Every Inch

Every Inch - Cover

Setiap inci, setiap sentuhan jari, setiap langkah kaki. Ada Tiffany di sana. Ada kenangan mereka, kebahagiaan mereka, memori yang dirajut bersama.

Xxx

26 Juni 2016

Taeyeon tertegun, memandangi pria tua di hadapannya dengan tatapan kosong. Dia tahu pria ini berteriak padanya, namun tidak benar-benar mengerti apa yang dikatakannya.

“Hei! Kau mulai tuli juga sekarang, hah?!”

Keningnya berkerut, Taeyeon menggelengkan kepalanya berusaha mengembalikan kesadarannya ke tempat semula. Dia berusaha mengingat semuanya. Pria tua yang melotot di hadapannya, gelas kopi yang tumpah dan celana berwarna khaki yang kini tertumpah oleh cairan hitam itu. Dada pria itu kembang kepis, sepertinya dia marah sekali tadi sampai tersengal-sengal begitu, dan Taeyeon tidak mendengar satu pun perkataannya.

Kemampuan fokusnya memburuk.

“Maaf, sungguh, maafkan aku.”

Taeyeon membungkuk berkali-kali dan meminta maaf.

Pria itu menggelengkan kepalanya, amarahnya mulai mereda.

“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Taeyeon-ssi? Pekerjaanmu semakin tidak beres saja akhir-akhir ini, bahkan untuk membawakan kopi kau ceroboh begini.”

“Maafkan aku.”

“Sudahlah. Kuharap kau membereskan masalahmu dan mengerjakan pekerjaanmu dengan baik.”

Taeyeon mengangguk lalu berjalan keluar.

Kakinya melangkah cepat menuju kamar mandi, membanting pintunya, dia duduk di atas closet. Dia menangis, tentu saja. Tidak ada hal lain yang dilakukannya akhir-akhir ini selain menangis.

Taeyeon tidak tahu lagi harus bagaimana. Patah hati yang dia rasakan sudah melampaui batas kemampuannya, dia tidak tahu kehilangan seseorang dapat membuatnya kehilangan hampir seluruh dirinya sendiri.

Xxx

Kios kecil yang menjual ayam barbeque kesukaannya semakin sepi setiap harinya. Namun Taeyeon tetap datang ke sini setiap sore, meski akhir-akhir ini dia lebih sering membuang kotak berisi ayam itu ke tong sampah segera setelah dia membelinya. Mungkin bukan makanan yang menjadi tujuannya, tapi berbagai kenangan yang terjadi di tempat ini. Terutama hari ini.

“Nona? Sendiri lagi?”

Pria kurus yang sudah familier itu bertanya dengan senyum gugup.
“Ah, biasanya kau datang bersama temanmu, ya. Kalian sering sekali datang ke tempat ini.”

Taeyeon hanya mengangguk dan melayangkan senyum kecil.

Rambutnya botak sekarang, meski masih menggunakan kacamata tebalnya itu. Sepertinya dia menjatuhkan kacamatanya, karena dia menyambungkan tangkainya dengan perban berwarna coklat tua.

“Kau menggunting rambutmu, he?”

Pria itu tersenyum, “Ya, ya. Bosku menyuruhku menggunting rambut. Katanya tidak enak pada pelanggan melihat rambutku seperti itu, mungkin pelanggan jadi jijik atau semacamnya.”

“Badanmu juga terlihat semakin kurus.”

Dia malah tertawa mendengarnya, “Terima kasih nona sudah perhatian sekali. Bos memotong gajiku juga sekarang, kau pasti lihat sendiri kios ini semakin sepi pelanggan.”

“Kenapa tidak pindah kerja saja?”

“Ah. Sudah syukur dia mau menerimaku kerja di sini.”

Sudah sekian lama, tangannya masih tetap gugup dan menjatuhkan potongan ayam berkali-kali.

Akhir-akhir ini juga, Taeyeon menjadi lebih ramah padanya. Mereka mengobrol akan beberapa hal. Meski singkat dan sederhana, Taeyeon merasa membutuhkan ini. Taeyeon membutuhkan jawaban. Taeyeon hanya ingin tahu, apa salahnya, mengapa kisah cintanya kandas begitu saja, mengapa tempat dia menaruh hati dan kepercayaan berjalan pergi dengan begitu mudahnya.

Dia pikir, mengobrol dengan pria kurus ini, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang tidak pernah disadarinya dapat memperbaiki itu semua. Agar yang berjalan pergi bisa kembali.

Xxx

26 Juni 2015

Taeyeon mengamati pria berambut keriting itu dengan saksama, dia menjatuhkan potongan-potongan ayam bersaus itu kemana-mana. Moodnya mulai memburuk melihat pelayan itu bergerak dengan lelet dan ceroboh. Astaga, kapan makanan mereka akan disajikan.

“Lihat, deh. Ada semut mati di rambutnya.” Bisik Tiffany.

Keningnya berkerut, “He?”

Tiffany menunjuk dengan sembunyi-sembunyi, “Itu. Lihat, ada sesuatu di rambutnya.”

“Euwh.” Tanpa sadar, Taeyeon menggerutu dengan keras, hingga si pelayan berambut keriting tadi menoleh, dan kembali menjatuhkan satu potongan ayam ketika hendak memasukannya ke dalam boks kertas.

“Aku lapar. Ada apa sih dengan si pelayan ini, lelet sekali.”

Taeyeon menoleh dan mendapati Tiffany tersenyum. Dia menggeleng. Taeyeon mengerti gestur itu. Tiffany tidak setuju dengan sikapnya. Taeyeon menghela napas dan kembali menunggu dengan kesal.

Akhirnya dua kotak makanan mereka selesai. Taeyeon membayar dan langsung menarik Tiffany pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Pelayanan seperti itu, masih pantaskan dia mendapat kata terima kasih darinya?

Mereka menghabiskan malam itu di taman dekat dari apartemen Taeyeon, mengunyah makanan cepat saji itu dengan perlahan sambil memandangi langit. Kegiatan favorit mereka beberapa minggu terakhir. Biasanya mereka lebih senang menghabiskan waktu di apartemen saja, menonton film dan memakan camilan bersama. Akhir-akhir ini Tiffany ingin sekali melihat bulan, jadi Taeyeon selalu mengajaknya makan di taman.

“Kau tidak kasihan, ya?”

“Pada siapa?”

“Si keriting tadi.”

“Kasihan bagaimana? Lelet begitu. Buang-buang waktuku saja.”

“Kacamatanya tebal begitu. Menurutmu kenapa dia menjatuhkan ayamnya dari tadi? Kurasa karena pengelihatannya kurang baik.”

“Kenapa juga restoran itu mempekerjakan pelayan seperti dia.”

“Perhatikan, deh. Badannya kurus banget, seperti jarang makan. Kurasa dia juga butuh pekerjaan itu. Uang untuk kehidupan sehari-harinya.”

“Bukan urusanku, deh. Kita pelanggan, seharusnya mendapat pelayanan yang cepat setidaknya. Namanya saja makanan cepat saji.”

Tiffany melempar kotak makanannya yang kosong ke tong sampah.

“Wah, masuk!”

Taeyeon tidak menanggapi kegirangan Tiffany, sudah terlanjur kesal karena percakapan barusan. Tiffany menyenggol tubuhnya dengan sisi bahu. “Marah?”

“Bukan padamu.” Gumamnya kesal.

“Iya, aku tahu. Tapi kau marah?”

Taeyeon menolehkan pandangannya ke arah lain. Enggan menatap Tiffany yang sedang menggodanya begitu.

Tiffany menyandarkan kepalanya di bahu Taeyeon dan menggamit tangannya. “Jangan marah, dong. Kau tidak ingat ya sekarang tanggal berapa?”

“26?”

“Lalu?”

Taeyeon merenung sejenak.

“Ah!” Dia menepuk kepalanya. “Aku lupa…”

Kali ini Taeyeon menoleh, mendapati Tiffany tersenyum menatap ke arah langit.

“Maaf, aku lupa… Ah, bodohnya. Aku tidak membelikanmu hadiah juga.”

Tiffany tertawa, “Aku juga tidak membelikanmu hadiah, sayang.”

“Aku berencana membelikan bunga untuk hari ini.”

“Please…” Tiffany memutar bola matanya, “Bunga itu akan teronggok begitu saja di sudut kamarku.”

“Tapi kan romantis.”

“Iya, tapi tidak berguna.” Tiffany merentangkan kedua tangannya dan memeluk Taeyeon dari samping. “Kau di sisiku seperti ini saja sudah cukup.”

Taeyeon tersenyum, seiring meluruhnya rasa kesal karena kejadian tadi. Dia mencium puncak kepala Tiffany dan membelai wajahnya dengan lembut.

“Happy three years anniversary, Tiffany-ssi.”

“Yeah, happy anniversary.”

Di atas sana, bulan bercahaya muram. Tidak selaras dengan suasana hati Taeyeon detik itu, tapi bukan masalah. Selama Tiffany ada di sisinya dan memeluknya seperti ini.

Xxx

20 Agustus 2016

Taeyeon mengarahkan pandangannya ke kiri dan ke kanan, mengikuti gerak telapak tangan di hadapan wajahnya.

“Akhirnya! Kau sadar juga.” Sooyoung menggelengkan kepalanya, “Apa sih yang kau pikirkan dari tadi? Pasti kau tidak mendengar ceritaku, ya?”

“He? Ah. Maafkan aku, Sooyoung-ssi. Aku…” Taeyeon mengangkat kedua alisnya, “…pikiranku tidak di sini tadi. Jadi bagaimana dengan Sunny dan yang lainnya?”

“Sunny? Oh my, ceritaku sudah bukan tentang Sunny dan yang lainnya itu sejak setengah jam yang lalu!”

“Oke, oke, maafkan aku. Sungguh.”

“Kau baik-baik saja, kan?”

Taeyeon tersenyum sinis. “Menurutmu?”

Kekesalan Sooyoung segera berubah menjadi rasa iba, dia menggenggam kedua tangan Taeyeon dan memandangnya lama, “Apa yang kau rasakan?”

“Aku bahkan tidak tahu.”

“Kau tahu, patah hati itu kadang…”

“Aku kehilangan diriku, Sooyoung.” Taeyeon memotong ucapan apapun yang hendak terlontar darinya. “Aku tidak bisa merasakan apapun sekarang. Aku menangis, tanpa tahu apa yang sebenarnya kurasakan.”

Mereka menghabiskan sore itu di kafe tempat Taeyeon bekerja, hari ini dia mendapat shift pagi. Maka dia menyempatkan waktu untuk menerima ajakan Sooyoung bertemu. Sudah lama sekali rasanya.

“Kenapa kau tidak pernah cerita padaku? Kau tahu, kita selalu siap mendengarkan curahanmu, Taeyeon-ssi?”

“Apa salahku?”

Taeyeon memandang gelas kopi di hadapannya yang masih belum tersentuh sama sekali. Dia tenggelam dalam kegundahannya sendiri, tidak sedikit pun menghiraukan hiburan Sooyoung.

“Perpisahan bukan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar.”

“Kenapa dia pergi kalau begitu? Apa salahku?”

“Kau tidak bisa mengaturnya Taeyeon. Ini bukan salahmu, kumohon dengarlah. Tidak ada yang salah di sini.”

“Aku tidak pernah menjadi pacar yang baik untuknya. Sedetik pun tidak pernah.”

“Tapi dia pernah bahagia bersamamu. Itu yang penting, itu yang seharusnya menjadi perhatianmu saat ini.”

Taeyeon pecah dalam tangisnya. Tubuhnya gemetar karena rasa sedih yang tiba-tiba menyapunya. Sejak Tiffany meninggalkannya, ini pertama kalinya Taeyeon bisa merasakan. Dia merasa sedih. Kesedihan yang seharusnya sudah dia rasakan sejak pertama kali dia sendirian.

Sooyoung beringsut mendekat dan memeluknya dengan sangat erat. Sooyoung tidak tahu bagaimana harus menghiburnya. Taeyeon tidak hanya rapuh, Sooyoung tahu dia hancur karena ditinggalkan, dan ironisnya, sebagai sahabat Taeyeon dan Tiffany, dia tidak bisa melakukan apapun untuk memperbaikinya.

“Kembalikan Tiffany padaku, Sooyoung-ssi. Aku ingin Tiffany kembali padaku.”

Sooyoung mengelus rambut Taeyeon berkali-kali, hingga tanpa disadari air mata menetes juga membasahi pipinya. Pelukannya semakin erat, “Maafkan aku, Taeyeon, tidak ada yang bisa kulakukan.”

Tidak ada yang bisa dia lakukan. Sooyoung juga yakin, perpisahan ini bukanlah kehendak Tiffany sama sekali.

Xxx

14 Febuari 2013

Detak jarum jam dinding itu terdengar jelas di telinganya. Setengah dua belas malam. Taeyeon memandang restoran yang mulai kosong, hanya ada dua pengunjung yang duduk santai di pojokan. Dari tadi beberapa pelayan bolak-balik melewati tempatnya, menanyakan Taeyeon apa yang ingin dipesan, apakah sudah selesai menghabiskan makannya, bisakah mereka memberikan bonnya sekarang. Intinya, restoran ini sudah waktunya tutup.

Taeyeon sudah duduk bergeming di situ tiga jam lamanya. Menunggu. Ponselnya mati karena kehabisan baterai. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu dan merasa kesal. Tiffany janji akan datang malam ini, maka dia menunggu.

“Maaf, kami sudah mau tutup.”

Taeyeon menatap pelayan itu dan meringis, “Ya, aku tahu. Hmn… Bolehkah aku menunggu sepuluh menit lagi? Temanku pasti akan datang.”

Pelayan itu menatap iba  ke arah Taeyeon, “Ya, tentu saja. Tidak apa jika kami sambil beres-beres, kan?”

“Tentu saja. Maafkan aku merepotkan kalian.”

Pelayan itu memberikan senyum terakhir dan berlalu pergi.

Taeyeon mengaitkan kedua tangannya, menatap segelas air dan seikat bunga mawar putih yang teronggok begitu saja di atas meja.

Tiffany tidak pernah suka bunga, Taeyeon tahu itu. Namun, bunga menurutnya sangat indah. Dia tidak tahu apa yang lebih cocok untuk perempuan secantik Tiffany selain bunga. Maka dia tidak pernah bosan membelikannya. Terutama untuk momen spesial seperti hari ini.

Dia membayangkan wajah Tiffany yang selalu tersenyum semringah ketika menerima bunga pemberiannya, meski Tiffany selalu bilang, bunga itu hadiah yang sia-sia. Taeyeon menunggu selama ini, agar dia bisa melihat senyum itu lagi.

Sepuluh menit berlalu, sudah waktunya Taeyeon menyerah dan pulang. Dia beranjak bangkit, membawa seikat bunga itu. Membuangnya ke tong sampah dalam perjalanan pulang.

Tiffany selalu melakukan ini. Membuatnya menunggu lama, meski Taeyeon tidak pernah menyerah menunggu.

Xxx

23 Agustus 2016

Tiffany tidak pernah datang malam itu.

Lucu, karena mereka saling mengecewakan.

Dia tertahan karena kantornya sedang mempersiapkan presentasi desain dan harus lembur hingga pagi hari. Dia sudah mengabari Taeyeon, namun tentu saja, Taeyeon tidak menerima kabar darinya. Hal-hal kecil, kekecewaan yang sederhana, ingkar janji yang tidak pernah menjadi masalah besar, ternyata seperti luka yang tidak pernah sembuh, dan pada masanya, bisa jadi menyakitkan.

Dia menyeret langkahnya menyusuri sisi jalan yang sering dilewatinya. Aspal yang lenggang dan tanpa noda. Sama sekali tidak mencerminkan apa yang pernah terjadi di sana. Langit malam ini sungguh cerah, bulan bercahaya manis sekali. Namun, Taeyeon membenci bulan, karena Tiffany sangat menyukainya. Bulan selalu mengingatkan Taeyeon akan hal itu.

Sejak pertemuannya dengan Sooyoung, perlahan Taeyeon mulai merasakan banyak hal. Kesedihan, kekecewaan, kemarahan, dan kehilangan.

Kehilangan.

Malam ini dia merasa kehilangan. Taeyeon menghentikan langkah kakinya dan duduk di tepi jalan. Dia kembali menangis sesenggukan. Patah hati seharusnya tidak semenyakitkan ini. Kehilangan seharusnya tidak sampai membuatnya ingin bunuh diri.

Mungkin itu rasanya menjadi yang ditinggalkan.

Ada banyak pertanyaan yang tidak dapat terjawab, ketakutan dia tidak pernah melakukan yang terbaik semasa mereka bersama, keinginan untuk bertemu lagi, dan kekecewaan yang tidak pernah bisa ditebus.

Orang yang berlalu lalang melewati jalan itu, sudah terbiasa melihat perempuan menangis sendirian di tepi jalan. Hampir setiap malam dia ada di sana. Siapa yang bisa menduga apa yang telah terjadi padanya. Kenapa di sini, kenapa selalu di tepi jalan yang sama.

Mungkin itu rasanya menjadi yang ditinggalkan.

Karena waktu tidak bisa diputar kembali, dan yang pergi tidak selalu ingin kembali.

Xxx

Malam perpisahan itu tidak berakhir baik.

Taeyeon tidak tahu apakah perpisahan dapat menjadi hal yang baik. Ada teriakan dan tangisan. Taeyeon yang menyebabkan itu semua.

Mereka saling mengecewakan satu sama lain.

Namun Taeyeon yang terakhir kali mengecewakannya, dan menjadi yang ditinggalkan selalu menyakitkan.

Malam itu, Taeyeon mengakhiri hubungan mereka. Dia berjalan pergi menjauh, bahkan ketika Tiffany berteriak meluapkan apa yang dirasakannya selama ini. Seharusnya Taeyeon dapat bersikap lebih dewasa daripada itu. Seharusnya dia berbalik dan menarik Tiffany ke dalam pelukannya.

Namun tidak. Taeyeon dikuasai oleh amarah dan kekecewaan.

Dia terus berjalan menjauh hingga suara Tiffany ditelan oleh kesunyian malam.

Pesan singkat terakhir yang dikirimkannya selalu dibaca oleh Taeyeon hampir setiap malam.

Aku mengecewakanmu. Maafkan aku karena itu. Aku tidak pernah datang tepat waktu dan sering mengingkari janji bertemu. Karena aku memiliki impian yang besar tentang kita, dan sekarang aku berusaha meraihnya. Aku akan meraih cita-citaku sama sepertimu yang akan meraih cita-citamu agar kita dapat bersama dan hidup dengan nyaman. Maafkan aku karena itu, dan jangan tinggalkan aku karena itu. Kalau bukan karena kita, aku tidak akan pulang larut setiap malam. Aku tidak pernah pergi dengan bosku berdua seperti dugaanmu. Kami harus lembur di kantor karena deadline semalam, jangan cemburu dan salah sangka.

Jangan marah lagi besok, ya. Aku akan ke tempatmu malam ini.

Malam itu, Taeyeon mengabaikan pesan singkatnya. Dia mematikan lampu, meredam rasa amarahnya dan berusaha untuk tidur. Melupakan Tiffany dan segalanya. Hal yang selalu terjadi setiap kali dia merasa marah.

Malam itu, Taeyeon tidak tahu kalau Tiffany benar-benar bergegas pergi ke apartemennya segera setelah dia mengirimkan pesan singkatnya.

Malam itu, Taeyeon tidak tahu apa yang telah terjadi.

Xxx

15 Januari 2016 – 00.14

Taeyeon mengumpat kesal karena dering telepon yang tidak berhenti. Baru setengah jam yang lalu dia berhasil memejamkan mata dan tidur nyenyak. Malah terganggu telepon oleh orang yang tidak dikenal. Dia menolak panggilan itu berkali-kali, namun teleponnya tidak berhenti berdering. Hingga akhirnya dia menyerah dan mengangkat telepon.

“Taeyeon! Shit! Kau harus ke sini sekarang! Sekarang, Taeyeon-ssi!”

Taeyeon menggumam kesal, “Ini siapa?”

“Ini aku Sooyoung! Aku lewat di dekat apartemenmu barusan. Ada kecelakaan. Tiffany…”

Taeyeon beranjak bangkit dari tempat tidurnya. Jantungnya berdegup kencang mendengar nama Tiffany di sebut-sebut. Dia tidak mendengar apa yang dikatakan Sooyoung selanjutnya, suaranya tidak lagi jelas. Hanya wajah Tiffany yang menangis karena kata-kata kasarnya beberapa jam yang lalu yang terlintas dalam benaknya. Dia tidak tahu apa yang terjadi.

Taeyeon langsung berlari. Menuju keramaian dan suara yang riuh.

Dia tidak benar-benar melihat, dia tidak benar-benar berpikir. Kakinya melemas, melihat tubuh yang tergeletak berdarah di atas jalanan yang biasanya sunyi.

Ambulans datang. Kejadian itu berkelebatan tanpa dia benar-benar sadar. Dia tidak merasakan apapun, ketika Sooyoung memeluknya sambil menangis. Dia tidak merasakan apapun.

Dia duduk di atas jalanan karena kaki yang lemas. Melihat tubuh Tiffany diangkat dan dimasukan ke dalam ambulans.

Itu adalah malam terakhir.

Pesan terakhir.

Pertengkaran terakhir di antara mereka.

Mereka saling mengecewakan, namun Taeyeon yang terakhir mengecewakannya sebelum kematian Tiffany.

Kecelakaan yang terjadi karena Tiffany berjalan sendirian menuju apartemennya dan tertabrak oleh supir yang mengantuk secara tidak sengaja.

Kejadian itu berlalu seperti film. Tidak nyata, namun terjadi.

Taeyeon memandang bulan yang seperti mengejeknya, dia menggantung dan bercahaya terang, bukan bulan yang muram seperti biasanya.

xxx

Taeyeon berusaha menjawab berbagai pertanyaan dalam benaknya. Berbagai kesalahan yang harus ditebusnya. Tindakan yang mengecewakan dan menyesalkan.

Malam itu, Tiffany membawa seikat bunga. Benda yang tidak pernah disukainya, namun dia tahu Taeyeon menyukainya. Mawar putih yang telah kotor oleh bercak darah.

Di sisi jalan yang sama, tepat dimana kejadian itu terjadi, selalu ada perempuan yang menangis sendirian setiap malam tanpa ada seorang pun yang tahu mengapa.

END

Advertisements

9 thoughts on “Every Inch

  1. Ia tuhan thor lama ajj baru update.. lah qo horror ajj thor.. sumpah sad banget di pisahkan oleh takdir

  2. Salam kenal thor,, menyedihkan mengingat kejadian kyk gini,, nyesel belakangan. Horor endnya,, mksh thor 🙂

  3. Thor kalo mau minta pw dimana sih, gue reader jadul tp smpe sekarang blm baca ff yg di pw, gak tau mau mintanya di mana 😦

  4. Halo thor salam kenal,emmm kirain taeny putus karna fanny nikah ternyata meninggal,jadi sesihhh nyesek gt yakkk

  5. Ini apa2kah??… Muncul2 dan bawa crita sad ending

    Seneng, akhirny author satu ini balik lagi…. Tapi harus gitu ya bwa crita sad begini….

    Weellll brasa akward gitu spam lagi di wpnya orang…. Ff prtma ditahun ini yg gue baca stelah 4 tahunan ga pernah baca2 lagi 😂😂😂

    Akan ada lanjutannya lagikah thor..?? Ditunggu ff yg lain2nya lagiii

    Welcome roti…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s