Ghost – 2

Hari ke-empat, dua hari yang lalu. Taeyeon menggenggam cutter dengan tangan yang gemetar. Dia membalikkan lengannya, menunjukkan pergelangan tangan dengan bilur urat nadi yang berwarna hijau kebiruan. Jika dia memotong ini dengan cukup dalam, harus cukup dalam, dia bisa mati kehabisan darah. Apakah ini akan menyakitkan?

Tepat ketika mata pisau menyentuh dan siap menggores kulitnya, pensil dari atas meja melompat jatuh. Selimut tebal yang digunakan untuk menutup jendela masih tetap menyisakan sedikit cahaya bagi Taeyeon untuk menangkap siluet benda-benda di dalam kamarnya. Pensil itu terjatuh secara tiba-tiba.

Suara pensil yang jatuh seperti hantaman bagi kesadarannya. Taeyeon melempar cutter itu ke arah pintu. Dia hampir melakukannya. Dia hampir membunuh dirinya sendiri.

Mengapa patah hati harus menyakitkan seperti ini?

Mengapa Tae Woo harus berciuman dengan gadis itu di depan matanya? Mengapa?

Pagi ini, Taeyeon berhenti menanyakan pertanyaan itu ketika dia membuka mata. Dia memiliki pertanyaan lain, untuk teman barunya yang mengaku sebagai hantu.

“Apa kau yang melakukannya?” Suaranya terdengar parau karena menangis semalaman. Lalu mengernyit karena silau yang menusuk dari luar jendela. Selimut yang dia gunakan terjatuh dan teronggok di sudut ruangan.

“Menjatuhkan pensil itu? Ya. Aku yang melakukannya.”

“Mengapa kau melakukannya?”

“Mengapa kau melakukannya, Taeyeon-ssi?”

“Karena aku tidak punya pilihan lain. Pernahkah kau jatuh cinta?”

Hening.

Suara itu tidak menjawab.

Mereka terdiam dalam dua jam ke depan, suara tanpa wujud itu seolah tidak berniat mengobrol dengannya seperti semalam. Taeyeon, Taeyeon kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri menatap langit-langit kamar mengandalkan cahaya matahari dari jendela. Dia tidak sadar, betapa dia merindukan cahaya ini. Kehangatan ini.

“Siapa namamu?”

“Kupikir kau akan memanggilku ‘si hantu’ seumur hidupmu.” Suara itu terkekeh, dia berada di ujung ruangan dekat dengan pintu keluar. Taeyeon dapat merasakannya. “Hwang Mi Young.”

“Kenapa kau tidak pernah berbicara denganku sebelumnya?”

“Aku sudah mencoba. Ratusan kali kurasa. Kau tidak pernah bisa mendengar.”

Taeyeon mulai merasakan suhu yang dingin di sekitar tubuhnya, Mi Young mungkin berjalan mendekat. Meski dia tidak begitu yakin.

“Apa kau berada dekat denganku sekarang?”

“Kau bisa merasakannya?”

“Kau cukup berguna untuk musim panas, kurasa. Jika kau berada dekat denganku rasanya dingin.” Taeyeon tersenyum atas candaannya sendiri. Entah apakah Mi Young juga tersenyum bersamanya, tapi dia pikir itu cukup lucu. “Memangnya apa yang ingin kau bicarakan denganku selama ini?”

“Entahlah, banyak hal.” Selimut di atas ranjang Taeyeon sedikit terangkat, dia menduga kini Mi Young tengah duduk tepat di sebelahnya. Karena tentu saja, dia merasakan dingin yang menusuk di sisi kiri tubuhnya. Taeyeon berusaha menyamankan dirinya dan bersandar pada dinding. “Aku selalu menyorakimu dan bertepuk tangan setiap kali kau bernyanyi dengan gitarmu itu.”

“Seperti penggemar beratku?”

“Yap, seperti itu. Tinggal di ruangan sempit ini membosankan, hanya kau satu-satunya hiburanku.”

Taeyeon tertawa geli. Dia sendiri tidak yakin mengapa tertawa begini, dia merasa lucu menyadari ironi yang terjadi pada hidupnya kini. Berbicara dengan suara tanpa wujud, sementara dia sendiri belum begitu yakin benarkah ini hantu atau hanya halusinasi gilanya. Lucu, sangat lucu, karena hal ini membuatnya nyaman. Kenyamanan yang sudah lama tidak pernah dirasakannya. Bahkan dari jauh hari sebelum Tae Woo mencampakannya.

****

Matanya mengerjap, langit-langit kamar yang putih seolah tersentuh oleh cahaya kekuningan matahari sore. Matahari nyaris terbenam. Taeyeon menekan kepalanya dengan kedua tangan, dia merasa sangat pusing. Rasa pusing yang menusuk ini sudah menyerang sejak beberapa hari lalu. Dia juga tidak memiliki tenaga untuk bangkit dari tempat tidurnya. Maka dia hanya berbaring di sana dengan pikiran yang kosong.

“Makanlah, Taeyeon-ssi. Kau sudah tidak makan tujuh hari.”

“Aku ingin mati.”

Mi Young tertawa kecil, “Mati rasanya tidak enak.”

Taeyeon menoleh, menatap pigura-pigura lukisan yang terpajang di dinding, namun dia tahu Mi Young ada di sana, tepat di hadapannya sedang berbaring dan juga menoleh ke arahnya meski dia tidak dapat melihatnya.

Dia menyunggingkan senyum kecil, “Coba kau pikir dari persepsiku, mati sepertinya lebih menyenangkan. Apa gunanya aku hidup, tanpa teman, tanpa cinta. Kuliahku sudah berantakan sekarang, aku tidak memiliki masa depan, aku tidak tahu akan dibawa kemana hidupku.”

Taeyeon sedikit terkejut ketika sesuatu yang dingin menyentuh punggung tangannya. Baru kemudian menyadari, Mi Young, suara tanpa wujud itu berusaha menggenggam tangannya. Tidak seperti sentuhan yang dia dapatkan dari manusia, namun seperti tekanan, masa angin yang berat menindih tangannya. Hmn, ini sesuatu yang baru, pikirnya.

“Tapi, ketika kau mati, kau akan menyadari kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya dapat terjadi jika kau masih hidup. Namun kau tidak lagi punya harapan, karena kau sudah berada dalam dunia dimana tidak ada yang menyadari keberadaanmu. Dunia transisi.”

“Dunia transisi? Menuju dunia apa?”

“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Neraka mungkin? Seperti yang diceritakan oleh kitab-kitab itu?”

“Hmn, pemikiran yang gelap.” Taeyeon kembali menoleh dan menatap ruang kosong.

“Kenapa kau melakukannya?”

“Apa?”

“Menatap mataku terus.”

Taeyeon menaikan kedua alis, “Ah, aku menatapmu tepat di matamu?”

“Iya, seperti sekarang.”

“Entahlah… Aku hanya melihat ruang kosong sejujurnya.” Taeyeon menyunggingkan senyum kecil, “Terima kasih, Mi Young. Jika pun kau bukan hantu… atau apalah. Kau sudah menjadi temanku.”

Dia merasakan energi yang berada di punggung tangannya semakin berat, seperti mencengkram. Mi Young tengah mempererat genggaman tangannya. Dan entah mengapa, dia merasakan sesuatu menghangat dalam hatinya. Membuatnya memejamkan mata dan membiarkan posisi tangannya tetap begitu, karena bahkan Taeyeon tidak dapat lagi mengingat kapan terakhir kali dia merasa seperti ini.

Matanya terasa berat, mungkin karena rasa lapar yang mendera atau tidur adalah dunia semu yang lebih menyenangkan dibanding dunia nyatanya. Dia mulai memejamkan mata. Saat itu, mungkin dia berhalusinasi, atau dia memang mendengar suaranya, Mi Young berbisik tepat di telinganya, “Aku sayang padamu, selalu, Taeyeon-ssi.”

****

Dia pikir dia sudah mati.

Oh, begitu inginnya dia mati.

Namun, suara yang lembut begitu persisten berusaha membangunkannya. Taeyeon tidak dapat membuka mata, dia benar-benar tidak memiliki tenaga untuk melakukannya. Meski dia mulai menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya. Napasnya yang berat dan tersengal, suara Mi Young yang terus memanggil-manggil namanya.

Mungkin jika Mi Young dapat menyentuhnya dia sudah mengguncangkan tubuh Taeyeon hingga terbangun sepenuhnya. Taeyeon tidak mau. Dia tidak ingin membuka mata dan menghadapi dunia serta depresinya sendiri. Dia ingin tetap seperti ini hingga dia benar-benar mati kelaparan. Karena dia pengecut, karena dia tidak sanggup memotong urat nadinya ataupun menggantung lehernya di langit-langit kamar.

Lalu suara itu berhenti. Mi Young berhenti memanggil-manggil namanya.

Taeyeon merasakan keberadaan Mi Young semakin dekat dengan tubuhnya. Dia dapat membayangkan hantu itu kini berbaring di sebelahnya, beringsut dan memeluk tubuhnya dari samping. Taeyeon merasa lucu karena bayangan aneh itu, tapi dia menyukainya. Imajinasinya sendiri.

“Aku selalu melihatmu di stasiun. Membawa tas ransel berwarna coklat favoritmu. Hmn… dengan gantungan kunci doraemon, yang, jujur saja kupikir sangat konyol itu.”

Taeyeon tersenyum mendengar Mi Young bercerita dengan jarak yang sangat dekat dengannya. Seolah dia benar-benar berbisik tepat di telinganya.

“Aku tidak tahu kenapa merasa tertarik padamu. Aku berada di stasiun itu pertama kali dan kebetulan melihatmu. Kau yang terpisah dari dunia nyata dengan headset dan lagu-lagumu. Aku tidak menghampirimu. Tidak mengajakmu berkenalan, bukan karena aku takut.” Mi Young tertawa, tenggelam dalam ceritanya sendiri, “Tapi menurutku kau sangat… indah. Sesuatu yang indah, yang akan lebih indah jika hanya kulihat dari jauh. Kau tahu, kadang ketika kita mendekati sesuatu yang kita suka, kita tiba-tiba tersadar tidak benar-benar menyukainya.”

Taeyeon mendengus, mengejek kalimat terakhir Mi Young. Filosofi yang konyol. Ketika kau menyukai sesuatu tentu saja kau harus mendekatinya dulu untuk memastikan, pikir Taeyeon.

“Sejak hari itu aku selalu berada di stasiun itu setiap hari. Menunggumu, mengamatimu, menikmati keindahanmu.”

“Lalu kau mati tanpa berkenalan denganku.”

Bahkan Taeyeon terkejut dengan suaranya sendiri. Dia hampir seperti berbisik, suaranya begitu lemah dan parau.

“Ya, tiba-tiba jiwaku terjebak di dalam ruangan ini sejak itu. Aku terikat padamu, entah mengapa.”

“Kalau begitu biarkan aku mati agar kita berada dalam dunia yang sama.”

“Tidak. Aku tidak ingin terjebak terus di sini, dan kurasa kau mati bukan jalan keluar. Aku tidak mau menjadi arwah penasaran bersama dengan orang menyebalkan dan sok tahu sepertimu, Taeyeon-ssi.”

Taeyeon tertawa mendengar nada sinis dalam suara Mi Young. “Jadi lebih indah melihatku dari jauh daripada mengenalku langsung seperti ini, ya?”

“Kau lebih indah saat tidak berbicara.” Mi Young tersenyum, Taeyeon dapat merasakannya, “maukah kau membantuku?”

“Apa aku terlihat dalam kondisi yang mampu untuk membantu orang—makhluk  lainnya di dunia ini?”

“Anggap saja untuk membalas budiku?”

Kedua alis Taeyeon bertaut, “Sejauh yang kuingat kau tidak melakukan apapun selain mengganggu ketenangan hidupku?”

“Aku sudah membantumu menemukan kaus kaki pandamu. Ayolah!”

Taeyeon menghela napas. Kaus kaki panda, tentu saja karena kaus kaki murahan itu sebanding dengan membantu arwah penasaran kembali ke dunia yang seharusnya. Ada yang salah dengan cara pikir hantu aneh ini, ujarnya sinis pada diri sendiri.

“Jika pun aku ingin…”

“Yeiy!”

“…aku tidak tahu harus bagaimana, Mi Young-ssi.” Taeyeon terdiam, menunggu jawaban hantu itu, namun Mi Young bergeming. Tidak menjawab. “Apa kau masih ada di sini?” Aneh, karena Taeyeon masih merasakan keberadaannya.

Mi Young berdeham memecah keheningan, “Sudah lama aku tidak pernah mendengar namaku sendiri.”

Taeyeon tersenyum mendengar pengakuannya, “Mi Young, Mi Young, Mi Young. Sebetulnya nama itu menyenangkan untuk diucapkan. Hmn, aneh.”

“Apa kau bersedia membantuku kalau begitu?”

“Oke tapi biarkan aku mati setelah ini, janji?”

Mi Young memeluknya, Taeyeon dapat merasakannya. Entah mengapa Taeyeon dapat merasakannya, kedua tangan yang melingkar, kedekatan yang semakin intim antara mereka, dan kepala Mi Young yang berada di lehernya. “Janji.”

“Sekarang apa yang bisa kulakukan kalau begitu?”

“Buka matamu.”

Taeyeon membuka matanya dan menatap langit-langit kamar yang familier. Sekarang sudah malam, mengapa dia dapat melihat… ah, Mi Young menyalakan lampunya tentu saja.

“Sekarang lihat ke atas meja belajarmu.”

Taeyeon mengangkat sedikit tubuhnya dan merasa mual melihat nampan di atas meja, pasti umma yang menyiapkannya. Nasi, potongan daging, dan segelas air. Namun dia juga dapat merasakan perutnya yang semakin bergolak melihat nampan itu. Taeyeon sangat lapar.

“Makanlah. Aku sudah menggunakan tujuh puluh persen energiku hanya untuk membawa nampan itu masuk ke dalam sini. Kau sadar, kan, aku ini hantu tidak dapat menyentuh benda padat dengan mudah?”

“Tapi aku…”

“Kau boleh mati setelah ini, kau kan sudah janji!”

Taeyeon mendengus kesal, sebetulnya dia tidak perlu berdebat melawan Mi Young, karena Taeyeon sudah berniat memakan makanan di atas nampan itu, tapi mendengar suara hantu itu merajuk kesal seperti tadi ternyata menyenangkan. Oh, dia benar-benar mulai gila.

Dengan lunglai Taeyeon menghampiri nampan itu dan mulai makan sambil menatap kosong ke arah dinding.

“Kau melakukannya lagi.”

“Apa?”

“Kau menatapku, Taeyeon-ssi.”

“Tidakkah kau senang? Ditatap oleh orang yang kau kagumi selama ini?” Taeyeon menyunggingkan senyum jailnya.

“Oh, semoga kau tidak jadi lebih menyebalkan setelah kenyang.”

To Be Continued

Advertisements

36 thoughts on “Ghost – 2

  1. Waahh jdi miyoung waktu hidup udh suka sama taeyeon.. lah terus kenapa itu dia bisa terjebak dikamarnya taeyeon.. dia matinya knapa?

  2. Jadi? Miyoung ini beneran udah mati dan jadi arwah penasaran ato dia cuman jiwa yg nyasar kerumah tae sangking cintanya dan lupa ama tubuhnya sendiri? Kekekeke tae udah punya perasaan hangat waktu deket miyoung, semoga ada titik cerah buat hubungan taeny, krn aku sendiri suka nyesek klo baca drama beda alam gini 😆 Ditunggu next chapnya outhor-ssi 😂 oh btw aku pembaca baru, anyeong 😊

  3. Ambilah dr sisi positifnya… Sang author memberikan cermin pd kita bhwa yg nmnya cinta bahagia sakit patah hati di dua kan ,, itu tuh sudah sifat alami n wajar bukan mendapatkan gelar itu semua tp bertujuan baik.. Krna selama proses ms sulit itu baru lah menemukan sosok yg membuat kenyamanan akan hadirnya dia yg mengubah semua kebiasaan menjadi terbatas..
    Jgn melihat judulnya atau pun main castnya.. Liat lah sisi tulisan yg menyajikan kata yg sbenernya terjadi… Bodoh klo tidak menyadarinya😊😊 gomawo thor

  4. Okay , klo bsa di simpulkan . Tiffany itu pengagum rahasia Taeyeon :v dan Tiffany juga tertarik atau lebih tepatnya sayang mungkin sama Taeyeon. *sweet
    Tapi, yg jadi pertanyaan itu gimana Tiffany bisa ngikut sama Taeyeon ?? meninggalnya kenapa ?? apa ini cuman halusinasi Taeyeon aja ? penggambaran alam bawah sadar ? orang depresi biasanga begitu pan :v
    Kaos kaki bisa diajak ngomong mungkin sama Taeyeon -_-
    Mati jadi treadmark Taeyeon :v

  5. jangankan taeyeon
    bahkan gw mulai berkhayal-__-”
    agak aneh sih ini cerita tp yahh mungkin nanti ada sesuatu yang mengejutkan
    ditunggu yaw lanjutannyaaa

  6. Fans berat Tae ternyata Fany semasa idup ny.. Aqoh yakin klo Fany tu masih idup.. Koma misal ny.. Taeny pasti bertemu kn d dunia nyata

  7. Aduh gw baper ama nih ff… sweet moment nya kayak berasa ngalir aja gitu…
    Hiyahhhh… si tippa pasti hanya jiwa yg lagi melayang tapi tubuhnya masih d rumah sakit mungkin seperti koma.
    si tae kok niat bener mati. Aduh udh pake janji segala lagi. Makin berabe dah nih kalo tae tau bahwa miyong itu dewi sexy superr cantik kalo gk pake baju… muahahah
    Seru thorrr… ff nya menarik. Lo bisa d rekrut jadi penulis ama SM entertaiment 89 tahun mendatang thor…wkwkw…
    Okay see u thor hwataenggg!!!
    I’ll be waiting your fanfic

  8. Wahhhh taeng ditaksir hantu!!!!!wooowwwww hebat saking kerenya hantu pun tak berkutik!!!hahaha lucu padahal tae bukan sengaja menatap miyoung😂miyoung panik ditatap seperti itu mah orng yg ditaksirnya,lanjut thor,ceritanya keren!!!

  9. bgs ih cerita nya thor makin penasaran sma chapter kedepan nya… apalg si fany udah demen sma tae gt… apakah fany minta bantuan tae buat menemukan raga nya atw memecah kan penyebab fany metong… ??? semangat ya thor

  10. bgs thor ceritanya … knpa w yakin ya klo si fany msh hidup ,mknya dia minta bantu an sma tae mungkin buat nyari raga nya… biar bs bersatu cinta nya dengan tae… aduh fany msh jd hantu aja udah salting diliat sma tae gmn ntr klo dicium tae…wkwkwk

  11. aigooooo taeny so cuteeeeeeee hahahahhaa
    mreka slalu bisa bikin aq senyum” hahahaha
    tpi baver ma pany bneran gk sihh dia hantu klo iyaaa aduhhh gw tambar baverr
    unniee tlong donk bikin keajaibnnn buat taeny
    semangat teruss ya eonn
    fightinggggggggggggggg

  12. Taeyeon luh kira mati itu kaya proklamasi hari kemerdekaan 😂 pake janji segala lagi 😂

    Ffnya bagus dan makin seru. Jadi penasaran bagaimana kisah selanjutnya. Semangatt buat nulisnya thor 😊

  13. Seru juga…
    Gue malah ngebayangin kalau itu bener2 ada….
    Rada2 mistis sih…
    Hahaha…
    Gue aja takut ama pilem horor apalagi kalau ketemu…
    Lari kebirit2 dah gua…
    Si miyoung masih misterius banget…
    Dia itu antara udah mati apa masih hidup…
    Atau dalam keadaan kritis…
    Entahlah…
    Hanya author yg nanti memberi tau..

  14. Makan sih makan kenapa entr tae nya matii
    Wkakakakak
    Duhh taenyyy
    Miyoung suka tae ternyta
    Pas msih hidup
    Trs dia mti kenapa
    Knp bsa di kmr tae
    Wkkwkwkkw
    Lanjut thorrr mkin pensrnn

  15. Haha lucu… Jangan bilang tipa mati karena sakit hati ditinggal taeyeon lagi haha… Lanjut author

  16. Walau fany ini semu alias hantu
    tapi sweet momentnya itu terasa nyata.
    Jadi senyum2 sendiri..
    Cepat d lanjutin ya thor..
    Penasaran apa yg sebenarnya fany inginkan..
    Btw, salam kenal. New reader nih.

  17. Walau fany ini semu alias hantu
    tapi sweet momentnya itu terasa nyata.
    Jadi senyum2 sendiri..
    Cepat d lanjutin ya thor..
    Penasaran apa yg sebenarnya fany inginkan..
    Btw, salam kenal. New reader nih

  18. Tinggal tunggu konfirmasi kenapa hwang bisa mati hehehehhe. Lucu sih? Ini lu imajenasi aja apa lu pernah ngalamin Thor kekekeke, maksudnya ngobrol dan berinteraksi dengan hantu 😂😂😂

  19. Ih.. Sweet banget, taeyeon ngeliatin Mi young trus, Mi young salah tingkah. .
    Ini ff bagus, ngalir aja bacannya

  20. krn patah hati mau mati aja tae, itu miyoung suka sm tae ato gmn, knp bs jd hantu n ngikut sm tae, sng ya tae dpeluk sm hantu miyoung

  21. Oh…my taeny nya manis banget keknya gw mulai jatuh cinta sama ceritanya sama kayak miyoung yg udah jatuh hati sama taeyeon hihi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s