasaan yang selalu ada. Hanya satu hal yang dia tahu, bahwa aku membencinya semenjak kejadian dua tahun lalu. Meski tidak, aku tidak sanggup penuh membencinya.

1 Maret 2014

Seoul – Tabrakan antara kereta cepat dan kereta penumpang lokal pada Sabtu melumpuhkan jalur kereta utama Korea Selatan, kata pejabat transportasi. Kereta berkecepatan tinggi dihantam pada sisinya oleh kereta lokal saat kereta itu melaju melalui stasiun kereta Daegu, kata kementerian transportasi dalam sebuah pernyataan.

Sebelas gerbong penumpang, termasuk sepuluh dari kereta berkecepatan tinggi, tergelincir dalam kecelakaan yang melumpuhkan rute utama antara Seoul dan kota Busan, selama hampir tiga jam.

Semua penumpang, dengan total 540 orang berada di kedua kereta, 56 mengalami luka berat dan perlu melakukan perawatan, sementara 10 penumpang tewas, sedangkan sisanya mengalami cidera ringan. Kantor berita Yonhap mengatakan beberapa penumpang menderita cedera ringan saat mereka berupaya keluar melalui jendela.

Setahun setelah perpisahan kami, hari kematianku, jika kau belum bisa menduga. Hari itu aku membawa seikat bunga mawar putih dan selembar surat pertemanan untuknya, hanya agar dia tahu bahwa aku tidak pernah membencinya seperti yang terlihat dan akan terus ada untuknya.

Aku termenung menatap gambar gerbong kereta yang kutumpangi pada hari itu hancur lebur, tidak sanggup kubayangkan bahwa tubuhku pernah berada di antaranya. Hari ini, setahun setelah kematianku, aku tidak tahu mengapa arwahku tetap berada di tempat ini, di kamarnya. Duduk di kursi yang sama yang selalu diduduki oleh Tiffany setiap malam hanya untuk membaca obrolan kami dalam jejaring media sosial di masa lalu, atau sekedar menatap foto-foto kenangan yang telah usang.

Terdengar isakan yang telah begitu familier dalam setahun belakangan. Dulu dia menderita insomnia parah ketika aku pertama kali mengenalnya, dulu akan kutahan rasa kantukku hanya agar bisa terus berbincang dengannya, namun hari ini, insomnia itu kembali menyerang, dan meski aku mampu menatapnya semalaman penuh, aku tidak mampu lagi berbicara ataupun tertawa karena candanya.

Dia tidak bisa mendengar atau melihatku.

Ketika hidup, alam semesta selalu berhasil menyembunyikan perasaanya yang tersimpan dalam setiap lembar buku harian itu. Kini, setelah kematianku, alam semesta tidak juga mengijinkannya mengetahui bahwa aku tidak pernah membencinya dan selalu menyayanginya.

Dunia memiliki caranya, mungkin kami memang tidak pernah diijinkan bersatu.

Aku menghampiri sosoknya yang terbaring di tengah kegelapan dengan mata sembab dan belum juga terpejam. Wajahnya tampak semakin tirus, dan bibir itu tidak berhenti gemetar, mengucapkan kalimat yang sama untuk puluhan kalinya. “Kim Taeyeon, aku rindu padamu…” ucapnya lirih. “…kau pantas untuk membenciku.”

Tidak, aku tidak pernah membencimu, sayang.

Kalimat itu hanya tercekat dalam tenggorokan. Aku telah meneriakan kalimat itu sejak hari pertama menghuni ruangan ini, namun dia tidak pernah mendengarnya. Selalu kalimat sama yang dibisikannya dengan suara bergetar setiap malam.

Hari ini tepat setahun kematianku, dan kurasakan lelah yang memudarkan seluruh eksistensiku. Aku memejamkan mata, mengucapkan kalimat yang sama untuk terakhir kalinya sebelum tubuhku menyusut dan menghilang perlahan.

Suara yang menggema hanya dalam duniaku, “Aku menyayangimu, dan tidak akan pernah sanggup membencimu.”

Namun dia tidak mendengarnya, dia tidak akan pernah bisa mendengarnya.

END

Advertisements

37 thoughts on “Boxes of Memories

  1. Abis ngurusin berkas pasien meninggal dan tiba tiba baca cerita bgini … makin ancur perasaan -_-
    Kalo ada setan kya taeyeon dikamar gue, gue betah tiap hari nungguin taeyeon dateng hahahaaa #gila

  2. emang bener ya, penyesalan tu di belakang, klo di depan mah gx ada yang sedih dong.. jujur, baca ff yang paling dpt feel nya klo sad, apalagi klo JETI yang nangis ahhhh udah enough .. banjir airmata q,, di sini fannyyyyy TT

  3. marisa!!!
    ah.. akhirnya kamu balik!
    tapi udah balik bikin ff mewek kek gini. T_T
    Taeny pula, kan pairing favorit saya itu. dan aku kira tiff yang udah ga ada. yah, feelnya dapet banget dan bahasanya keren kek biasanya, malah lebih keren. aku ga punya kata-kata lagi selain keren. karena itu ungkapan jujur, jadi keren lah. atau kamu mau ngasih tau aku kata yang lebih baik daripada keren? soalnya itu cocok buat kamu. hahaha
    NICE!!

  4. Nah kan akhirnya muncul lagi 😀 .. Gue kudu bca ulang ini ff bru ngerti inti nya, bkan krna berbelit tpi bhsa ny trlalu bgus dan gue ny yg agak2 lola. Untuk yg kesekian kali ny gue tersanjung ama tulisan lo, kak. Dari atas sampai tengah gue sama sekali gk paham maksud dri cerita ini tpi bgtu tiba di bgian pnutupan semua tanda tanya itu terjawab dan gue harus baca ulang untuk lebih menghayatinya. Gue sllu bilang, gue suka cerita lo tpi stiap bca cerita2 yg lo post gue hrus bca berulang-ulang spya paham. Apakah gue kdu blajar ttg bgaimna karakter lo dlm mnulis? Atau emg gue yg kekurangan ilmu untuk memahami tulisan indah lo??

  5. Tulisan lu smakin berat aja ya…meski gw gak melihat adanya benda logam ato semacamnya di sini…sumprett,gw harus baca 2x…baru deh bener” paham…
    Ini gw nya yg bodoh ato gimana ya???
    Hahahahahha
    Yeyyy…
    Lu nepatin janji oneshoot Taeny nya…
    Dn knapa jg hrs sad ending???
    Gak ada yg lbh nyakitin slaen perpisahan lewat kematian yaa…
    Apa yg belum pernah diucapkan,belum pernah dilakukan pasti akan jadi penyesalan seumur hidup tu…
    Yaa…gw mewek lagi kan jadinya…
    Huhuhuhuhuhu

    Ya uda…ditunggu dh karya lu laennya…
    Dn smoga gak sad ending lagi…
    Hahahhahhaha

  6. annyeong…
    hadeh nih one shot yg menyuras emosi bngt deh,syang taeny g bs bersatu
    emang penyesalan selalu dateng belakangan,fany yg kuat mg taeny bs brstu di kehidupan yg akan mendatang

  7. Waaa ternyata dah lama gw g mampir dan ternyata lo muncul laghe rotii..
    Waaaa taeng ampe penasaran n abis kontrak jadi hantupun tetep g kesampean ngomong ma pany..
    Huaaaa sad..

  8. sumpah sampe nangis baca’y..miris bgt taeng’y mati….
    tp tu arwah taeng keren bgt ye bisa twitteran wkwk
    sad ending….taeny ga bersatu…

  9. Ceritanya baguuuuusssssssss!!!!!
    Asli keren keren keren..
    Menyentuh…
    Reaksi gw sama taeyeon sama pas nama org thailand itu muncul senyum gw langsung memudar..hahahahahaha
    *yg fansnya dia maaf
    Sering sering bikin oneshot yg menyentuh ya thor..hehehe
    Next ff oneshot yg menyentuh lagi ya tp kalo bisa happy ending..hehehehe *maksa

  10. Wae? Wae?.. Ada apa denga’mu fanny? Kenapa kau mempermainkan taeng hanya karna kau merasa tak pantas untuknya?!.. Andai saja waktu itu kau tak mempermain’kan taeng, Mungkin kau tidaj akan merasa bahwa taeng membenci’mu, dan taeng juga tak akan merasa bersalah seperti ini,, walaupun pada akhir’y dia harus pergi.. 😦

    Ff’y kece eonn, Galau abis..
    apa lagi baca’y tengah malem kayak gini(?).. *apa_hubungannya.. XD

  11. Duuuhhh… Roti; taeny nya gni amat yak. Nyesel dah tuh si panny, ampe insomnia nya kambuh… Taeyeo segitu cintanya ama panny ampe gk bisa ngebencinya… Salut deh buat taeng…
    Oklah di tunggu karya lainnya yaaaaa

  12. You’re back! Thank you kak..
    As always, ff kaka itu selalu luar biasa. Penulisannya, alur ceritanya, semuanya kerenn. Bahasanya jg indah.. Meski tak seindah endingnya..

  13. ….
    aku gak ada comment soal ceritanya. sial ini cerita nyeseknya taeyeon kebayang, bener2 bener kebayang dan kalau aku jadi dia…. aku juga bakal sama seperti itu

  14. aduh rot lw paling jago deh ngubek2 prasaan reader..#author spesialis angst bhahaaahaaa*just kidding*

    nyesek bngtt itu jd fany n tae.. fany slamany bakal hdup dlm penyesalan krn udh nyembunyiin prasaanny ke tae smpe tae matee.. n slamany berpikir klo tae mati dngn rasa benci ke dia..*nangis darah dehh*

    udh akh gw terlalu hanyut klo baca crita tukang roti :p
    di tunggu it’s mean to be nya yulsic rot.. tq^^

  15. aduh rot lw paling jago deh ngubek2 prasaan reader..#author spesialis angst bhahaaahaaa*just kidding*

    nyesek bngtt itu jd fany n tae.. fany slamany bakal hdup dlm penyesalan krn udh nyembunyiin prasaanny ke tae smpe tae matee.. n slamany berpikir klo tae mati dngn rasa benci ke dia..*nangis darah dehh*

    udh akh gw terlalu hanyut klo baca crita tukang roti :p
    di tunggu it’s mean to be nya yulsic rot..tq^^

  16. ya ampun jd taeyeon yg meninggalnya.. waktu awal2 cerita aku masih bingung karena bahasanya terlalu berbelit-belit bwt ku

  17. aaaakk,,bahasanya keren :3
    romantis, ga berlebihann,,
    memang butuh dibacaberulang2 wkwkwk
    #maklumlemot-_-”
    tapi intinya memang harus ungkapin perasaan biarpun sakit,, jadi ga akan menyesal bila saatnya tiba,, #apadah wkwkwkwk

  18. Hai Marisa, gue suka oneshoot2 buatan lo, meski yang gue baca cmn yg taeny aja tapi wp lo satu-satunya wp yang gue baca karena sampe saat ini cuma tulisan lo yang cocok ama gue. anw gue juga nulis, baru banget. mungkin lo mau liat bisa diklik di uname gue, atau ini: tiranibaru.wordpress.com
    Thanks ya udah bikin tulisan bagus..

  19. HAHAHAHAHA sedih gueee.. -_-
    lama tak mampir kemari trnyata sdh apdet ff lagi.. menghilang dari peredaran bumi (?) mencari inspirasi untuk menulis cerita taeni wkwkwkwkwkwwkwk
    ya sud ya mau baca yg lain dulu coba (?) :v :v

  20. Kenapa.. kenapa..kenapa sad ending thor T^T
    perasaan tdi gua bca ff happy happy ajh sweet malah..
    Ini kaga ada sweet sweetnya acan T^T
    appa gua mati wehhh… huhuhu
    panny menyesal kan lu..
    panny klo gni butuh time mecine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s