Every Inch

Every Inch - Cover

Setiap inci, setiap sentuhan jari, setiap langkah kaki. Ada Tiffany di sana. Ada kenangan mereka, kebahagiaan mereka, memori yang dirajut bersama.

Continue reading

Advertisements

Ghost – 2

Hari ke-empat, dua hari yang lalu. Taeyeon menggenggam cutter dengan tangan yang gemetar. Dia membalikkan lengannya, menunjukkan pergelangan tangan dengan bilur urat nadi yang berwarna hijau kebiruan. Jika dia memotong ini dengan cukup dalam, harus cukup dalam, dia bisa mati kehabisan darah. Apakah ini akan menyakitkan? Continue reading

Ghost – 1

Taeyeon berada pada titik terpuruk dalam hidupnya. Depresi. Mati terasa lebih menjanjikan daripada kehidupan. Lalu Mi Young datang, perlahan membuat Taeyeon melihat harapan yang sebenarnya selalu ada.

“Apa yang kau cintai darinya? Wajahnya? Tubuh seksinya? Kepintaran otaknya? Atau… sesederhana jiwanya?”
Continue reading

It’s Mean to Be (part 5)

Summary: Ketika bibir mereka menyatu, sedikit celah dalam hati kecil Jessica dapat merasakan kasih sayang itu merasuk dengan begitu perlahan. Wajah Yuri yang selalu dirindukannya. Bukan Taeyeon, meski berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam dirinya, mungkinkah dia berhasil menutup seluruh pintu hatinya bagi Taeyeon, dan memberi ruang baru untuk Yuri yang selalu memeluknya.

“…apapun yang terjadi, aku akan ada di sini. Menghapus air matamu, sesuatu yang tidak Taeyeon lakukan.” Continue reading

It’s Mean to Be (part 4)

Summary: Jessica tidak pernah mencintai Yuri. Hanya satu kalimat itu yang terus terngiang di dalam otaknya. Dia membenci Yuri hingga merasa begitu marah hanya dengan membayangkan wajahnya. Yuri, menyadari kenyataan itu, kini telah memikirkan rencana-rencana baru yang mungkin akan meredakan segalanya, membuat Jessica belajar membuka sedikit hatinya.

 “Kau mau belajar untuk mencintaiku, dan aku akan mengelilingi dunia bersamamu.” Continue reading

Melodi Mimpi

Aku mendekat padanya. Duduk tepat di sisinya, matanya menerawang. Menjauh, menembus kedalaman atmosfir bumi. Berkelana hingga ke tempat yang tidak pernah kukenal namanya. Dia merenung, tidak berucap sepatah katapun.

Hingga ketika aku menggenggam tangannya.

Dalam sentuhan yang nyata. Kelembutan yang sejuk, meski terlalu dingin dan rapuh. Getaran yang sama. Aku lupa…

Ada kehidupan dalam tangan mungilnya. Yang tidak pernah kurasakan dalam mimpiku. Continue reading